<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6791496379964808480</id><updated>2011-09-16T23:56:12.444-07:00</updated><category term='My Travelling Time'/><category term='From Someone'/><category term='Syair Cinta Putra Pelacur'/><category term='My Dream Journey'/><category term='My Articles'/><category term='The Historical Places of Indonesia'/><category term='My Family'/><category term='My Short Stories'/><category term='Gibran Wall'/><category term='My Journey'/><category term='My Poetries'/><title type='text'>JouRNey of mY Life</title><subtitle type='html'>Life is so short, never thinking tonight we sleep n maybe tomoorrow everything has gone...just throw so many love for other, and people will give more respect.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Historical Legend</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701636558006735668</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>37</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6791496379964808480.post-8411572360368858315</id><published>2011-09-09T23:46:00.000-07:00</published><updated>2011-09-09T23:47:32.547-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syair Cinta Putra Pelacur'/><title type='text'>Angelina</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;P&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;ernah Angelina bersama-sama jemaah lain singgah di kebun menyenangkan milik Kaylila dulu, sang pelacur, yang telah dihadiahkan pada para yatim dan piatu. Dia mendengarkan pembicaraan tentang seorang pengayuh rakit tua yang tinggal di tepi sungai, satu hari perjalanan jauhnya. Banyak orang mengatakan orang tua itu adalah seorang filsuf. Ketika Angelina berjalan, dia memilih jalan menuju sungai itu, begitu inginnya dia melihat sang pengayuh rakit itu, karena meskipun dirinya telah memilih untuk menjalani kehidupan sesuai aturan dan juga dipandang terhormat oleh para santri muda karena usia dan kerendahan hatinya, tetap masih terdapat ketidaktenangan dalam hatinya dan segala bentuk pencariannya tidak memuaskan hatinya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dia tiba di sungai dan meminta kepada orang tua itu untuk menyeberangkannya. Ketika mereka sampai di tepi yang lain dan keluar dari rakit, Angelina berkata kepada orang tua itu. “Anda banyak memperlihatkan kebaikan kepada para penumpang dan orang yang melewati tempat ini. anda telah banyak menyeberangkan orang-orang suci dan baik. Bukankah anda juga seorang pencari jalan kebenaran.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Senyum mengembang dalam mata tua Christian ketika dia berkata, “Anda menyebut diri anda seorang pencari, hai orang yang pantas dihormati? Anda yang telah lanjut usia dan berbalut pakaian kehormatan?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Benar saya ini tua.” Kata Angelina. “Tetapi, saya tidak pernah berhenti mencari. Sepertinya begitulah nasib saya. Menurut penglihatan saya, anda pun telah mencari. Maukah anda menceeritakan sedikit tentang hal ini, saudaraku?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian berkata. “Apa yang bisa saya katakan untuk anda dan akan berharga, kecuali mungkin saja anda telah mencari terlalu banyak, dan sebagai hasilnya, anda tidak menemukan.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Bagaimana yang anda maksud?” Tanya Angelina.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Bila seseorang sedang mencari,” Jawab Christian, “Terjadi dengan sangat mudahnya bahwa dia hanya akan melihat hal yang sedang dia cari; bahwa dia tidak dapat memperoleh sesuatu, tidak dapat menyerap sesuatu, karena dia hanya memikirkan hal yang sedang dia cari, karena dia mempunyai tujuan, dan dia dihantui oleh tujuannya. Mencari berarti memiliki tujuan, tetapi menemukan berarti menjadi bebas, menjadi mau menerima, menjadi tidak mempunyai tujuan. Anda seorang yang terhormat, barangkali benar seorang pencari, karena dalam berusaha keras mencapai tujuan anda, anda seringkali tidak melihat banyak hal yang ada di bawah hidung anda.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Saya masih belum mengerti.” Kata Angelina. “Bagaimana maksud anda?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian berkata. “Dulu, seorang yang terhormat, bertahun-tahun yang lalu, datang ke sungai ini dan menjumpai seorang pria sedang tidur di sana.” Tangannya menunjuk dengan gemulai pada sebatang pohon. “Orang itu duduk di sisinya dan menjaganya ketika dia sedang tertidur, tetapi orang itu tidak mengenali orang yang sedang tidur itu, Angelina.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Terheran-heran dan seperti orang yang terpesona, wanita itu memandang sang pengayuh.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Apakah anda, Christian?” Tanya Angelina dengan suara malu-malu. “Aku tidak mengenal engkau sekarang ini juga. Aku sangat senang melihat engkau lagi, Christian, sangat senang. Engkau telah banyak berubah, sahabatku. Dan, sudahkah engkau menjadi seorang pengayuh sekarang?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian tertawa hangat. “Ya, aku sudah menjadi seorang pengayuh. Banyak orang telah banyak berubah dan mengenakan berbagai macam pakaian. Aku salah satu dari mereka, sahabatku. Selamat datang, Angelina, dan aku mengundangmu untuk bermalam di gubukku.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Angelina bermalam di gubuk itu dan tidur di tempat tidur yang dulu digunakan Ahmad. Dia banyak bertanya kepada teman masa mudanya, dan Christian banyak sekali menuturkan perihal kehidupannya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ketika tiba waktunya bagi Angelina untuk berangkat pada keesokan harinya, dia berkata dengan agak ragu-ragu. “Sebelum aku melanjutkan perjalananku, Christian, aku ingin menanyakan satu pertanyaan lagi kepadamu. Apakah engkau mempunyai ajaran keyakinan atau pengetahuan yang engkau junjung tinggi, yang membantu engkau untuk hidup dan berbuat benar? Atau, mungkin engkau berkehendak untuk mengikutiku menjadi muslim dan memeluk Islam. Namaku kini adalah Aisyah.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian tersenyum dengan lembut. “Engkau tahu, sahabatku, bahwa sebagai orang muda sekalipun, ketika kita hidup bersama dengan para musafir, aku tidak mempercayai ajaran dan guru, dan aku berpaling dari ajaran guru-guru itu. Aku masih terus memiliki pikiran yang bertolak belakang, meskipun sejak waktu itu aku telah memiliki banyak guru. Lama sekali seorang pelacur yang cantik menjadi guruku, seperti halnya seorang pedagang dan juga pemain dadu. Pada satu kesempatan seorang muslim yang berjalan juga adalah guruku. Dia dalam perjalanannya, berhenti dan duduk di sisiku ketika aku tertidur di tepi sungai. Aku juga belajar sesuatu dari dirinya dan aku sangat berterima kasih kepadanya. Tetapi dari semua itu, aku telah belajar dari sungai ini dan dari pendahuluku, Ahmad. Dia seorang yang sederhana, dia bukanlah pemikir, tetapi dia menyadari sifat-sifat dasar sebaik Kyai Bahdarudin Syamawi. Bagiku dia adalah seorang yang suci.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Aisyah berkata. “Kelihatannya, Christian, engkau masih suka berolok-olok sedikit. Aku percaya dan yakin bahwa engkau tidak mengikuti guru siapa pun, tetapi seandainya bukan suatu ajaran atau pikiran-pikiran tertentu, bukankah itu berarti anda mengikuti diri anda sendiri? Bukankah berarti engkau telah menemukan pengetahuan-pengetahuan tertentu? Aku akan sangat senang seandainya engkau mau mengatakan sesuatu tentang hal ini.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian menjawab. “Mengapa keyakinan yang engkau pegang dinamakan Islam? Sama halnya dengan Kristen, Budha, Hindu ataupun Paganisme. Itu hanyalah bentuk-bentuk penamaan dari suatu kepercayaan. Apakah inti dari seluruh kepercayaan itu? Menyadari hakikat manusia sebagai hamba dan adanya Tuhan sebagai pencipta. Sama halnya dengan engkau Angelina. Apa yang berubah ketika engkau menjadi Aisyah? Apakah tertulis dalam firman-firman Tuhanmu, atau dalam hukum-hukum agamamu yang melarang engkau menjadi muslim dengan nama Angelina? Apa yang engkau cari dengan menjadi seorang muslim? Apa yang engkau dapatkan setelah menjadi seorang muslim? Hingga hari ini engkau yang masih terus gelisah dan merasa belum menemukan yang engkau cari, sahabatku. Ya, aku telah memiliki pikiran-pikiran dan pengetahuan. Terkadang selama satu jam atau satu hari, aku telah menerima sebentuk pengetahuan, sama seperti halnya orang yang merasakan hidup dengan hatinya. Aku telah memiliki banyak sekali pemikiran, tetapi akan sulit bagiku menuturkan kepadamu tentang pikiran-pikiran itu. Tetapi, inilah salah satu pikiran yang mengesankanku, Aisyah. Kebijaksanaan tidaklah dapat dikomunikasikan. Kebijaksanaan yang oleh orang bijak berusaha untuk dikomunikasikan selalu kedengaran tolol.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Apakah engkau sedang menghinaku, Christian?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Tidak. Aku mengatakan apa yang aku ketahui. Pengetahuan dapat dikomunikasikan, tetapi tidak sama halnya dengan kebijaksanaan. Seseorang dapat menemukan, hidup dengannya, dibentengi olehnya, dan melakukan pikiran-pikiran indah dengannya, tetapi mereka tidak dapat mengkomunikasikan dan mengajarkannya. Aku yang telah mencurigai hal ini ketika aku masih muda, mendorong diriku untuk meninggalkan guru-guru itu. Ada satu pikiran yang aku miliki, Aisyah, yang akan engkau anggap sebagai olokan atau ketololan; yakni di dalam setiap kebenaran, lawannya adalah kebenaran yang sama. Misalnya, sebuah kebenaran hanya akan dapat dibungkus dan dinyatakan dalam kata-kata seandainya kebenaran itu hanya satu sisi. Sesuatu yang hanya dipikirkan dan dinyatakan dalam kata-kata adalah satu sisi, hanya setengah kebenaran saja; kebenaran itu sendiri menjadi kekurangan keseluruhan, kelengkapan, kesatuan. Bagaimana dengan Kyai Bhadarudin Syamawi, atau Rasul yang engkau kenal dengan nama Muhammad, mereka juga pasti mengalami kesengsaraan dan keadaan terburuk, menyelam ke dalam bentuk-bentukan kebenaran, mengetahui pendeeritaan sehingga mengerti keselamatan. Orang tidak dapat berbuat sebaliknya, karena memang tidak ada metode lainnya untuk mengajar. Tetapi, dunia itu sendiri tidak pernah menjadi satu sisi, karena tidak pernah sepenuhnya seseorang mengalami penderitaan atau sepenuhnya kebahagiaan. Tidak pernah seseorang itu sepenuhnya suci dan sepenuhnya pendosa. Hanya kelihatannya saja seperti itu, karena kita telah menderita oleh khayalan yang menganggap waktu itu adalah nyata. Waktu itu tidaklah nyata, Aisyah. Waktu itu adalah saat ini bukan kemarin atau nanti. Waktu itu tidak nyata, Aisyah. Aku telah menyadarinya berulang kali. Dan jika waktu itu tidaklah nyata, maka garis pemisah yang tampaknya terbentang antara dunia ini dan keabadian, antara penderitaan dan kebahagiaan, atau di antara baik dan jahat, juga tidaklah nyata.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Bagaimanakah itu?” Tanya Aisyah penuh kebingungan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Dengarlah, sahabatku. Apakah engkau menjadi baik jika engkau berbuat baik kemarin, lalu hari ini mati saat menjadi pendosa? Apakah engkau menjadi jahat jika engkau sekarang berbuat baik, lalu kemudian mati, padahal engkau berencana membunuh nanti?” Tanya Christian, lalu meneruskan tanpa menunggu jawaban sahabatnya. “Aku adalah orang berdosa, dan engkau pun orang berdosa. Tetapi suatu hari orang berdosa ini bisa menjadi orang suci lagi, suatu hari akan masuk surga, suatu hari akan menjadi penghuni Surga bersama para malaikat. Sekarang, “suatu hari” itu adalah khayalan; karena itu hanya sebuah perbandingan. Sang pendosa tidak sedang berada pada jalan yang berlimpah cahaya Tuhan, dia tidak sedang berusaha bertobat, meskipun sebenarnya pikiran kita tidak dapat memahami hal-hal sebaliknya. Tidak! Tuhan telah ada dalam diri setiap manusia, telah ada dalam diri para pendosa, masa depannya telah ada di sana. Tuhan yang berada dalam diri itu harus dikenali, dalam dirimu, dalam setiap orang. Dunia ini bukanlah tidak sempurna, atau sedang berjalan secara bertahap menuju kesempurnaan. Tidak! Dunia ini sempurna di setiap saatnya, dan setiap dosa telah membentuk keanggunan di dalamnya. Bagaimana engkau akan mempelajari sesuatu itu baik dan berlimpah pahala, jika tidak ada bentukan dosa yang akan menggugurkannya. Semua anak akan mempunyai potensi menjadi orang tua, semua orang sekarat atau pun sehat memiliki kematian di dalam diri mereka. Tidaklah memungkinkan bagi satu orang untuk melihat berapa jauh orang lain telah berjalan. Tuhan ada dalam setiap orang, ada dalam orang suci, dalam diri perampok, penjudi. Dalam hati setiap diri, selama meyakini dengan sungguh-sungguh, manusia akan dapat menghalau waktu, melihat segala kesalahan dan kebaikan masa lalu secara serentak, dan bagaimana menjadikan segala sesuatu menjadi lebih baik, segala sesuatu menjadi lebih sempurna, dan segala sesuatu berdasarkan cinta pada Tuhan. Aku yang telah belajar melalui tubuhku dan jiwaku, bahwa dosa yang telah kuperbuat, melalui air pahit, perjudian dan segala bentuk percabulan. Aku yang telah berusaha keras untuk mendapatkan kekayaan, dan mengalami kemuakan dan keuputusasaan luar biasa supaya dapat belajar untuk dapat melawan semua itu, supaya aku dapat belajar mencintai Tuhan dan tidak lagi tenggelam dalam dunia khayalan. Tidak sekedar sedikit membayangkannya, tetapi meninggalkannya seperti apa adanya. Tidak merubahnya dan membiarkannya berlalu, karena itu adalah bentukan dari hidup yang tidak akan kekal. Sesuatu yang diciptakan akan binasa. Semua yang ada di dunia ini adalah ciptaan. Mencintai sesuatu yang ada di dunia secara berlebihan akan berakhir dengan kebinasaan. Aisyah, itu semua adalah beberapa gagasan yang ada di dalam benakku.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian membungkuk, mengambil sebuah batu dari tanah dan menggenggamnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Ini.” Katanya dengan menggenggam batu itu. “Adalah sebutir batu, dalam waktu tertentu, batu ini mungkin akan menjadi tanah, dan dari tanah akan menjadi tanaman. Sebelumnya aku akan mengatakan bahwa batu ini adalah batu, hanyalah batu. Batu ini tidak berharga, batu ini adalah milik dunia ketidakabadian, tetapi karena dalam waktu batu ini dapat menjadi sesuatu yang lain, hal itu menjadi penting. Itulah yang seharusnya dipikirkan. Tetapi, sekarang cobalah berpikir seperti ini; batu adalah batu, batu juga adalah tanaman. Batu adalah satu benda yang akan menjadi sesuatu yang lain, hingga suatu saat batu akan menjadi sesuatu dan selalu adalah sesuatu. Aku tidak mencintainya dan aku tidak menghormatinya. Aku hanyalah sekedar menyukainya, karena hari ini dan sekarang batu itu muncul di depanku hanya sebagai batu, dan jika suatu hari kelak dia berubah, belum menjadi suatu kepastian aku akan menyukainya. Aku hanya melihat nilai dan arti di dalam tiap-tiap benda, dari tanda-tandanya dan rongganya yang bagus, kuning, biru, abu-abu, kekerasan atau pun kelembutan permukaannya. Ada banyak benda yang terasa lembut atau pun kasar, yang terasa seperti pasir ataupun daun, dan setiap benda itu akan terus bertasbih untuk Tuhan. Namun, pada waktu yang sama, batu tetaplah batu, meskipun ia akan terasa seperti pasir atau pun daun, itulah yang terasa menyenangkan diri dan tampaknya indah dan berharga untuk dipuja. Cukup, aku tidak akan mengatakan apa-apa lagi tentang batu. Kata-kata sepenuhnya tidak akan dapat menggambarkan pikiran dengan baik. Kata-kata itu selalu mejadi sedikit berbeda segera setelah dinyatakan, menjadi sedikit berubah, sedikit bodoh. Dan, itulah yang menjadi sifat setiap benda di dunia, sesuatu yang menyenangkan hatiku, sesuatu yang terlihat berharga dan bijaksana bagiku, bisa saja menjadi omong kosong bagi orang lain.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Aisyah mendengarkan dengan diam.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Mengapa engkau menuturkan tentang batu pada diriku?” Tanya Aisyah dengan ragu-ragu setelah beberapa saat.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Aku menuturkannya begitu saja, tanpa disengaja. Lihatlah bagaimana setiap orang begitu mencintai batu, sungai dan benda-benda yang terlihat. Aku dapat mencintai batu, Aisyah, dan juga sebatang pohon atau seorang wanita. Semua itu adalah benda, Aisyah, dan orang-orang selalu mencintai benda-benda. Tetapi orang tidak dapat mencintai sesuatu yang tidak terlihat. Sesuatu yang tidak terlihat itu tidak memiliki apa-apa selain kata-kata. Dan, orang-orang tidak bisa mencintai kata-kata dengan sepenuh hati. Kata-kata tidak memiliki kekerasan, tidak memiliki kelembutan, tidak memiliki warna, tidak memiliki sudut, tidak berasa dan tidak berbau. Itulah yang menghalangi dirimu dari menemukan kedamaian, seperti engkau memahami ajaran Tuhan hanya melalui kata-kata. Terlalu banyak kata dalam benakmu, sehingga menghalangi dirimu dari menemukan Tuhan dalam dirimu. Tuhan dan kedamaian adalah bentuk dari kata-kata bagimu Aisyah. Surga bukanlah benda. Hanya ada kata Surga.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Aisyah membantah, “Surga bukan hanya kata, sahabatku. Surga adalah sebuah kenyataan.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian melanjutkan, “Mungkin itu merupakan kenyataan, tetapi bagaimana engkau membuktikan kenyataan jika hanya dari kata-kata? Secara jujur, engkau tidak bisa mengikat diri pada kepentingan kenyataan itu. Engkau akan lebih bisa menyatakan kenyataan pada apa yang engkau lihat daripada yang engkau dengar. Misalnya engkau mendengar ada seorang pengayuh rakit tua di sungai ini, yang katanya bijaksana dan arif. Lalu, engkau mendengar ada seorang nabi di atas langit yang akan menyelamatkan dirimu dari siksaan neraka. Manakah yang akan engkau percayai?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian melihat wajah Aisyah yang berpikir, lalu melanjutkan. “Ada seorang pria yang dulu menjadi guruku. Seorang pengayuh rakit yang begitu bijaksana. Dia yang belajar dari sungai, mendengarkan suara sungai yang berbicara kepadanya. Baginya sungai adalah guru baginya, dan selama itu dia tidak mengetahui bahwa setiap angin, setiap awan, setiap burung, sama hebatnya dan mengetahui dan bisa mengajarkannya seperti sungai. Tetapi, sesungguhnya saat dirinya menutup matanya dengan tenang, aku menyadari sepenuhnya bahwa dirinya telah mengetahui lebih banyak hal dari diriku mau pun dirimu, tanpa guru, tanpa buku, hanya karena dia yakin Tuhan telah memberikan ajaran terbaik baginya melalui sungai.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Aisyah berkata, “Tetapi apakah yang engkau sebut benda itu sesuatu yang nyata, sesuatu yang hakiki? Itu bukanlah bayangan maya, hanya citra dan penampilan? Batumu, pohonmu, apakah semua itu nyata?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Itu juga tidak menyusahkan diriku.” Jawab Christian. “Jika semua itu hanyalah bayangan, lalu aku pun adalah bayangan. Semua itu akan selalu bersifat sama dengan diriku. Itulah yang membuat diriku hanya akan menyukainya. Sesuatu yang tidak pantas untuk begitu dicintai atau pun dimuliakan. Dan itulah pemahaman yang seharusnya tidak ditertawakan. Terlihat dalam di mataku, Aisyah, bahwa cinta adalah hal terpenting di dunia ini. cinta yang bagi kebanyakan orang hanya menjadi alat penguji, untuk menerangkan dan menghinakan. Yang terpenting adalah bentuk pemahamannnya untuk bisa menghargai segala kehidupan di dunia dan kita sendiri, dan semua makhluk dan benda dengan cinta, dan hormat.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Aku mengerti itu. “ Kata Aisyah. “Tetapi, itulah yang dikatakan oleh Kyai Bahdarudin Syamawi sebagai bayangan. Dia mengajarkan tentang kebajikan, cara menahan nafsu, simpati dan kesabaran, tetapi bukan cinta.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Aku tahu hal itu, Aisyah.” Kata Christian dengan senyum berseri-seri dan hangat. “Aku tahu itu, dan di sini kita telah menemukan diri kita berada dalam jaringan makna yang terlilit rumit, berada dalam pertikaian kata-kata, karena aku tidak akan menolak bahwa kata-kataku tentang cinta dalam kontradiksi yang nyata terhadap ajaran Kyai Bhadarudin Syamawi. Itulah yang menjadi sebab aku tidak terlalu banyak mempercayai kata-kata bahwa kontradiksi ini adalah sebuah bayangan. Aku tahu pada suatu kali aku bersama Kyai Bahdarudin Syamawi. Tentu saja, bagaimana dia tidak akan mengatakan tentang cinta, dia yang telah mengenal segala kesia-siaan manusia dan kefanaannya. Manusia yang begitu mencintai manusia dan kebendaan karena Tuhan hingga mengabdikan seluruh hayatnya semata-mata untuk kecintaannya itu. Bersama guru besar ini, engkau lebih melihat kata-kata ketimbang apa yang diperbuatnya. Bagiku, perbuatan dan kehidupannya lebih penting daripada segala ucapannya. Gerakannya lebih penting bagiku ketimbang pendapat-pendapatnya. Aku tidak melihatnya sebagai orang besar melalui pembicaraan maupun pemikirannya, tetapi dalam perbuatan dan hidupnya.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dua orang itu terdiam cukup lama. Kemudian ketika Aisyah bersiap-siap untuk pergi, ia berkata. “Terima kasih Christian, atas penuturanmu tentang sesuatu yang terkandung dalam pikiran-pikiranmu. Beberapa di antaranya merupakan pikiran-pikiran baru. Aku tidak dapat menangkap gagasan itu dengan segera, namun aku berterima kasih, dan kudoakan semoga engkau lewatkan hari-hari penuh damai.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Namun, dalam batinya yang terdalam dia berpikir, Christian adalah orang aneh, dan menyatakan pikiran-pikiran aneh. Gagasan-gagasannya rasanya gila. Betapa bedanya dengan yang telah diajarkan oleh Kyai Bahdarudin Syamawi; ajaran-ajaran yang jelas, terus terang, dapat dipahami, ajaran-ajaran yang tidak mengandung sesuatu yang aneh, liar dan dapat ditertawakan. Tetapi, tangan dan kaki Christian, matanya, alisnya, napasnya, senyumnya, hormatnya, dan gaya berjalannya berbeda dengan dampak dari pemahaman pikiran-pikirannya. Sejak meninggalnya Kyai Bahdarudin Syamawi, belum pernah aku bertemu dengan yang memiliki kekecualian seperti Christian. Inilah orang suci. Gagasan-gagasannya boleh saja terdengar aneh, kata-katanya boleh saja terdengar tolol, tetapi pandangan dan tangannya, kulit dan rambutnya, semua memancarkan kelembutan dan kesucian yang murni, damai dan tenang yang belum pernah kulihat pada orang lain semenjak kematian guru yang terkenal itu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ketika Aisyah sedang memikirkan hal itu, timbul konflik dalam hatinya. Dia membungkuk kembali pada Christian, penuh kecintaan kepadanya. Dia membungkuk rendah sekali di depan pria yang duduk dengan tenangnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Christian.” Katanya. “Kini kita adalah orang-orang tua. Mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi dalam hidup ini. aku dapat melihat, sahabatku terkasih, bahwa engkau telah menemukan kedamaian. Aku sadar belum menemukannya. Katakan sepatah kata lagi padaku, temanku yang mulia, katakan sesuatu yang bisa kupahami, sesuatu yang dapat kumengerti. Berilah aku sesuatu untuk menolongku meneruskan perjalanan ini, Christian. Jalanku sering terasa gelap dan keras.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian melihatnya dan tersenyum.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Tunduklah di dekatku.” Dia berbisik pada Aisyah. “Mari, lebih dekatlah, lebih dekat lagi. Tataplah dalam-dalam mataku, Aisyah.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Meskipun terperanjat, Aisyah didorong oleh cinta dan firasat yang besar untuk mengikutinya. Dia menunduk dekat sekali kepadanya dan menatap dalam kedua mata Christian. Ketika dia melakukannya, sesuatu yang indah terjadi padanya. Selagi dia masih merasa bingung dengan kata-kata Christian yang aneh itu, selagi dia berusaha keras tetapi sia-sia untuk menghalau gambaran waktu, untuk membayangkan tentang menyatukan kebahagiaan dan kesengsaraan, sesuatu bergejolak dalam dirinya terhadap kata-kata sahabatnya dengan cinta yang sangat besar dan penghargaan kepadanya, semua hal ini terjadi padanya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dia tidak lagi melihat wajah Christian. Sebaliknya dia melihat wajah-wajah lain, banyak wajah, suatu rangkaian panjang, suatu aliran wajah terus-menerus – ratusan, ribuan, kesemuanya datang dan menghilang dan semuanya terlihat berbeda pada saat yang bersamaan. Semuanya berubah secara terus-menerus, dan kesemuanya adalah satu. Dia melihat wajah bayi yang baru lahir, merah dan penuh dengan kerut merut, siap untuk menangis. Dia melihat tubuh-tubuh telanjang wanita dan seorang pria dalam posisi yang menggairahkan. Dia melihat dirinya dan pria. Dia melihat semua bentuk dan wajah itu saling mengait dalam seribu hubungan, semua saling mencinta, membenci, dan saling menghancurkan. Masing-masing adalah makhluk hidup, dan bernafsu. Contoh yang menyakitkan dari semua kefanaan. Tidak ada rasa dan kebijaksanaan. Mereka semua berubah, terus-menerus menjadi wajah baru. Hanya waktu saja berdiri di antara satu wajah dan wajah lainnya. Dan, semua wajah serta bentuk ini beristirahat, mengalir, merenangi masa lalu dan melebur satu dengan lainnya. Di atas mereka semua ada sesuatu yang secara terus-menerus kurus, tidak nyata namun ada, terbentang seperti kaca atau es, seperti kulit yang tembus pandang, seperti bentuk topeng air, dan topeng itu adalah wajah tersenyum Christian yang dilihat dalam mata Christian. Dan, Aisyah melihat senyum seperti topeng itu, senyum kesatuan atas bentuk-bentuk yang mengalir, senyum kesatuan di atas ribuan kelahiran dan kematian, senyum milik Christian, benar-benar terlihat sama seperti senyum Kyai Bahdarudin Syamawi yang tenang dan lembut. Yang tidak dapat ditelusuri. Bijaksana, dan lipat seribu. Seakan dia merasakannya dengan perasaan terpesona ribuan kali.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dalam sikap itulah Aisyah menyadari, bahwa sahabat terkasihnya tidak lagi mengetahui apakah waktu itu ada. Ada keinginan yang kuat mendorongnya lebih mendekat, keinginannya untuk merasakan senyuman sahabatnya dengan bibirnya. Dirinya terlukai dalam-dalam oleh panah ketuhanan yang memberikan kesenangan padanya, terpesona dalam-dalam. Dia merasa sahabatnya telah dimuliakan, kesadaran akan hal ini membuatnya mengurungkan niat dan memundurkan dirinya. Aisyah berdiri sejenak dan membungkuk di hadapan wajah Christian yang damai, yang baru saja terlihat seperti panggung semua bentuk masa lalu dan masa kini. Wajahnya tidak berubah sesudah kaca seribu bentuk itu lenyap dari permukaan. Dengan damai dan lembut dia tersenyum, mungkin dengan sangat ramah, persis seperti senyum yang telah menemukan penerangan sempurna dalam dirinya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Aisyah membungkuk rendah sekali. Air mata yang tidak dapat dikuasainya bergulir di wajah tuanya. Dia dikuasai oleh perasaan cinta agung, pemujaan yang paling sederhana. Dia rendah membungkuk, tepat di atas tanah, hingga bersujud, di depan pria yang sedang duduk tanpa bergerak, yang senyumannya mengingatkannya pada segala sesuatua yang pernah dia cintai dalam hidupnya, pada segala sesuatu yang sangat berharga dan suci di dalam hidupnya. Hingga pada kesadaran terdalamnya bahwa selama ini dia hanya mencari makna kedamaian, hingga dia melupakan tentang Tuhan yang selalu bersama dirinya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Rumah kontrakan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;11 Mei 2009, 23:30 WIB&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Alhamdulillah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;Syair Cinta Putra Pelacur&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt; Roby Syahputra&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6791496379964808480-8411572360368858315?l=www.robbysyahputra.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/feeds/8411572360368858315/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2011/09/angelina.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/8411572360368858315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/8411572360368858315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2011/09/angelina.html' title='Angelina'/><author><name>Historical Legend</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701636558006735668</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6791496379964808480.post-1390938856088573788</id><published>2011-09-09T23:45:00.000-07:00</published><updated>2011-09-09T23:46:04.894-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syair Cinta Putra Pelacur'/><title type='text'>Bersatu Bersama Tuhan</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;L&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;ama luka itu terasa nyeri. Christian menyeberangkan banyak orang. Mereka memiliki anak lelaki atau anak perempuan, dan dirinya tidak dapat melihat mereka tanpa merasakan cemburu, hingga terkadang dirinya berpikir; ada banyak orang yang memiliki kebahagiaan yang sangat besar, mengapa aku tidak? Bahkan seorang yang jahat, pencuri, dan perampok mempunya anak, mencintai anak-anak itu dan dicintai oleh anak-anak itu, kecuali aku. Dengan begitu kekanak-kanakan alasan yang tidak logis telah tercetus dari benaknya, dia yang telah memiliki demikian banyak kemiripan dengan orang kebanyakan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kini dia memandang orang dalam sudut cahaya yang berbeda dibandingkan sebelumnya. Dia yang menjadi tidak sangat pintar, tidak sangat bangga; dan disebabkan hal itu dia terus menjadi lebih hangat, lebih ingin tahu, dan lebih simpatik.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saat waktu berlalu, dia tidak lagi melihat orang-orang yang diseberangkannya sebagai sesuatu yang asing seperti sebelumnya. Dia yang tidak lagi sekedar membagi pikiran dan pandangan dengan mereka, tetapi dia lebih banyak berbagi dorongan dan hasrat hidup.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Meskipun dirinya telah mencapai tingkatan tinggi akan pengendalian diri, dan telah menghadapi luka terakhirnya dengan baik, namun dirinya kini lebih bisa menganggap orang-orang yang ditemuinya sebagai saudara. Kesombongan, keinginan dan keremehan mereka tidak lagi menjadi hal aneh baginya, itu semua menjadi bentuk dasar dari orang-orang. Sifat-sifat itu lebih bisa dimengerti olehnya, dapat dipahami dan dicintainya, dan bahkan patut dihormati. Baginya sifat-sifat itu akan membawa seseorang dalam bentukan yang lebih baik, sebagaimana seseorang mengendalikannya dengan segala keinginan baiknya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ada cinta buta seorang ibu terhadap anaknya, kebanggaan bodoh seorang ayah yang memuja anak lelaki satu-satunya, atau usaha-usaha keras penuh keinginan seorang wanita yang membuta dan sia-sia kepada perhiasan dan pria yang dikagumi. Semua kebodohan-kebodohan sederhana yang kecil – tetapi merupakan dorongan dan hasrat penuh gairah, hidup dan sangat kuat. Kesombongan untuk mempertahankan keyakinannya, keinginan menggila untuk mencintai Tuhannya, keremehan mereka terhadap hal-hal yang membawa kesengsaraan. Semua sifat itu tidak lagi diremehkan oleh Christian. Semua bentuk hasrat dan keinginan itu telah menjadi dorongan bagi orang-orang untuk terus hidup dan melakukan berbagai hal, melakukan perjalanan, memimpin negara, menderita dan menanggung dengan sangat, dan dia menyukai tindakan-tindakan itu. Dia bisa melihat kehidupan, semangat, dan gairah yang tidak dapat dihancurkan, ada tujuan di dalam semua keinginan dan kebutuhan mereka. Orang-orang ini patut dicintai dan dikagumi dalam kesetiaan mereka yang membuta, dan di dalam kekuatan dan keuletan mereka yang membuta. Mereka menjadi begitu berbahagia dengan memiliki kekurangan atas satu hal kecil, satu hal paling kecil; mereka yang memiliki kekurangan yang dimiliki oleh para pemikir dan filsuf, yakni kesadaran akan kesatuan semua kehidupan. Namun, seringkali Christian merasakan sesuatu mengusik benaknya tentang hal ini, dirinya kemudian menjadi ragu-ragu tentang pengetahuan ini, apakah ini sesuatu yang sangat berharga atau hanya bujukan untuk bertindak seperti anak-anak. Orang-orang yang luas pergaulan mempunyai perbedaan yang hampir tidak terlihat dengan pemikir, dan terkadang mereka menjadi lebih unggul terhadap para pemikir. Seperti halnya seekor binatang terkadang menjadi lebih unggul atas manusia dalam hal keteguhan mereka untuk tidak bertindak menyimpang dalam menghadapi keadaan memaksa.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dalam diri Christian secara pelan-pelan tumbuh pengetahuan kebijaksanaan yang sesungguhnya dan tujuan pencariannya yang lama. Sebuah persiapan, seni berpikir, berasa dan bernapas dalam gagasan-gagasan kesatuan setiap kehidupan. Dengan pelan pikiran ini menjadi matang di dalam dirinya, dan pikiran itu telah lebih dulu tercermin dalam wajah tua Ahmad yang kekanak-kanakan; harmoni, pengetahuan kesempurnaan dunia, kesatuan, bersyukur, dan menghargai setiap bentuk kehidupan dunia.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tetapi saat dirinya mulai merasakan hal-hal itu meresap dalam dirinya, luka di hatinya kembali terasa sakit. Christian memikirkan anaknya dengan penuh kerinduan dan pahit. Begitu ingin memberikan cinta dan perasaan kelembutan kepada anaknya. Dia terus membiarkan kesakitan menggerogoti dirinya, dan mengalami kebodohan cinta. Api itu tidak akan mati dengan sendirinya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Suatu hari saat luka itu terasa sakit sekali, Christian mendayung menyeberangi sungai, dimakan oleh kerinduan. Dia meninggalkan rakit dengan tujuan pergi ke kota untuk mencari anaknya. Sungai itu mengalir halus dan lembut. Pada musim kemarau, saat air terasa hening, tetapi suara sungai itu terasa berdesau dengan aneh. Sungai itu sedang tertawa; tertawa dengan jelas dan gembira kepada pengayuh tua itu. Christian berdiri tegak. Perlahan dia menunduk di atas air supaya mendengar dengan lebih baik. Dia melihat wajahnya memantul pada air yang mengalir dengan tenangnya, dan ada sesuatu dalam pantulan itu yang mengingatkannya pada sesuatu yang telah dilupakannya, dan ketika membayangkannya, ingatlah dia. Tatapannya mirip tatapan orang lain, yang dulu pernah dikenalnya dan dicintainya. Dia seolah menatap ayahnya. Dia ingat dulu saat masih seorang pemuda dia telah memaksa ayahnya untuk mengizinkan dia pergi, dan bergabung dengan para musafir. Betapa dia merasa telah meninggalkannya, dia yang telah pergi dan tidak pernah kembali. Bukankah ayahnya juga telah merasakan kesakitan yang kini dia derita akan anaknya? Mungkin ayahnya telah lama meninggal dunia, sendirian tanpa bisa melihat anaknya lagi. Tidakkah dia telah mengharapkan keadaan yang sama? Bukankah ini merupakan suatu hal yang bodoh, aneh dan lucu? Pengulangan ini, jalan-jalan peristiwa yang berada dalam lingkaran yang setia.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sungai itu tertawa. Ya, itulah caranya. Segala sesuatu yang tidak menderita hingga akhir, dan akhirnya berakhir. Lagi-lagi timbul, dan kesedihan yang sama kini telah berlalu. Christian menaiki kembali rakitnya dan mendayung, kembali ke gubuk. Dia memikirkan ayahnya, memikirkan anakanya. Dia tertawa di pinggir sungai, menentang dirinya sendiri, berada pada ambang keputusasaan dan kecenderungan untuk menertawakan keras-keras dirinya dan seluruh dunia. Luka itu masih terasa sakit. Dia masih terus menentang nasibnya. Masih tidak ada ketenangan dan penaklukan atas penderitaan yang dirasakannya. Dia hanya menyisakan pengharapan, dan ketika dia kembali ke gubuk, dia dipenuhi oleh hasrat yang tidak dapat ditundukkan, dia mengaku pada Ahmad, mencoba untuk menyingkap segala sesuatu, untuk menceritakan segalanya kepada lelaki yang mengerti seni mendengarkan itu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ahmad sedang duduk di dalam gubuk sambil menganyam keranjang. Dia yang tidak lagi bekerja di penyeberangan; matanya telah menjadi lemah, juga tangan dan lengannya, tetapi kebahagiaannya tidaklah berubah dan wajahnya tetap berseri-seri dalam keadaan tenang.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian duduk di samping orang tua itu, dan dengan pelan mulai berbicara. Kini dia menuturkan kepadanya apa yang belum pernah diungkapkan sebelum ini. Bagaimana dia telah pergi ke kota, tentang lukanya yang terasa sakit, tentang kecemburuannya kepada para ayah yang bahagia, tentang pengetahuannya`atas kebodohan perasaan-perasaan seperti itu. Tentang perjuangannya terhadap dirinya yang sia-sia. Dia mengungkapkan segalanya. Dia terus menuturkan segalanya kepada Ahmad, bahkan hal-hal paling menyakitkan. Dia dapat mengungkapkan segalanya. Dia memperlihatkan lukanya, menuturkan kepadanya perjalanan dirinya hari itu, bagaimana dia menyeberangi sungai dengan tujuan berjalan ke kota, dan bagaimana sungai telah menertawakannya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ketika dia meneruskan berbicara dan Ahmad mendengarkan dengan wajah tenang, Christian menjadi lebih waspada ketimbang sebelumnya atas perhatian Ahmad. Dia merasakan kesulitan-kesulitannya, kecemasan-kecemasannya, dan harapan-harapan rahasianya mengalir dari dalam dirinya dan kemudian kembali lagi. Menuturkan lukanya kepada pendengar seperti Ahmad sama saja seperti memandikannya di sungai, membuat luka itu menjadi dingin dan menyatu dengan sungai.ketika meneruskan pembicaraan dan penuturannya, Christian semakin lama semakin merasakan bahwa laki-laki tua di depannya bukan lagi Ahmad, buka lagi pria yang sedang mendengarkannya. Dia merasakan bahwa pendengar yang tidak bergerak itu sedang menyerap pengakuannya seperti pohon menyerap hujan. Bahwa pria yang tidak bergerak itu telah menjadi sungai itu sendiri, bahwa dia telah menjadi Tuhan atas dirinya sendiri, bahwa dia adalah bentuk keabadian itu sendiri. Ketika Christian berhenti berpikir tentang dirinya sendiri dan lukanya, pengenalan bentuk perubahan dalam diri Ahmad merasuk ke dalam dirinya, dan semakin dia mengenalinya, semakin berkurang keanehan yang ditemukannya. Hal itu pun semakin membuatnya sadar bahwa segala sesuatu adalah wajar dan teratur, yang telah lama dimiliki Ahmad, dan hampir selalu seperti itu, hanya saja dia tidak pernah mengenalnya dengan benar. Dia merasa Ahmad bukan bentuk yang mencoba menjadi Tuhan, melainkan sebagai orang yang menyatu dengan Tuhan, sebagai orang yang begitu mencintai Tuhannya melebihi apa pun, dan hal ini tidak akan pernah dapat berakhir. Di dalam batinnya, dia mulai meninggalkan Ahmad. Sementara itu, dia terus berbicara.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ketika dia telah berhenti berbicara, Ahmad mengarahkan pandangannya yang terasa lembut kepadanya. Ahmad tidak berbicara, tetapi dengan tenang wajahnya menyinarkan kasih dan ketenangannya, pengertian dan pengetahuannya. Dia memegang tangan Christian, mengajaknya duduk di tepi sungai, duduk di sampingnya dan tersenyum kepada sungai.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Engaku telah mendengar sungai itu tertawa.” Katanya. “Tetapi, engkau tidak mendengarkan sesuatu. Mari kita dengarkan. Engkau akan lebih mendengarkan.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Mereka mendengarkan. Nyanyian yang banyak suara sungai itu bergema dengan lembut. Christian mengamati sungai dan melihat banyak gambar di dalam air yang mengalir itu. Dia melihat ayahnya, sendirian, berdukacita bagi anaknya. Dia melihat dirinya, sendirian, juga dengan pertalian kerinduan kepada anaknya yang jauh. Dia melihat anaknya, juga sendirian, anak itu dengan penuh keinginan melangkahi jalan berapi hasrat hidupnya. Masing-masing dari mereka memusatkan tujuannya, masing-masing tergoda dengan tujuannya, dan masing-masing menderita. Suara sungai itu sedih. Sungai itu bernyanyi untuk kerinduan dan kesedihan, mengalir menuju tujuannya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Engkau dengarkah?” Tanya Ahmad dengan pandangan membisu. Christian mengangguk.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Dengarkanlah lebih baik.” Bisik Ahmad.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian mencoba mendengarkan lebih baik. Gambar ayahnya, gambar dirinya, dan gambar anaknya. Semua mengalir ke dalam satu dengan lainnya. Gambar Kaylila juga muncul dan mengalir, juga gambar Angelina dan yang lain muncul dan lewat. Semuanya menjadi bagian dari sungai itu. Menjadi tujuan mereka semua, merindukan, berhasrat dan menderita; dan, suara sungai penuh dengan kerinduan, penuh dengan kesengsaraan yang terasa sakit, penuh dengan keinginan yang tidak pernah terpuaskan. Tetapi sungai itu terus mengalir menuju tujuannya. Christian melihat sungai itu mempercepat alirannya, menghanyutkan dirinya dan keluarganya, serta semua orang yang pernah dilihatnya. Semua gelombang dan air semakin cepat, menderita, menuju tujuannya, banyak tujuan, air terjun, menuju laut, menjadi arus, menuju samudera, dan semua tujuan itu tercapai, dan setiap kalinya tujuan itu akan tergantikan dengan yang lainnya. Air akan berubah menjadi uap dan naik, menjadi hujan dan turun lagi, menjadi mata air, dan sungai, berubah baru, mengalirlah yang baru. Tetapi suara yang merindu telah berubah. Suara itu masih melantunkan kesedihan, dan pencarian. Namun, suara-suara lain menggiringnya, suara-suara kesenangan dan kesedihan, suara-suara baik dan jahat, suara-suara tertawaan dan ratapan. Ratusan suara, ribuan suara.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian mendengarkan dengan penuh perhatian. Benar-benar terserap, benar-benar kosong, hingga dirinya mengerti sesuatu. Dia merasakan bahwa sekarang dia telah benar-benar mempelajari seni mendengarkan. Dia telah sering mendengar semua ini sebelumnya, berbagai suara di sungai ini, tetapi hari ini suara-suara itu lain. Dia tidak dapat lagi mendengarkan suara-suara yang berbeda. Suara senang dari suara tangis, suara anak-anak dari suara orang dewasa. Suara-suara itu menjadi milik satu dengan lainnya. Ratapan mereka yang rindu, tertawaan orang-orang bijak, jeritan orang-orang marah, dan erangan orang yang sedang sekarat. Suara-suara itu semua berjalin dan dipersambungkan satu dengan lainnya, terlilit dalam seribu cara. Dan semua suara ini, semua tujuan, semua kerinduan, semua kesedihan, semua kesenangan, semua baik dan jahat, semua itu bersama adalah dunia. Semua itu bersama adalah arus peristiwa, musik kehidupan. Ketika Christian mendengarkan dengan penuh perhatian kepada sungai itu, kepada nyanyian ribuan suara; ketika dia tidak hanya mendengarkan kesedihan atau tertawaan, ketika dia tidak mengikatkan jiwanya kepada salah satu suara khusus dan menyerapnya ke dalam dirinya; ketika dia mendengarkan suara-suara itu semua, keseluruhan, kesatuan, kemudian nyanyian agung seribu suara terdiri dari satu kata: Subhanallah – Maha Suci Allah.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Kau dengarkah?” Ahmad bertanya lagi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Senyum Ahmad berseri-seri. Senyum itu bermain dengan ceria di dalam semua kerutan-kerutan wajahnya yang tua. Ketika kebesaran Tuhan bermain di atas semua suara sungai. Senyumnya berseri-seri ketika dia memandang sahabatnya, dan kini senyum yang sama muncul pada wajah Christian. Lukanya terobati, kesakitannya lenyap; dirinya melebur ke dalam kesatuan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Tuhan ada dalam dirimu, engkau tidak perlu mencarinya.” Kata Ahmad dengan penuh kelembutan. “Apapun yang engkau pikirkan, dan rasakan, Dia mengetahuinya sebaik engkau mengetahuinya, karena Dia ada dalam dirimu, meskipun tidak berarti engkau menjadi Tuhan. Jika dalam hidupmu engkau mencintai dan memuja sesuatu yang sama dengan dirimu – yang merupakan ciptaan-Nya, maka engkau akan terluka dan berada dalam kesengsaraan. Akan tetapi, jika engkau mencintai Tuhan melebihi apa pun, maka tidak akan ada kesedihan dan kehilangan, yang engkau lihat hanyalah keabadian.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Semenjak saat itu Christian menghentikan perlawanannya kepada takdir. Memancarlah pada wajahnya ketenangan, ketenangan yang tidak lagi berhadapan dengan keinginannya, yang berada dalam keharmonian dengan arus-arus peritiwa, dengan arus kehidupan, penuh simpati dan keharuan, dan mengalahkan dirinya untuk terseret ke dalam arus.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ketika Ahmad mengamati tatapan Christian dan melihat ketenangan memancar dalam matanya, Ahmad menyentuh pundak Christian dengan lembut, dengan cara melindungi dan penuh kasih.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian membungkuk rendah di depan pria itu. Saat dia mengangkak kepalanya dengan pelan, dia melihat pria tua, sahabatnya, telah menutup matanya dengan tenang dan diam. Wajah sahabatnya yang tua seakan dipenuhi cahaya yang menenangkan, senyum lembut tergaris tipis di wajahnya. Seakan sudah tiba saatnya dia untuk kembali, setelah dia merasa bisa meninggalkan sahabatnya dengan tenang.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dan, begitulah Ahmad pergi. Christian hanya memandanginya. Dengan kegembiraan yang besar dan berat hati dia memandanginya, melihat wajahnya yang penuh kedamaian bersinar, penuh dengan cahaya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6791496379964808480-1390938856088573788?l=www.robbysyahputra.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/feeds/1390938856088573788/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2011/09/bersatu-bersama-tuhan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/1390938856088573788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/1390938856088573788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2011/09/bersatu-bersama-tuhan.html' title='Bersatu Bersama Tuhan'/><author><name>Historical Legend</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701636558006735668</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6791496379964808480.post-4992508160122732251</id><published>2011-09-09T23:44:00.001-07:00</published><updated>2011-09-09T23:44:54.876-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syair Cinta Putra Pelacur'/><title type='text'>Putra Sang Pelacur</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;T&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;akut dan menangis, anak lelaki itu menghadiri pemakaman ibunya. Takut dan sedih, anak lelaki itu mendengarkan penuturan dari Christian, dan juga doa-doa dari Ahmad. Hingga saat terakhir dia melihat tubuh ibunya hilang di balik timbunan tanah. Christian mengatakan pada anak lelakinya bahwa dia akan merawatnya, dan menerimanya dengan baik di gubuk Ahmad. Beberapa hari sesudahnya, anak lelaki itu hanya terduduk dengan muka pucat memandang kosong kejauhan, mengunci hatinya, berperang dan berusaha keras melawan nasibnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian mengurus anak itu dengan penuh pertimbangan dan membiarkannya sendirian, karena dia dengan penuh kasih menghormati kesedihannya. Christian mengerti sepenuhnya bahwa anak lelakinya tidak mengenal dirinya, bahwa anak itu tidak dapat mencintainya sebagai seorang ayah. Dengan pelan, dia juga melihat dan menyadari bahwa anak berusia dua belas tahun itu adalah anak yang dimanja ibunya dan telah dibesarkan dalam kebiasaan mewah, bahwa dia terbiasa dengan makanan enak dan tempat tidur yang empuk. Dan, dalam tersiratnya dia juga melihat sepertinya anak itu juga telah terbiasa memerintah pelayan. Christian mengerti sepenuhnya, bahwa anak manja dan sedang berduka tidak dapat dengan mudah, dan tiba-tiba dipuaskan dalam tempat asing dan miskin. Christian juga tidak berusaha menekan anak lelakinya itu. Dia hanya mencoba berbuat banyak hal untuk anak itu, dan menyimpan potongan roti terbaik untuknya. Dengan pelan, dengan kesabaran yang bersahabat, dia hanya berusaha dengan sabar untuk meluluhkan hatinya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian sendiri telah menganggap dirinya lebih kaya dan bahagia ketika anak lelaki itu datang kepada dirinya. Tetapi, ketika waktu teru berlalu dan anak lelaki itu tetap tidak bersahabat dan menyebalkan, ketika terbukti dirinya ternyata sombong dan menentang, ketika dia tidak mau melakukan pekerjaan apa pun, ketika dia mulai memperlihatkan tidak ada rasa hormat kepada orang tua, ketika dia mulai mencuri buah-buahan dari pohon milik Ahmad dan orang-orang desa, Christian mulai menyadari bahwa tidak ada kebahagiaan dan kedamaian yang datang kepadanya dengan kedatangan anak lelakinya itu, melainkan hanyalah kesedihan dan kesulitan. Tetapi, dia tetap mencintai anak itu dan merasa lebih baik bersedih dan sulit karena cintanya, dibandingkan merasa bahagia dan senang tanpa anak lelakinya itu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Semenjak kehadiran Christian muda di gubuk, kedua orang tua itu telah membagi pekerjaan mereka. Ahmad mengambil alih seluruh pekerjaan di sawah dan kebun, sedangkan Christian dan anaknya bekerja di gubuk dan penyeberangan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Selama beberapa bulan Christian terus sabar menunggu, dengan harapan anaknya akan mengerti kepadanya, bahwa dia akan menerima cintanya dan bahwa dia barangkali akan mengembalikan cintanya itu. Selama berbulan-bulan Ahmad memperhatikan hal itu, menunggu dan berdiam. Satu hari, ketika Christian muda menyakiti hati ayahnya dengan pemberontakan dan kemarahannya, dan memecahakan beberapa mangkuk nasi, Ahmad mengajak sahabatnya untuk berandai-andai pada petang harinya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Maafkan diriku, sahabatku.” Kata Ahmad. “Aku akan berbicara berbicara padamu sebagai teman. Saya dapat melihat betapa engkau khawatir dan tidak berbahagia. Anakmu, dia yang membuatmu susah dan juga menyusahkan saya. Burung muda terbiasa dengan kehidupan yang berbeda, dan juga pada sarang yang berbeda. Anakmu tidak bisa jauh dari kemewahan dan kota yang engkau lihat dalam pandangan muak dan jijik. Dia terpaksa meninggalkan semua hal itu tanpa kehendaknya, berbeda dengan dirimu, sahabatku. Aku telah mempelajari begitu banyak hal tentang kehidupan dari sungai, sahabatku. Dan, jika dia bisa berbicara, dia akan menertawakan kita. Sungai itu akan tergelak-gelak menertawakan kebodohan kita. Air mengalir kepada air, pemuda ke pemuda. Anakmu tidak akan merasa bahagia di tempat ini. tanyakan pada sungai, dan dengarkanlah jawabannya.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Merasa sulit, Christian menatap wajah yang penuh kasih di hadapannya, yang menyimpan begitu banyak guratan sifat-sifat baik itu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Bagaimana aku bisa berpisah dengan dirinya?” Tanya Christian dengan lembut. “Berilah aku waktu, sahabatku. Aku berjuang untuknya, aku sedang mencoba mengetuk pintu hatinya. Aku akan memenangkannya dengan cinta dan kesabaran. Sungai itu juga akan berbicara kepadanya suatu hari nanti. Dia juga akan dipanggil.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Senyum Ahmad menjadi lebih hangat. “Ya.” Katanya. “Dia juga akan dipanggil. Dia juga milik dari kehidupan yang abadi. Tetapi, tahukah engkau dan aku kemanakah dia akan dipanggil, ke jalan mana, perbuatan apa, kesedihan mana? Kepedihan hatinya tidaklah sedikit. Hatinya penuh kebanggaan dan keras. Dia mungkin akan banyak menderita, membuat banyak kesalahan, melakukan banyak ketidakadilan, dan melakukan banyak dosa. Katakan, sahabatku, apakah engkau mendidik anakmu? Apakah dia menurut kepada dirimu? Apakah engkau telah memukul atau menghukum dirinya?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Tidak, Ahmad, aku tidak melakukan satu pun hal itu.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Aku tahu. Engkau tidak terlalu keras kepadanya. Engkau tidak juga menghukum dirinya. Engkau yang tidak memerintah kepadanya, karena engkau tahu bahwa kelembutan akan lebih kuat bila dibandingkan dengan kekerasan. Air itu lebih kuat dibandingkan batu. Cinta lebih kuat dibandingkan paksaan. Sangat baik. Aku memuji engkau, Christian, sahabatku. Tetapi, barangkali di situlah letak kesalahanmu. Engkau yang tidak bersikap keras kepadanya, engkau yang tidak mampu menghukum dirinya. Idakkah sesungguhnya engkau telah merantai anak lelakimu itu dengan cintamu? Tidakkah engkau menyadari, bahwa sesungguhnya engkau telah mempermalukan dia setiap hari dengan kebaikan dan kesabaranmu, dan semua itu justru semakin mempersulit dirinya? Tidakkah sesungguhnya engkau telah memaksakan anak lelakimu untuk tinggal di gubuk dengan dua orang tua pemakan ubi dan buah-buahan dari kebun, yang bagi mereka bahkan nasi adalah kemewahan? Dua orang yang pikiran-pikiran mereka tidak sama dengan pikirannya, yang hatinya merasa tua dan tenang? Yang jantung mereka berdetak berbeda dengan jantungnya? Tidakkah sebenarnya dia telah dipaksa dan dihukum dengan semua ini?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian memandang tanah dengan bingung.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Menurut pendapatmu, apa yang harus aku lakukan?” Tanya Christian dengan lembut dan pelan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Bawalah dia ke kota.” Jawab Ahmad. “Bawalah dia ke rumah ibunya. Masih ada pelayan-pelayan di sana. Bawalah dirinya kepada mereka. Dan, jika mereka tidak lagi di sana, bawalah dia kepada seorang guru, bukan hanya demi pendidikan, tetapi agar dia dapat bertemu dengan anak-anak lain dan berada di dunia tempat dia menjadi miliknya. Tidakkah engkau pernah memikirkan hal itu?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Engaku dapat melihat isi hatiku.” Jawab Christian dengan sedih. “Aku sering sekali memikirkan hal itu. Tetapi bagaimana dengan dirinya, yang begitu keras hati, akan bisa meneruskan hidup di dunia ini? Tidakkah nanti dia akan menganggap dirinya tinggi? Tidak akankah dia kelak tenggelam dalam kenikmatan dan kekuasaan? Tidak akankah nanti dia akan mengulangi kesalahan-kesalahan ayahnya? Tidakkah nanti dia akan tenggelam dalam kesengsaraan?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sang pengayuh itu tersenyum kembali. Dia menyentuh pundak Christian dengan lembut dan berkata. “Tanyakan pada hati terkecilmu, pada sanubarimu. Dengarkanlah suara yang berbicara dalam diri. Dengarkanlah, tertawakanlah! Lalu, tanyakan pada dirimu, benarkah engkau mengira bahwa engkau telah melakukan kebodohan-kebodohan itu supaya engkau bisa berbagi ketololan dengan anakmu? Kemudian apakah engkau dapat melindungi anakmu dari kesengsaraan? Bagaimana caranya? Apakah melalui perintah, melalui doa-doa, melalui nasihat? Sahabatku, lupakah engkau dengan ceritamu mengenai Christian putra seorang pelacur yang telah mendapatkan petunjuk, cerita yang engkau ceritakan di sini? Siapakah sesungguhnya yang telah menyelamatkan Christian, sang pengembara dari kesengsaraan, dari dosa, ketamakan dan kebodohan? Dapatkah ayahnya, nasihat gurunya, pengetahuannya sendiri, ataukah pencariannya sendiri, dapat melindungi dirinya? Ayah mana, guru mana yang dapat mencegah dirinya menjalani hidup yang dikehendakinya, dari pengotoran dirinya dengan kehidupan, dari pemenuhan dirinya oleh dosa, dari menelan minuman pahit bagi dirinya, atau penemuan jalannya sendiri? Apakah engkau mengira, sahabatku, bahwa setiap orang bisa terhindar dari jalan ini? Mungkin menurutmu anakmu yang kecil, karena engkau hanya ingin melihat dia terhindar dari kesedihan dan kesakitan serta kekecawaan. Tetapi seandainya engkau pun harus mati sepuluh kali baginya, engkau tidak akan bisa mengubah nasibnya sekecil apa pun. Percayakah engkau, bahwa selembar daun jatuh pun itu sudah ditetapkan?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Belum pernah Ahmad berbicara demikian banyak. Christian berterima kasih padanya dengan cara bersahabat, lalu dia pergi dengan sedih ke gubuknya, tetapi malam itu dia tidak tertidur. Ahmad tidak mengatakan apa-apa lagi kepadanya. Dia menyadari sepenuhnya bahwa dia tidak akan mampu berpikir dan mengerti tentang dirinya. Tetapi, lebih kuat daripada pengetahuannya adalah cinta Christian kepada anaknya, cinta kasihnya, kekhawatirannya akan kehilangan anak itu. Pernahkah sebelumnya dia kehilangan hatinya pada seseorang dengan sungguh-sungguh, pernahkah dia mencintai seseorang dengan demikian besar, demikian membuta, demikian menyakitkan, demikian tidak berpengharapan, dan demikian membahagiakan?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian tidak dapat menelan langsung saran dari sahabatnya. Dia tidak dapat berpisah dari anaknya. Hingga akhirnya dia membiarkan anaknya memerintah dirinya, dengan tidak menghormati dirinya. Dia terus berdiam dan menunggu. Setiap hari dia terus berperang dengan persahabatan dan kesabaran. Ahmad juga terus diam dan menunggu, dengan bersahabat, penuh pengertian serta menahan diri. Keduanya adalah orang yang menguasai kesabaran.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pernah satu kali saat wajah anak lelaki itu mengingatkan Christian akan Kaylila, Christian tiba-tiba teringat sesuatu yang dikatakan kekasihnya itu. “Kau tidak dapat mencinta.” Kata Kaylila kepada Christian, dan dia setuju. Dia telah membandingkan dirinya dengan orang lain, dengan bintang, dengan daun-daun jatuh, dan sesungguhnya dia merasakan celaan dalam kata-kata Kaylila. Benar memang dirinya tidak pernah sungguh-sungguh kehilangan dirinya bagi orang lain, sehingga dia melupakan dirinya. Dia yang juga tidak pernah dapat melakukan hal ini, sehingga dia merasa betapa besar perbedaan dirinya dengan orang-orang biasa. Tetapi, kini sejak anaknya berada di sisinya, Christian telah benar-benar menjadi seperti orang lain yang mengalami kesedihan dalam percintaan. Dia benar-benar mabuk akan cinta, dan tolol oleh cinta. Kini, meskipun terlambat, pernah di dalam hidupnya dia mengalami dan merasakan nafsu yang paling kuat dan aneh. Dia menjadi sangat menderita dengan nafsu itu dan dalam beberapa cara dia merasa ditinggikan, diperbaharui, serta menjadi lebih kaya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dia benar-benar merasakan bahwa cinta ini, cinta buta bagi anaknya, meruapakan bentuk nafsu yang sangat manusiawi, yang membuat penderitaan, sumber kesengsaraan. Pada saat yang sama dia merasakan bahwa nafsu itu bukanlah tidak berharga, bahwa nafsu itu perlu, karena ia datang dari sifatnya sendiri. Perasaan ini, kesakitan ini, kebodohan-kebodohan ini, kini telah dialaminya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sementara itu, anaknya terus membiarkan Christian melakukan segala bentuk dari kebodohan-kebodohan, membiarkan dia bekerja keras, dan terus direndahkan oleh perasaannya. Tidak apa-apa dari diri ayahnya yang menarik hati anak itu, dan tidak ada yang ditakutinya, atau hanya sedikit rasa untuk bisa menghormatinya. Ayah ini adalah orang baik, orang yang dipenuhi kelembutan dan cinta kasih, mungkin saja dia seorang yang saleh, atau mngkin seorang yang suci – tetapi semua itu bukanlah sifat-sifat yang dapat menaklukkan si anak. Ayah yang menahan anaknya dalam gubuk sialan ternyata baginya lebih membosankannya. Dan, ketika dia membalas kekasaran anaknya dengan senyuman, setiap penghinaan dengan persahabatan, atau setiap kenakalan dengan kelembutan, hanya menjadi sebentuk keadaan yang terus menyakitkan orangtua. Anak itu lebih senang mengancam, dan menyakiti dirinya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Hari puncak tiba ketika Christian muda mengatakan apa yang ada dalam benaknya dan secara terbuka menentang ayahnya. Ayahnya memerintahkan kepadanya untuk mengumpulkan ranting-ranting, tetapi anak itu beranjak dari gubuk itu. Dia berdiri di sana, menentang dan marah. Berdiri tegak di atas tanah, mengepalkan tinjunya dan dengan amarah mengungkapkan kebencian dan kejijikannya melihat muka ayahnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Bawa ranting-ranting itu sendiri.” Teriak anak itu dengan amarah. “Aku bukan pelayanmu. Aku tahu kau tidak akan memukul aku. Kau tidak berani! Tapi, aku tahu kau terus-menerus menghukum aku dan membuatku seperti anak kecil dengan kesalehan dan kesenanganmu. Kau hanya ingin aku menjadi seperti kau, begitu alim, begitu lembut, begitu bijaksana. Tetapi, untuk segala kebencianku pada kau, aku lebih senang menjadi seorang pencuri atau pembunuh dan pergi ke neraka, ketimbang aku harus menjadi seperti kau. Aku benci kau. Kau bukan ayahku, meskipun engkau telah menjadi kekasih ibuku selusin kali.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Penuh kegusaran dan kesedihan, dia akhirnya menemukan tempat untuk memuntahkan kata-kata kasar dan marah kepada ayahnya. Kemudian ank itu lari dan baru kembali pada larut malam.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pagi berikutnya dia telah menghilang. Wadah bambu dengan anyaman di sekelilingnya, tempat kedua pengayuh itu menyimpan uang yang mereka terima sebagai upah, juga telah menghilang. Rakit mereka juga hilang. Christian melihat rakit itu di pinggir sungai yang lain. Anak itu telah pergi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Aku harus mengikutinya.” Kata Christian yang menjadi sangat sedih semenjak anak itu melontarkan kata-kata kasar padanya, pada hari sebelumnya. “Seorang anak tidak dapat berjalan sendiri melewati hutan. Dia akan mendapatkan celaka. Kita harus membuat rakit, Ahmad, supaya kita bisa menyeberangi sungai.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Kita akan membuat rakit.” Balas Ahmad. “Untuk mengambil rakit yang dilarikan anak itu. Tetapi, biarlah dia pergi, sahabatku. Dia bukan lagi anak-anak, dia sudah tahu cara mengurus dirinya sendiri. Dia sedang mencari jalan menuju kota, dan dia melakukan hal benar. Jangan lupakan itu. Dia hanya sedang melakukan sesuatu, yang engkau sendiri telah mengabaikan untuk melakukannya. Dia sedang mengurus dirinya sendiri. Dia sedang berusaha mencari jalannya sendiri. Christian, aku bisa melihatmu menderita, menderita kesakitan. Seharusnya engkau menertawakan dirimu sendiri.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian tidak menjawab. Dia telah menggenggam kapak dan mulai membangun rakit dari bambu. Ahmad membantunya mengikat batang bambu sekedarnya dengan tali. Kemudian mereka menyeberangi sungai dengan rakit kecil itu, terbawa arus, tetapi rakit itu mengarah ke hulu menuju pinggir lain sungai itu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Mengapa engkau membawa kapak?” Tanya Christian.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Mungkin dayung rakit kita hilang.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian tahu apa yang sedang dipikirkan sahabatnya. Mungkin anaknya telah melemparkan dayung itu jauh-jauh atau mematahkannya sebagai pembalasan. Dan, memang tidak ada lagi dayung di rakit itu. Ahmad menghampiri rakit dan tersenyum kepada sahabatnya seakan mengatakan, Tidak tahukah engkau apa yang ingin dikatakan anakmu? Tidak tahukah engkau bahwa dia tidak ingin diikuti? Tetapi dia tidak mengatakan dengan kata-kata, dan Ahmad mulai membuat dayung. Christian berlari meninggalkan Ahmad untuk mencari anak lelakinya. Ahmad tidak sedikit pun berusaha menghalang-halanginya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian sudah lama berada di dalam hutan ketika pikirannya mengatakan, percuma saja mencari anak itu. Atau, pikirnya, anak itu telah lama sekali meninggalkan hutan dan sudah mencapai kota, atau jika dia masih di jalan, dia akan bersembunyi menghindari pengejarnya. Dan, ketika dia membayangkan lebih jauh, dia merasakan dalam dirinya bahwa dia tidak lagi dipersulit oleh anaknya. Dalam hatinya dia hanya meyakini anaknya tidak mendapat kecelakaan atau diancam bahaya di hutan. Namun, dia tetap meneruskan perjalanannya dengan mantap, tetapi bukan lagi untuk menyelamatkan anaknya, melainkan dengan keinginannya untuk dapat bertemu anak itu sekali lagi. Christian terus berjalan hingga menuju pinggiran kota.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ketika tiba di jalan besar dekat kota, dia berdiri tegak di gerbang menuju kebun indah yang menyenangkan, yang dulu pernah menjadi milik Kaylila. Tempat dulu dia pernah melihatnya duduk di bawah pohon untuk pertama kalinya. Masa lalu muncul di depan matanya. Sekali lagi dia melihat dirinya berada di sana, seorang pengembara muda, berjenggot dengan pakaian lusuh dan rambut penuh debu. Christian lama berdiri di sana dan memandang melalui gerbang terbuka ke dalam kebun. Dia melihat anak-anak kecil berlarian di antara bunga-bunga yang indah.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dia merasakan gambaran sejarah hidupnya melintas dalam pandangannya. Dia lama berdiri di sana menatap keceriaan anak-anak itu, merasakan bayangan saat Christian muda dan Kaylila berjalan di bawah pohon tinggi. Dengan rasa yang jelas dia melihat dirinya dihampiri oleh Kaylila, dan menerima ciuman pertamanya. Dia melihat betapa dia dengan sombong dan memandang rendah melihat ke masa-masa pengembaraannya, betapa dia dengan bangga dan penuh dengan keinginan memulai kehidupan duniawinya. Dia melihat Yohanes, pelayan-pelayan, pemain-pemain dadu, musisi, dan wanita yang diajaknya bercinta. Dia melihat burung penyanyi Kaylila di sangkarnya. Sekali lagi dia merasa hidup kembali, menghirup napas kesengsaraan, lalu perlahan dia kembali ke masa tua dan letih, dan merasa muak dan ingin mati. Sekali lagi dia mendengarkan dari dalam diri panggilan kembali pada Tuhan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sesudah lama sekali dia berdiri tegak di gerbang kebun itu, Christian menyadari bahwa hasrat yang telah mendorongnya ke ini adalah bodoh. Bahwa dia tidak akan dapat menolong anaknya. Bahwa dia tidak akan dapat memaksakan diri pada anaknya. Dia memang merasakan telah menaruh cinta yang dalam kepada anak yang pergi itu, seperti luka, dan pada saat yang sama juga merasakan bahwa luka ini tidak untuk dibiarkan membusuk dalam dirinya, tetapi luka itu harus disembuhkan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Karena luka itu tersembuhkan pada saat itu, dia merasakan kesedihan dalam diri. Di tempat yang dituju yang telah memaksanya kemari untuk mengejar anaknya, yang ada hanyalah kekosongan. Dengan sedih dia terduduk di pinggir jalan. Dia merasakan sesuatu mati dalam hatinya. Dia tidak lagi melihat kebahagiaan, baginya seakan tidak ada tujuan. Dia duduk di sana, merasa tertekan dan menunggu. Dia telah belajar hal ini pada sungai, untuk menunggu, untuk memiliki kesabaran dan untuk mendengarkan. Dia duduk dan mendengarkan di jalan penuh debu, mendengarkan suara jantungnya yang berdetak dengan sedih dan susah, serta menantikan suara-suara. Dia membungkuk di sana dan mendengarkan untuk beberapa jam lamanya. Tidak lagi dirinya melihat impian-impian. Dirinya terbenam dalam kekosongan dan membiarkan dirinya tenggelam tanpa melihat jalan keluar. Dan ketika dia merasakan luka itu bangkit, dia mencari Tuhan dalam diri, mengisi dirinya sepenuhnya dengan kehadiran Tuhan. Seorang anak kecil di dalam kebun itu melihatnya, dan ketika dia masih terus saja membungkuk dan debu mulai mengotori ubannya, anak kecil itu mendatanginya dan meletakkan dua roti di depannya, si orang tua tidak melihat anak kecil itu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sebuah tangan menyentuh pundaknya dan membangunkannya dari keadaan tidak sadarkan diri. Dia mengenal sentuhan lembut dan penuh kasih itu. Dia tersadar, bangkit dan menyalami Ahmad yang telah mengikutinya. Ketika dia melihat wajah kasih Ahmad, memandang pada kerutan kecil yang ramah, memandang ke dalam matanya yang berbinar, dia juga tersenyum. Kini dia melihat roti yang tergeletak di hadapannya. Dia memungut roti itu, memberinya satu kepada sang pengayuh dan dia pun makan roti yang lain. Dengan diam Christian pergi bersama Ahmad menembus hutan lagi, kembali ke tempat penyeberangan. Mereka tidak membicarakan yang telah terjadi, tidak juga menyebutkan anak yang telah pergi itu. Mereka tidak membicarakan perjalanannya, tidak pula tentang luka itu. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian pergi ke tempat tidurnya di gubuk, dan ketika Ahmad mendatanginya beberapa waktu kemudian untuk menawarinya teh hangat, Ahmad mendapati Christian telah tertidur.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6791496379964808480-4992508160122732251?l=www.robbysyahputra.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/feeds/4992508160122732251/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2011/09/putra-sang-pelacur.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/4992508160122732251'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/4992508160122732251'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2011/09/putra-sang-pelacur.html' title='Putra Sang Pelacur'/><author><name>Historical Legend</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701636558006735668</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6791496379964808480.post-913425368047644039</id><published>2011-09-09T23:43:00.001-07:00</published><updated>2011-09-09T23:43:59.068-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syair Cinta Putra Pelacur'/><title type='text'>Sang Pengayuh Rakit</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;A&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;ku akan tetap tinggal di tepi sungai ini, pikir Christian. Sungai yang sama yang sama yang aku seberangi dalam perjalananku ke kota. Seorang pengayuh rakit yang bersahabat telah menyeberangkan aku. Aku akan pergi mencarinya. Dulu dari atas rakit pengayuh itu aku telah menuju ke hidup baru yang kini sudah tua dan mati. Mudah-mudahan jalanku sekarang, hidup baruku, berawal dari sana.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dia menatap sungai yang mengalir indah, melihat ke dalam kebeningannya, ke dalam garis-garis kristal rancang bangun yang memukau. Dia melihat mutiara kemilau muncul dari kedalaman, gelembung-gelembung berenang di atas kaca, langit biru memantul indah padanya. Sungai itu menatap balik padanya dengan ribuan mata – hijau, putih, kristal, biru langit. Betapa besar cintanya pada sungai itu. Betapa sungai itu telah menarik hatinya. Betapa dirinya begitu berterima kasih padanya. Di dalam hatinya, ia mendengar suara yang baru terjaga berbicara kepadanya, suara itu berkata, “Cintailah sungai ini, tinggallah engkau di tepinya, belajarlah darinya.” Ya, ia begitu ingin belajar dari sungai itu, dia ingin bisa mendengarkan sungai itu. Baginya, siapa pun yang mengerti rahasia sungai itu, akan mengerti lebih banyak lagi rahasia, semua rahasia.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tetapi saat ini dia hanya mampu melihat satu dari rahasia-rahasia sungai itu. Satu yang begitu mencekam jiwanya. Ia melihat air yang terus-menerus mengalir dan selalu ada di sana. Air itu selalu sama dan setiap saat selalu baru. Siapakah yang dapat mengerti, memahami hal ini? dia sendiri pun tidak dapat memahami hal itu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Chrisitian bangkit, kepedihan akan rasa lapar menjadi tidak tertahankan lagi. Dengan kesakitan yang tertahan ia berjalan di sepanjang tepi sungai, mendengarkan gemericik air, mendengarkan lapar yang semakin mengganggu dalam tubuhnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ketika dirinya sampai di salah satu tepi, dia melihat rakit itu ada di sana, dan sang pengayuh yang dulu menyebrangkan seorang pengembara muda berdiri di atas rakit itu. Christian mengenalinya. Dia sudah semakin tua.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Maukah anda menyeberangkan saya?” Tanya Christian.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sang pengayuh rakit itu terkejut menyaksikan seorang pria terhormat terlihat sendirian berjalan kaki, lalu ia mempersilahkan Christian naik lalu menyeberangkan rakitnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Anda telah memilih kehidupan yang baik.” Kata Christian. “Tentu saja baik sekali hidup di dekat sungai dan mengayuh rakit setiap hari.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pengayuh itu tersenyum, mengayuh dengan lembut.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Baik, Tuan. Seperti yang anda katakan. Tetapi bukankah setiap kehidupan, setiap pekerjaan adalah baik?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Mungkin, tetapi saya iri pada pekerjaan dan hidup anda.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Oh, segera saja anda akan merasa bosan. Pekerjaan dan hidup seperti ini bukan untuk orang berpakaian bagus.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian tertawa. “Hari ini saya telah dihargai dikarenakan pakaian yang saya kenakan, tetapi saya dihormati dengan kecurigaan. Jika anda berkenan, maukah anda menerima pakaian ini dari saya? Karena, bagi saya ini hanyalah gangguan. Karena, dengan segala kekurangan saya, saya ingin berkata jujur bahwa saya tidak mempunyai uang untuk membayar anda; yang telah menyeberangkan saya di sungai ini.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Tuan pasti sedang bersenda gurau.” Kata sang pengayuh itu sambil tertawa.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Saya tidak sedang bersenda gurau, sahabatku. Dulu anda pernah menyebrangkan saya tanpa bayaran, dan karena saat ini pun anda menyebrangkan saya, ambillah pakaianku sebagai bayarannya.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Lalu, apakah tuan tidak akan mengenakan pakaian?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Saya lebih suka untuk berjalan lebih jauh. Saya akan lebih senang jika anda memberi baju tua kepada saya, dan tahanlah saya di sini sebagai pembantu. Dan, ijinkanlah saya belajar cara mengayuh rakit.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pengayuh itu menatap dengan penuh perhatian kepada orang asing di hadapannya untuk beberapa saat.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Aku mengenal anda.” Akhirnya dia berkata. “Dulu anda tertidur di atas jerami di tepi sungai. Lama sekali sudah, mungkin lebih dari dua puluh tahun yang lalu. Aku menyeberangkan anda dan kita berpisah sebagai sahabat. Bukankah anda seorang pengembara? Saya tidak dapat mengingat nama anda.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Nama saya Christian, dan saat terakhir anda melihat saya, saya masih seorang pengembara.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Selamat datang, Christian. Nama saya adalah Ahmad. Kuharap engkau bersedia menjadi tamuku hari ini, dan sekiranya berkenan maukah engkau tinggal di gubukku. Mungkin engkau bersedia menceritakan dari mana engkau datang dan mengapa engkau begitu letih dengan pakaian sebagus itu?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Mereka telah sampai di tengah-tengah sungai, dan Ahmad mendayung lebih kuat untuk melawan arus. Dia mendayung tenang dengan lengannya yang kuat, sambil menatap ujung rakit. Christian duduk dan memandanginya dan ingat betapa dulu, dalam hari-hari terakhirnya sebagai pengembara, dia telah merasa sayang dengan pria di hadapannya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ketika mereka mencapai pinggir sungai, Christian membantu Ahmad mengikatkan rakitnya. Kemudian, Ahmad mengajak Christian ke gubuk kecilnya. Dia menawarkan roti dan air kepada Christian yang lansung disantap dengan penuh sukacita. Demikian juga dengan buah semangka yang dihidangkannya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Akhirnya, ketika matahari mulai terbenam, mereka duduk di atas batang kayu dekat sungai dan Christian menceritakan padanya mengenai asalnya dan segala kehidupannya, hingga saat dia melihat hari ini setelah detik-detik keputusasaannya. Cerita itu baru berakhir saat malam telah larut.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ahmad mendengarkan seluruh cerita Christian dengan penuh perhatian. Dia mendengarkan kisah asal dari masa kecilnya, tentang pelajarannya, tentang pencariannya, kesenangannya, dan kebutuhannya. Pengayuh itu mendengarkan dengan tenang dan baik. Itulah salah satu kelebihan sang pengayuh rakit, sifat terbaik yang dipunyai sedikit orang; dia mengetahui cara mendengarkan dengan baik. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, sang pembicara akan merasakan bahwa Ahmad meresapkan kata-katanya dengan tenang, mengandung harapan bahwa dirinya tidak kehilangan sesuatu apa pun. Dia tidak membuat sesuatu terlihat tidak menyenangkan, dia menanti dengan penuh kesabaran. Dia tidak segera memberi pujian atau pun menyalahkan. Dia hanya mendengarkan. Christian merasa segalanya menjadi indah, saat dirinya memiliki seorang pendengar seperti itu, yang mampu menyerap kehidupan orang lain, usaha kerasnya, serta kesedihan-kesedihannya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Namun, menjelang akhir cerita, ketika dia bercerita tentang pohon di tepi sungai dan keputusasaannya yang besar, tentang dirinya yang sempat kehilangan Tuhan, dan betapa sesudah tidurnya dia merasa begitu cinta kepada sungai yang mengajarkannya tentang kehidupan yang terus mengalir; sang pengayuh itu mendengarkan dengan perhatian dua kali lipat, benar-benar terserap, matanya tertutup.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saat Christian mengakhiri ceritanya, dia terdiam menghayati kekosongan di antaranya. Dalam jeda itu, Ahmad berkata, “Itu seperti yang saya pikirkan. Sungai itu telah berbicara melalui hatimu. Sungai itu bersahabat kepada engkau juga. Menurutku itu baik, sangat baik. Tinggallah bersamaku, Christian, sahabatku.” Ahmad menatap Christian dengan penuh persahabatn. “Dulu aku pernah mempunyai seorang istri. Tempat tidurnya di sisi tempat tidurku. Tetapi, dia sudah lama meninggal. Aku kini harus hidup sendirian untuk beberapa waktu lamanya. Tinggallah bersama diriku di sini. Ada kamar dan makanan untuk kita berdua.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Terima kasih.” Kata Christian. “Terima kasih dan saya menerimanya. Saya juga berterima kasih padamu, Ahmad, karena engkau telah mendengarkan dengan demikian baik. Sedikit orang yang tahu cara untuk bisa mendengarkan, dan aku tidak menemukan orang yang dapat berbuat seperti dirimu. Untuk hal itu pun saya akan pelajar pada dirimu, Ahmad.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Engkau akan mempelajarinya.” Jawab Ahmad. “Tetapi bukan dari saya. Sungai itu telah mengajarkan saya cara mendengarkan. Engkau pun akan belajar darinya juga. Sungai itu mengetahui segala sesuatu melalui airnya yang melewati banyak hal. Setiap orang seharusnya bisa belajar darinya. Engkau telah belajar dari sungai itu, Christian. Saat engkau berusaha keras menuruninya, untuk tenggelam ke dalamnya, untuk bisa mencari tahu kedalamannya. Christian yang kaya dan terhormat akan menjadi seorang pengayuh rakit. Christian yang terpelajar akan melakukan pekerjaan yang dilakukan orang bodoh. Engkau memahami dan mempelajari hal itu dari sungai ini. Untuk itulah engkau akan mempelajari hal lain juga.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sesudah hening beberapa saat, Christian berujar. “Apakah hal lainnya itu?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ahmad tidak menjawab, dia bangkit dari duduk dan memandang air yang berkilat tertimpa cahaya bulan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Hari sudah larut.” Katanya. “Mari kita tidur. Saya tidak dapat menerangkan hal lain itu. Engkau akan menemukannya sendiri, sahabatku, atau barangkali engkau telah mengetahuinya. Saya bukanlah seorang yang terpelajar. Saya tidak tahu cara berbicara atau berpikir. Selain itu, saya tidak pernah mengajarkan apa pun. Seandainya saya dapat berbicara dan mengajar, mungkin saya akan menjadi seorang guru. Saya hanya tahu cara mendengarkan dan bagaimana menjadi seorang yang taat. Selainnya itu, kenyataannya aku adalah seorang pengayuh rakit, dan tugas saya adalah menyeberangkan orang-orang dari satu sisi sungai ke sisi yang lainnya. Saya telah menyeberangkan ribuan orang, dan bagi mereka sungai ini tidak berarti apa-apa kecuali rintangan bagi perjalanan mereka. Mereka yang pergi untuk memperoleh uang dan berdagang. Mereka pergi untuk menghadiri pernikahan dan berziarah. Sungai itu berada dalam perjalanan mereka, dan sang pengayuh rakit telah berada di sana untuk menyeberangkan mereka. Sang pengayuh akan ada di sana agar orang-orang bisa melewati rintangan dengan cepat.” Ahmad menghela nafasnya sejenak.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Meskipun demikian, di antara ribuan, ada beberapa orang saja, mungkin sekitar empat atau lima orang, yang melihat sungai ini bukan sebagai hambatan. Mereka yang telah mendengar suaranya dan menjadikan sungai ini sebagai pelajaran bagi mereka, sama seperti bagi saya.” Ahmad menatap Christian. “Marilah sekarang kita tidur, Christian, sahabatku.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Semenjak saat itu, Christian tinggal bersama-sama sang pengayuh rakit dan belajar bagaimana cara memelihara rakit. Dan, bila sedang tidak ada pekerjaan di tepi sungai itu, Christian akan mengikuti Ahmad bekerja di sawah, mengumpulkan kayu, dan juga memetik buah dari pepohonan. Dia belajar cara membuat tongkat dayung yang kokoh untuk rakit, cara memperbaiki rakit dan juga membuat keranjang. Dia menyenangi segala sesuatu yang dilewatinya bersama Ahmad. Yang dikerjakannya maupun yang dipelajarinya. Hari dan bulan pun berlalu dengan cepatnya. Selama waktu itu, Christian belajar terus-menerus dari sungai itu. Dia belajar bagaimana caranya mendengarkan. Mendengarkan dengan hati yang bening, dengan jiwa yang terbuka yang menunggu, tanpa nafsu, tanpa keinginan, tanpa penilaian, dan juga tanpa pendapat. Hanya mendengarkan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dia melewati hari-hari yang bahagia bersama Ahmad. Mereka terkadang saling bertukar pikiran, sedikit kata-kata dan dipikirkan berlama-lama. Ahmad bukanlah seorang teman untuk berbincang-bincang. Christian sering kali gagal menggerakkannya untuk berbicara.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pernah dia bertanya kepada Ahmad, “Pernahkah engkau juga mempelajari satu rahasia dari sungai, bahwa tidak ada barang seperti waktu?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Senyum ceria mengambang di wajah Ahmad.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Ya, Christian.” Katanya. “Apakah sama yang engkau maksudkan dengan diriku? Bahwa sungai itu ada di mana-mana dalam waktu yang bersamaan. Di mata air dan di muara, di air terjun, di penyimpangan, di tempat arus, di gunung-gunung, dan juga lembah-lembah. Di mana-mana. Dan sungai adalah apa yang terwujud saat ini, bukan sebagai bayangan masa lalu, dan bukan pula bentuk kabur masa depan?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Ya, itulah dia.” Jawab Christian. “Dan, bila saya mempelajari hal ini, saya kembali menyadari hakikat diri dari kehidupan saya adalah bentuk pantulan itu. Christian sebagai seorang anak kecil, Christian sebagai seorang pria dewasa, ataupun Christian orang tua, adalah bentuk pemisahan oleh bayangan, bukan oleh kenyataan. Hidup masa lalu yang aku alami bukan berada di masa lalu, dan pemahaman diriku untuk kembali pada Tuhan bukanlah sesuatu yang ada di masa depan. Tidak ada apa-apa di masa lalu, dan tidak akan terjadi apa pun di masa depan. Sesuatu adalah segala bentuk yang memiliki kenyataan dan kehadiran. Semua itu adalah wujud sekarang.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Chrsitian meluapkan kata-katanya dengan senang hati. Penemuan dan pemahaman ini telah membuat dia berbahagia. “Bukankah kemudian segala bentuk kesedihan dan kecemasan terbungkus rapi dalam waktu? Bukankah segala bentuk kejahatan dan keadaan buruk di dunia ini, sesegera akan dikalahkan oleh waktu?” Christian berbicara dengan berbahagia, tetapi Ahmad hanya menatapnya dengan tersenyum ceria, serta mengangguk menyatakan persetujuannya. Dia menepuk pundak Christian dan kembali pada pekerjaanya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Di lain waktu saat sungai meluap dalam musim hujan dan bergemuruh dengan kerasnya, Christian bertanya pada Ahmad. “Benarkah, sahabatku, bahwa sebenarnya sungai mempunyai banyak suara? Dia yang sejatinya memiliki suara seorang raja, pahlawan perang, burung malam, wanita hamil, serta seribu suara lainnya?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Begitulah.” Ahmad mengangguk. “Suara-suara makhluk hidup ada di dalam suara sungai.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Dan, tahukah engkau.” Sambung Christian. “Kata apakah yang diucapkan ketika seseorang mampu mendengarkan ribuan suara itu pada waktu yang sama?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ahmad tersenyum gembira. Dia membungkuk kepada Christian dan membisikkan “Subhanallah” ke telinganya. Dan, hanya itulah yang didengar Christian. Sesuatu yang perlahan menggerakkan suara dalam dirinya, sesuatu yang terasa asing namun menenangkannya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Hari demi hari yang berjalan, senyuman Christian mulai menirukan senyuman hangat sang pengayuh, hampir sama ceerianya, sama penuh kebahagiaan, sama bersinarnya melalui seribu keriput kecil, sama kekanak-kanakannya, sama tuanya. Banyak yang melewati sungai itu, bila bertemu dengan kedua pengayuh itu bersama, akan menjadikan mereka saudara. Sering mereka duduk bersama pada sore hari di atas batang kayu di tepi sungai. Dalam diam keduanya mendengarkan air, yang bagi mereka itu bukanlah sekedar air, melainkan suara kehidupan, suara Tuhan. Dan terkadang selagi mereka mendengarkan suara sungai, dalam benak keduanya teerlintas gagasan yang sama; mungkin mengenai percakapan sebelumnya, atau tentang salah seorang pelancong yang kehidupannya dan keadaannya menguasai pikiran mereka. Terkadang mereka juga membicarakan kematian, atau masa kecil mereka. Dan saat sungai mengatakan sesuatu yang baik kepada mereka di saat yang sama, mereka akan saling memandang, lalu keduanya akan berbahagia atas jawaban yang sama dari pertanyaan yang sama.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sesuatu yang tersirat di sekitar mereka maupun dari dalam diri mereka, begitu hangat dirasakan oleh orang yang melewati tempat itu. Seringkali terjadi apabila seseorang melihat wajah salah satunya, mereka akan membicarakan dan mencurahkan permasalahan mereka. Soal hidup dan kesulitannya, mengakui dosa-dosa, lalu mereka akan meminta penghiburan dan saran. Hingga beberapa kali seseorang akan meminta izin untuk bermalam bersama mereka, hanya agar bisa mendengarkan sungai. Lalu, di kemudian hari ada juga orang-orang yang berdatangan karena mereka mendengar kabar tentang dua orang bijak, tukang sulap, atau orang suci yang tinggal dekat penyeberangan. Orang-orang yang begitu ingin tahu itu lalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan, tetapi mereka tidak mendapatkan jawaban. Mereka juga tidak menemukan tukang sulap, orang suci maupun orang bijak. Mereka hanya akan melihat dua orang tua yang bersahabat, yang selalu membisu, agak aneh dan terlihat bodoh. Kemudian orang-orang yang ingin tahu itu akan tertawa dan mengatakan betapa bodoh dan percayanya orang-orang akan desas-desus liar seperti itu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dalam hari keduanya, mereka tidak pernah meributkan tentang kepercayaan dan keyakinan di antaranya. Chrsitian mempercayai hakikat dirinya sebagai hamba. Dirinya akhirnya menyadari semua bergerak atas kehendak Tuhan, dirinya tidak lagi berkehendak untuk menjadi tunggal dengan Tuhan. Meskipun, dalam kesehariannya bersama Ahmad, dia belum menemukan caranya untuk menjadi hamba. Dirinya tidak banyak bertanya tentang keyakinan Ahmad. Dia hanya memperhatikan sahabatnya melakukan gerakan-gerakan yang pernah dilihatnya saat bersama para musafir, dan saat berada di As-Salam. Dia melihat sahabatnya berpuasa pada hari senin dan kamis, dan juga membaca kitab yang dia tidak memahami artinya, hanya saja dia merasakan kedamaian saat Ahmad melantunkannya dengan kemerduan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Di antara hari-hari yang dilewati keduanya pun Ahmad tidak pernah membicarakan dan memaksakan apa yang diyakininya pada sahabatnya. Mereka berpikir dengan diri mereka sendiri, dan saling memahami serta menghargai di antaranya. Terbebas dari apa yang mereka yakini, mereka mempunyai gagasan, pemikiran, dan jawaban yang sama atas hakikat diri sebagai manusia dan menyikapi kehidupan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tahun-tahun berlalu dan tidak seorang pun memperhatikan mereka. Hingga pada suatu hari, datanglah beberapa pria dengan penutup di kepala mereka, yang kemudian Christian mengetahui bahwa mereka adalah Jemaah Kyai Bahdarudin Syamawi. Mereka minta diseberangkan. Kedua pengayuh itu mengetahui bahwa mereka sedang tergesa-gesa kembali pada guru mereka. Di luar lingkungan yang tidak tersentuh kedua pengayuh itu, tersebar kabar bahwa sang kyai sedang menderita sakit keras. Dirinya diperkirakan dalam kondisi akan mengalami kematian makhluk hidup. Beberapa saat kemudian, rombongan jemaat lainnya datang minta diseberangkan disusul jemaat berikutnya. Seperti kebanyakan di antarany, mereka selalu membicarakan tentang Kyai Bahdarudin Syamawi. Seperti orang-orang yang akan menghadiri penobatan seorang kepala negara, mereka berbondong-bondong seperti lebah yang berkerumun, tertarik oleh satu magnet. Mereka ingin melihat sang kyai yang terbaring di ranjangnya, mereka ingin mendoakannya, mereka ingin ada di dekatnya apabila pria itu kembali menuju keabadian.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Banyak hal terlintas dalam pikiran Christian pada waktu itu. Benaknya dipenuhi hal-hal tentang pria suci itu, yang suarany telah memukau ribuan orang, yang suaranya dulu pernah dia dengarkan, yang wajahnya dulu pernah dilihatnya dengan perasaan kagum. Dengan penuh kasih dia memikirkannya, dia tersenyum lalu termenung saat memikirkan kata-kata yang pernah diucapkannya dulu. Saat dia berkata sebagai orang muda kepada yang telah mendapatkan cahaya penerangan. Dia merasa bahwa kata-kata itu terlalu sombong dan terlalu cepat dewasa. Lama sekali akhirnya dirinya menyadari bahwa dia tidak terpisahkan dengan Kyai Bahdarudin Syamawi, meskipun dia tidak dapat menerima ajaran-ajarannya. Baginya, seorang pencari yang sesungguhnya tidak dapat menerima ajaran-ajaran apa pun, tidak pula bila dia dengan sungguh-sungguh berharap memperoleh sesuatu. Tetapi dia yang telah mendapatkan, dapat memberikan keputusan kepada setiap jalan. Setiap tujuan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Suatu hari, saat semakin banyak orang yang ingin melihat keadaan Kyai Bahdarudin Syamawi, Kaylila, yang dulu adalah seorang pelacur tercantik, juga sedang dalam perjalanan ke sana. Dia yang telah lama pensiun dari cara hidup yang sebelumnya, telah menghadiahkan kebunnya kepada para yatim dan piatu. Kini dia telah mencari perlindungan dalam ajaran-ajaran Kyai Bahdarudin Syamawi. Ketika dirinya mendengar pria itu sedang dalam keadaan menanti sakratul maut, dia mulai berjalan kaki bersama anak lelakinya, dalam balutan pakaian yang sederhana. Hingga mereka mencapai sungai dalam perjalanan mereka. Anak lelaki itu terlihat letih, dia yang begitu ingin pulang, ingin sekali beristirahat, dan ingin makan. Dia sering merajuk dan menangis. Kaylila berusaha menenangkannya dan seringkali akhirnya menemaninya beristirahat. Anak itu dalam ketidaktahuannya terpaksa mengikuti kemauan ibunya, hinnga ibunya terus menghiburnya atau sesekali menghardiknya. Anak itu sedikit pun tidak memahami, mengapa ibunya harus melakukan perjalanan yang menyedihkan dan begitu meletihkan menuju tempat yang tidak dikenalnya, menuju seorang pria yang asing dan sedang sekarat. Biarlah dia meninggal, lalu apa urusannya dengan anak kecil itu?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kaylila dan anak lelakinya tidak jauh dari penyeberangan Ahmad, ketika Christian kecil mengatakan kepada ibunya bahwa dia ingin beristirahat. Kaylila sendiri telah meras letih, dan ketika anak lelaki itu memakan rotinya, dia meringkukkan badannya ke tanah, setengah menutup mata dan beristirahat. Namun, tiba-tiba Kaylila berteriak kesakitan. Terkejut, anak lelakinya memandang kepadanya dan melihat wajah ibunya menjadi pucat dan penuh dengan ketakutan. Dari balik bajunya yang seperti jubah muncul ular bersisik hitam yang telah menggigit Kaylila, dan kini merangkak pergi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Mereka berdua berlari tergesa-gesa agar bisa menemukan orang. Ketika mereka tiba di dekat penyeberangan, Kaylila terjatuh dan tidak dapat pergi lebih jauh lagi. Anak lelaki itu berteriak minta tolong, sambil terus menciumi dan memeluk ibunya. Kaylila kemudian juga menangis kuat-kuat, hingga suaranya terdengar oleh Ahmad yang sedang berdiri di penyeberangan itu. Ahmad dengan cepat lalu menghampiri, mengangkat wanita itu lalu membawanya ke rakit. Anak lelaki itu mengikutinya, dan mereka bersama-sama pergi ke gubuk, tempat Christian sedang berdiri dan menyalakan api. Dia melihat ke arah pintu masuk, dan yang pertama dilihatnya adalah wajah anak lelaki itu, yang dengan anehnya mengingatkan dia akan sesuatu. Kemudian dia melihat Kaylila, yang dengan segera dikenalinya, meskipun dia sedang terbaring dia sadarkan diri dalam pelukan si pengayuh.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Luka Kaylila dicuci, tetapi sudah menghitam dan tubuhnya telah membengkak. Kaylila diberi obat penyegar dan kesedarannya pun pulih. Dia terbaring di atas dipan milik Christian, di gubuknya, dan Christian yang dulu pernah sangat dicintainya membungkuk di atasnya. Kaylila mengira bahwa ia sedang bermimpi, dan tersenyum. Ia meneliti wajah kekasihnya. Pelan-pelan dia menyadari keadaannya, mengingat gigitannya dan memanggil anak lelakinya dengan penuh keinginan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Jangan khawatir.” Kata Christian, “Dia di sini.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kaylila memperhatikan dalam mata Christian. Dia kelihatan sangat sulit sekali menggerakkan lidahnya dengan racun yang menyebar dalam sistem peredaran darahnya. “Engkau telah menjadi tua, kekasihku.” Katanya lemah. “Engkau telah banyak beruban, tetapi engkau tetap terlihat seperti seorang pengembara muda yang dulu datang kepadaku di kebunku, dengan baju lusuh dan kaki penuh debu. Engkau saat ini lebih menyerupai dirinya, ketimbang saat engkau meninggalkan Yohanes dan diriku. Sinar matamu seperti sinar matanya, Christian. Ah, aku juga telah menjadi tua, apa engkau masih mengenal diriku?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian tersenyum. “Segera saja aku mengenal engkau, Kaylila, kekasihku.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kaylila menunjuk anak lelakinya dan berkata, “Kenalkah engkau dengannya juga? Dia adalah anak lelakimu.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian menatap kepada wajah yang telah mengingatkannya akan sesuatu, dan jantungnya berdegup dengan cepat.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Mata Kaylila berputar dan tertutup. Anak lelaki itu menangis. Christian mebiarkan anak lelaki itu menangis di lututnya sambil ia mengusap rambutnya. Melihat wajah anak itu, Christian ingat nyanyian ayahnya yang didendangkan untuknya saat ia bersedih. Dengan pelan bagai bergumam, dia mulai mengalunkan nyanyian itu. Kata-kata itu keluar lalu kembali padanya meninggalkan masa lalu dan masa kanak-kanaknya. Anak itu menjadi diam ketika Christian bernyanyi, masih sesegukan dan kemudian tertidur. Christian mengangkat anak itu ke atas tempat tidur milik Ahmad. Ahmad berdiri di dekat tungku menanak nasi. Christian memandang kepada Ahmad dan tersenyum kepadanya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Dia sedang menghadapi sakratul maut.” Kata Christian lembut.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ahmad mengangguk. Cahya api dari tungku memantul pada wajahnya yang penuh belas kasihan itu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kaylila sadar kembali. Ada rasa sakit yang membayang pada wajahnya. Christian melihat kerut kesakitan itu pada mulut Kaylila, pada wajahnya yang pucat. Dengan tenang ia menatapnya penuh perhatian, menunggu, berbagi rasa sakit dengan Kaylila, kekasihnya. Kaylila merasakan hal itu, pandangannya berusaha mencari Christian.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ssambil melihat kepadanya, Kaylila berkata, “Matamu juga telah berubah, aku melihat itu. Mata itu telah menjadi sangat berbeda. Bagaimana aku mengenali bahwa engkau masihlah Christian? Engkau adalah Christian, tetapi engkau tidak terlihat seperti dirinya.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian tidak berbicara. Dengan diam dia menyelidik dalam mata Kaylila.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Engkau telah menemukannya?” Tanya Kaylila. “Telah engkau temukan kedamaian?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dia tersenyum dan meletakkan tangannya ke tangan Kaylila.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Ya.” Kata Kaylila dengan suara bergetar. “Aku melihatnya. Aku juga akan menemukan kedamaian.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Engaku telah menemukan kedamaian itu.” Bisik Christian.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kaylila memandang Christian terus-menerus. Kaylila telah berniat melakukan perjalanan suci menuju tempat Kyai Bahdarudin Syamawi, untuk bertemu pria suci itu, untuk menemukan sedikit kedamaiannya, tetapi nyatanya dia hanya menemukan Christian, dan itu pun sudah baik baginya, sebaik seandainya dia telah melihat yang lain.  Dia ingin mengatakan hal itu kepada Christian, tetapi lidahnya sudah mulai sulit digerakkan. Dengan diam dia menatap kepada Christian, dan Christian mulai melihat kehidupan perlahan surut dari matanya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Izinkan aku, sahabatku.” Ahmad berlutut di sisi Kaylila, tepat di samping kepalanya. “Dia telah memilih jalan Kyai Bahdarudin Syamawi, berarti dia telah memilih jalanku. Biarkan aku membimbingnya menuju Tuhan dengan ajaran yang dipahaminya.” Ahmad menatap Christian yang dijawab dengan anggukan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Ikuti aku, wahai kekasih sahabatku.” Ahmad menatap mata Kaylila meminta persetujuannya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Asyhadu an Laa Ilaaha Illallahu wa Asyhadu Anna Muhammad Rasulullah&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ucapan itu diulangi Kaylila dengan terputus-putus dan bergetar, hingga saat terakhir kehidupannya mencapai puncak dan lepas dari matanya, saat getaran terakhir berlalu dari tubuhnya. jari-jemaari Christian mengusap lembut kedua mata Kaylila.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lama dia duduk di sana dan memandangi wajah mati itu. Lama dia menatap mulut Kaylila, mulut tua yang letih dengan bibir yang berkerut. Dirinya ingat betapa dulu pada masa hidupnya yang sedang segar-segarnya, dia telah membandingkan bibir Kaylila dengan kesegaran dan rasa yang penuh kemanisan. Lama sekali dia menatap wajah pucat itu dengan penuh perhatian. Menatap kerutan-kerutan letih dan melihat wajahnya sendiri seperti itu, putih dan juga mati. Dan, pada saat yang sama dia juga melihat wajahnya sendiri dan wajah Kaylila, muda denga bibir merah, dengan mata menawan dan dia dipenuhi oleh perasaan kini dan kehadiran pada masa sekarang. Pada saat itulah dia merasakan dengan sungguh-sungguh sebentuk kehidupan yang tidak bisa dirusakkan, keabadian pada setiap saatnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saat dirinya tersadar dan beranjak, Ahmad menawarkan sedikit nasi padanya, tetapi Christian tidak makan. Di dalam kandang, tempat kambing jantan tinggal, kedua orang tua itu mengatur jerami dan Ahmad berbaring di atasnya. Christian beranjak keluar dari gubuk dan duduk di tepi sungai sepanjang malam, mendengarkan suara sungai. Dirinya tenggelam dalam masa lalu, dan secara bersamaan dipengaruhi dan diliputi seluruh periode masa hidupnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dia kemudian bangkit, berjalan menuju pintu gubuk, memastikan bahwa anak lelakinya masih tertidur.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pagi-pagi sekali, sebeblum matahari terlihat, Ahmad keluar dari kandang dan berjalan menuju sahabatnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Engkau tidak tidur?” Tanyanya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Ya. Aku duduk di sini dan mendengarkan sungai. Sungai itu menuturkan pada diriku banyak hal. Sungai itu telah mengisi aku dengan banyak pikiran.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Engaku telah mendeerita, Christian, tetapi aku tidak melihat sedikit pun kesedihan memasuki hatimu.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Ya, sahabatku. Mengapa diriku harus merasa bersedih? Aku yang kaya dan bahagia masih tetap menjadi lebih kaya dan lebih bahagia. Anakku telah diberikan kepadaku.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“aku juga menyambut kedatangan anakmu. Tetapi, sekarang, Christian, marilah kita bekerja. Masih banyak yang harus kita kerjakan. Kaylila meninggal di tempat tidur yang sama dengan tempat istriku meninggal. Kita akan memakamkan dirinya dengan jalan ajarannya. Jika engkau tidak keberatan, Kaylila biarlah kita kuburkan di dekat makam istriku.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian tidak berkata apa pun, dia hanya mengangguk.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ketika anak lelaki itu masih tertidur, mereka menggali sebuah lubang, setelah sebelumnya Ahmad meminta seorang wanita dari perkampungan – untuk memandikan dan mengkafani Kaylila.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6791496379964808480-913425368047644039?l=www.robbysyahputra.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/feeds/913425368047644039/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2011/09/sang-pengayuh-rakit.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/913425368047644039'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/913425368047644039'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2011/09/sang-pengayuh-rakit.html' title='Sang Pengayuh Rakit'/><author><name>Historical Legend</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701636558006735668</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6791496379964808480.post-30602866044507127</id><published>2011-09-09T23:40:00.000-07:00</published><updated>2011-09-09T23:41:28.525-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syair Cinta Putra Pelacur'/><title type='text'>Air Yang Mengalir</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;C&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;hristian melangkah memasuki hutan, dirinya telah jauh dari kota, dan hanya mengetahui satu hal – bahwa dia tidak dapat lagi kembali, bahwa kehidupan yang telah dijalaninya bertahun-tahun itu kini telah berlalu, telah dinikmatinya dan telah mengering hingga sampai pada tingkat kemuakan. Burung kenari itu telah mati. Kematiannya yang telah tergambarkan dalam mimpi, adalah kematian diri dalam hati Christian sendiri. Dia terjerat begitu dalam di lingkaran kesengsaraan. Dirinya telah dijerat oleh kemuakan dan kematian dirinya dari segala sisi. Dia telah dipenuhi perasaan bosan, dipenuhi oleh kemiskinan, dan juga dipenuhi dengan kematian. Tidak ada lagi benda di dunia yang dapat memberinya kepuasan serta pelipur lara.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dia dengan sebentuk kesabaran tersisanya berusaha melupakan segalanya, mencoba untuk beristirahat. Dirinya yang begitu ingin sekali untuk mati. Berharap ada kilat yang menyambarnya, berharap seekor harimau datang dan memangsanya. Dirinya berandai bila ada sebotol anggur, atau sedikit racun, agar dirinya diberi kesempatan untuk bisa melupakan segala kesakitannya, membuat dirinya bisa melupakan segalanya, membuatnya tertidur dan tidak akan pernah bangun lagi. Dirinya merasa begitu penuh noda, noda yang dicorengkannya sendiri atas dirinya, segala bentuk dosa dan ketololan yang dia telah terlibat di dalamnya, dosa yang dia sendiri tidak sanggup lagi untuk bertanggung jawab atasnya. Masihkah ada kemungkinan baginya untuk terus hidup dan diampuni? Masihkah dirinya diberi dan dimungkinkan untuk itu? Masihkah dia bisa dengan lapang menarik napas terus-menerus, mengeluarkan napas, merasa lapar, merasakan nikmatnya makanan, tidur dan tidur dengan perempuan lagi? Dia lalu merasakan lingkaran ini meletihkan dirinya dan merasa harus mengakhirinya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Langkah kakinya mengantarkan dirinya hingga di tepi sungai di dalam hutan, sungai yang sama tempat dulu dirinya diseberangkan oleh pengayuh rakit, saat dirinya masih begitu muda dan baru saja dari tanah tersuci. Dia berhenti dan berdiri dengan penuh keraguan di tepi sungai itu. Keletihan dan kelaparan telah melemaskan seluruh tubuhnya. Mengapa harus lebih jauh lagi, ke mana, dan untuk tujuan apa? Tidak ada lagi tujuan. Batinnya. Sudah tidak ada lagi sesuatu kecuali keinginan untuk melenyapkan impian-impian yang sangat membingungkan, untuk memuntahkan seluruh anggur yang masam, untuk mengakhiri hidup yang pahit dan menyakitkan ini.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ada sebatang pohon kelapa di tepi sungai itu. Chrsitian duduk di pohon itu pada lengkungannya. Dia memandang ke bawah, ke air yang bening yang mengaliri sungai itu. Dia melihat ke dalamnya dan hasratnya timbul untuk menyelam ke dalam air. Kekosongan yang dingin dalam air itu memantulkan kekosongan yang mengerikan dalam jiwanya. Dirinya merasa berada pada akhir hayatnya. Tidak ada sesuatu lagi bagi dirinya selain melenyapkan diri, untuk menghancurkan susunan kehidupan dirinya yang telah gagal, membuangnya jauh-jauh, dan merasa dirinya telah ditertawakan oleh keadaan. Pada segala bentuk perbuatan dosa yang telah dilakukannya, untuk menghancurkan segala bentuk yang dia benci. Dia ingin agar ikan-ikan menggerogoti dagingnya sedikit demi sedikit, Christian si anjing, orang gila, bangkai yang tubuhnya telah rusak dan busuk, jiwa yang telah menempati raga yang salah. Biarkan ikan-ikan menghabisinya, biarkanlah para iblis melumatkannya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dengan wajah yang berubah-ubah, ia memandang ke dalam air. Dia melihat pantulan wajahnya, lalu dia meludahinya. Dia menjatuhkan tubuhnya ke samping hingga dia terguling lalu terjerambab. Dengan mata yang tertutup dia melengkungkan tubuhnya – menuju kematian.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lalu dari jiwanya yang berada jauh di kedalaman, dari masa lalunya yang terasa letih, dia mendengarkan suara. Sebuah kalimat yang meluncur secara tidak jelas dari bibirnya, yang akan menjadi awal dan akhir dari doa-doanya, tingkat kesadarannya yang akan menjadikan hidupnya kembali bermakna. Yang saat suara itu kembali pada telinganya, jiwanya yang sudah tidak hidup lagi itu tiba-tiba sadar, dan dia mengenali ketololan tindakannya. Lalu dengan lirih dia terus mengulangi ucapannya&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kembalilah pada Tuhan&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian lalu merasa begitu ketakutan. Itulah yang dia derita. Dia merasa begitu kehilangan, sedemikian bingung, menjadi begitu kehilangan alasan, sehingga akhirnya dia mencari kematian. Keinginan itu menjadi begitu kuat dalam dirinya, tumbuh dengan begitu ganasnya mencengkram jiwanya; dirinya berusaha untuk menemukan kedamaian dengan cara menghancurkan tubuhnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Segala siksaan lalu menjadi sesuatu yang berlalu, segala keputusasaan menjadi punah saat kata-kata itu terus terulang dari bibirnya. Perlahan dia mengenali segala kemalangan dan kejahatannya. “Kembalilah pada Tuhan.” Suaranya terdengar lirih, dan dia mulai menyadari dirinya sepenuhnya adalah manusia, seorang hamba, kesadaran terdalam yang tidak akan dapat dihancurleburkan. Dia ingat segala kebaikan yang telah dilupakannya, segala kebaikan yang telah menjaganya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Segalanya berlalu, semuanya terjadi begitu cepat. Christian menarik tubuhnya, lalu membenamkan diri di dekat akar-akar pohon kelapa itu. Dirinya begitu dikuasai oleh kelelahan. Sambil terus mengucapkan kata-kata yang sama, dia membaringkan kepalanya pada akar pohon dan kemudian dirinya terlelap.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tidurnya begitu pulas tanpa mimpi. Entah untuk waktu berapa lama dia tidak pernah tertidur seperti itu. Saat dirinya terjaga, setelah beberapa jam tertidur, dia merasakan seolah-olah sepuluh tahun telah berlalu. Dia mendengarkan riak lembut air sungai yang mengalir. Dia tidak mengetahui tempat dirinya sekarang berada, dan tidak mengetahui apa yang telah membawanya kemari. Lalu, dia menengadah dan terkejut melihat pohon-pohon dan langit di atasnya. Dia kemudian ingat tempat dirinya berada dan bagaimana cara dirinya datang kemari. Dia merasakan keinginan yang kuat untuk tinggal di sana beberapa waktu lamanya. Baginya kini masa lalu terlihat bagaikan diliputi kabut, terasa begitu jauh, terasa begitu tidak penting. Dia hanya mengetahui bahwa hidupnya yang baru saja berlalu telah berakhir, hidup yang penuh kemuakan dan kemalangan yang ingin dihancurkannya. Dirinya merasa bagaikan mengalami inkarnasi yang jauh, merasa seperti awal kali saat dirinya pertama kali terlahir, meskipun pada kenyataannya dia telah sampai di tepi sungai itu, mengucapkan kesadaran akan hakikat diri, hingga dirinya terlelap.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lalu dia merasa tidurnya menjadi begitu indah. Sudah sekian lama dia tidak pernah tertidur demikian. Tidur itu seakan menyegarkan dirinya, memperbaruinya, sedemikian meremajakannya. Kemudian dia berpikir, mungkin saja dia telah benar-benar mati, mungkin saja dirinya telah mati tenggelam, dan kemudian terlahir kembali dalam bentuk lain. Tetapi tidak demikian, dia mengenali dirinya, dia mengenal kaki dan tangannya, tempat dia membaringkan dirinya, keinginan dirinya, pribadinya. Christian telah berubah, dia yang tertidur dengan lelap kini telah terjaga dengan kagum, bahagia dan penuh kedamaian.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian berdiri dan melihat seorang wanita dengan jubah dan kerudung menutupi dirinya. Wanita itu duduk, dengan wajah terbuka. Parasnya terlihat lebih cantik dari yang mampu diingat Christian. Tidak perlu waktu lebih lama untuk Christian mengenali perempuan itu, Angelina, teman masa mudanya, sahabat terkasihnya. Angelina yang telah berlindung dalam ajaran Kyai Bahdarudin Syamawi. Angelina juga sudah lebih tua, tetapi aura keindahan semakin terpancar dari wajahnya; hasrat, kesetiaan, keingintahuan, dan tanpa kecemasan. Tetapi, saat Angelina merasakan tatapan Christian, dia melihat kepadanya. Christian merasakan kalau Angelina tidak mengenali dirinya. Yang terlihat hanyalah kesenangan karena dirinya telah terjaga, seperti dirinya telah lama duduk di sana menanti Christian terbangun.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Saya tertidur?” Tanya Christian. “Bagaimana engkau datang kemari?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Anda tertidur, tuan.” Jawab Angelina, “Dan, tidak baik tidur di tempat seperti ini, di tempat yang biasa didatangi ular dan binatang-binatang dari hutan. Saya sedang berjalan bersama para jemaah Kyai Bahdarudin Syamawi, dan kami baru saja kembali dari pondok pesantren di desa sebelah. Saat hendak mengambil air, saya melihat anda tertidur di tempat yang berbahaya. Karenanya, saya mencoba membangunkan anda, dan saat saya mengetahui anda tertidur lelap sekali, saya memutuskan untuk tetap tinggal di sini dan duduk menjaga anda. Tetapi, ternyata saya yang begitu ingin menjaga anda, kelihatannya ikut tertidur pula. Rasa letih sepertinya begitu menguasai saya, sehingga saya tidak dapat menjaga anda. Tetapi, sekarang anda telah bangun. Karena itu, saya harus segera kembali pada saudara-saudara saya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Terima kasih untuk penjagaan anda selama saya tertidur. Saya yakin seluruh jemaat Kyai Bahdarudin Syamawi adalah orang-orang yang baik. Sekarang, teruskanlah perjalanan anda.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Saya akan pergi. Mudah-mudahan anda akan baik-baik saja. Semoga Tuhan selalu melindungimu.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Terima kasih.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Angelina membungkuk dan mengatakan, “Assalamualaikum.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Selamat jalan, Angelina.” Kata Christian.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Wanita itu tertegun.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Maaf, tuan, bagaimana anda mengetahui nama saya?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Setelah itu, Christian tertawa.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Aku mengenalmu Angelina, sejak dari rumah ayahku, dan sejak masa aku belajar pada ayahmu, dan semenjak hari-hari kita melawan keinginan duniawi, dan sejak saat kita memutuskan menjadi musafir, serta sejak saat kita di tanah tersuci, di As-Salam saat engkau bersumpah setia kepada Kyai Bahdarudin Syamawi.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Engkaukah itu Christian?” Teriak Angelina tertahan. “Kini aku mengenal dirimu. Aku juga tidak bisa mengerti mengapa aku tidak bisa mengenalimu dengan segera. Alangkah senangnya aku bisa bertemu engkau kembali.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Aku juga senang bertemu dirimu lagi. Kau telah menjaga diriku selama tertidur, meskipun aku tidak memerlukan penjaga. Kemana engkau akan pergi, sahabatku?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Aku bersama para jemaah lainnya dalam perjalanan kembali. Sebelumnya, kami berencana singgah di salah satu pondok pesantren di desa berikut. Hidupku kini mengikuti aturan-aturan yang ditetapkan, membaca kitab, mengumpulkan derma, dan juga shalat. Ada banyak hal yang telah diriku pelajari bersama dengan kepercayaanku saat ini. Sebuah siklus kehidupan yang tidak pernah kita pahami sebelumnya. Lalu, kemanakah engkau akan pergi, Chrsitian?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian berkata, “Aku masih sama seperti dengan yang engkau kenali terakhir kalinya, aku masih seorang musafir. Aku tidak pergi kemana-mana, aku selalu ada di jalanan.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Engaku mengatakan engkau seorang musafir, dan aku akan percaya itu.” Kata Angelina. “Tetapi, maafkan aku Christian, engkau tidak terlihat seperti seorang musafir. Engaku mengenakan pakaian orang kaya, engkau mengenakan sepatu layaknya orang yang memahami mode, dan rambutmu yang berkilat dan wangi, bukanlah rambut seorang musafir.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Engkau menyadari segalanya dengan baik, Angelina.” Jawab Christian. “Kau melihat segala sesuatu dengan penglihatan yang cermat. Tetapi, apakah menurut yang engkau pahami bahwa seorang musafir adalah orang yang harus terlihat lebih hina dari orang yang awam?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Tidak ada penekanan seperti itu. Baiklah, engkau adalah seorang musafir. Lalu, ada berapa banyak musafir yang berjalan dengan pakaian seperti itu? Dan, diriku yang telah berjalan bersamamu dalam waktu yang lama di masa lalu, tidaklah kita pernah menemui musafir yang berpakaian seperti itu.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Baiklah, aku tidak akan mendebatmu. Tetapi, hari ini engkau telah melihat seorang musafir yang mengenakan pakaian dan sepatu seperti itu. Ingatlah, Angelinaku tercinta, dunia penampilan adalah fana. Gaya pakaian dan rambut adalah fana. Kau telah meneliti dengan baik. Aku mengenakan pakaian orang kaya. Aku mengenakan pakaian itu karena aku telah menjadi orang kaya, dan aku mengatur rambutku seperti orang-orang dunia fashion, karena aku telah menjadi salah satu dari mereka.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Lalu, apa yang telah engkau kerjakan, Christian?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Aku tidak tahu. Aku mengetahui seperti engkau mengetahuinya. Aku ada di jalanan. Dulu aku adalah orang kaya, tapi hari ini aku bukan lagi orang kaya dan aku tidak tahu akan jadi apa esok hari.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Apa engkau telah kehilangan kekayaanmu, Christian?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Aku telah kehilangan kekayaanku, ataukah kekayaan telah kehilangan aku – aku tida yakin. Roda penampilan berputar dengan sangat cepat, Angelina. Dimanakah Christian putra seorang pelacur? Dimanakah Christian seorang musafir? Dimanakah Chrsitian si orang kaya? Kefanaan akan terus berubah dengan cepat, Angelina. Apa engkau tahu itu?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lama Angelina terdiam dan menatap wajah teman masa mudanya dengan tatapan ragu. Kemudian dia membungkuk kepadanya, seperti orang melakukannya pada orang yang lebih terhormat, mengucapkan salam, lalu berbalik meneruskan perjalanan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tersenyum hangat, Chrsitian menyaksikan kepergiannya. Christian masih tetap mencintainya, teman yang punya rasa ingin tahu lebih dan penuh kesetiaan. Dan, pada saat itu, dirasakan betapa hatinya tenang sekali, sesudah tidurnya yang begitu lelap, betapa dia bisa merasakan ada begitu banyak kedamaian dalam hatinya. Dia merasakan ada banyak cinta dalam hatinya terhadap segala sesuatua yang terlihat baginya. Dan sepertinya hal itulah yang membuatnya begitu sakit di masa lampau, karena dirinya tidak dapat mencintai sesuatu ataupun seseorang.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Senyumnya masih tergaris saat wanita itu perlahan menghilang dari pandangannya. Tidur telah menyegarkannya, tetapi dia merasakan lapar yang begitu kuat karena dia belum makan selama dua hari. Dia perlahan mengingat hal yang telah dibualkannya pada Kaylila, tentang seni yang tidak dapat dilihat dan begitu anggun. Berpikir, menunggu, berpuasa, bersabar dan berdoa. Lima hal yang telah menjadi kekuatannya. Dia telah melewati untuk mempelajari hal ini, dan tidak ada hal lainnya selama tahun-tahun penuh kerajinan dan ketekunan pada masa mudanya. Kini dia telah kehilangan kelimanya, dia tidak lagi memiliki kelimanya. Dia telah menukar kelimanya dengan hal-hal yang paling buruk, dengan kefanaan, dengan segala kesenangan rasa, dengan kehidupan sombong dan kekayaan. Dia telah melewati jalan yang asing.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian perlahan menggumamkan keadaanya itu. Dia merasa begitu sulit untuk berpikir. Dirinya merasa tidak sedikitpun memiliki hasrat untuk berpikir, tetapi dia terus memaksakannya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sekarang, pikirnya, semua barang fana itu telah lepas dari diriku lagi, aku sekali lagi berdiri di bawah terik mentari, seperti dulu saat aku berdiri seperti seorang anak kecil. Tidak ada lagi sesuatu pun yang menjadi milikku, aku tidak lagi mengetahui apa pun. Betapa anehnya! Kini, ketika aku tidak lagi muda, saat rambutku dengan cepat beruban, saat tenagaku mulai menyusut, aku kembali menjadi seperti seorang anak kecil kembali. Dia kembali tersenyum dan berpikir hidupnya aneh. Dia mengalami penyurutan, dan kekosongan yang dalam. Dia berdiri telanjang dan bodoh di dunia ini. tetapi, dia tidak sedikit pun bersedih hati karena itu. Bahkan ada keinginan yang begitu besar dalam dirinya untuk tertawa, menertawakan dirinya, menertawakan dunia yang tolol dan aneh.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Benda-benda surut bersama diriku.” Dia berkata pada dirinya sendiri. Dan, saat dia memgatakannya, dia melihat bayangannya terpantul di sungai. Dan, dia melihat sungai yang mengalir, terus-menerus surut. Dia mendengarkan nyanyian gembira dari sungai itu. Nyanyian yang menggembirakan hatinya. Perlahan dia tersenyum pada sungai itu. “Bukankah ini sungai tempat diriku ingin menenggelamkan diri ratusan tahun yang lalu, ataukah itu hanya mimpi saja?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Betapa aneh hidup ini, pikirnya. Dia yang telah melangkah sepanjang jalan yang terasa aneh. Sebagai manusia, aku telah dikuasai oleh rasa dan nafsu, oleh segala bentuk kenikmatan yang begitu fana. Semasa muda aku dikuasai hidup dalam berpikir, berpuasa, menunggu, bersabar dan berdoa. Aku yang mencari kemanunggalan, mencoba untuk bisa bersatu dan menjadi Tuhan. Sebagai seorang pemuda, aku telah ditarik oleh bentuk-bentuk penebusan. Aku hidup sendiri di alam, menderita panas dan dingin. Aku belajar untuk berpuasa agar bisa mengalahkan keinginanku. Kemudian aku menemukan ajaran yang mebuatku terpesona namun membingungkan diriku. Aku yang pernah merasakan pengetahuan dan kesatuan alam beredar dalam diriku seperti aliran darahku sendiri, tetapi aku juga mengalami hasrat untuk meninggalkan pengetahuan dan kesatuan itu. Aku yang kemudian berlalu dan mempelajari kenikmatan bercinta dengan Kaylila, dan bisnis dengan Yohanes. Aku menimbun uang, dan menghamburkannya. Aku yang memerlukan citarasa dari makanan mewah, dan diriku yang terus merangsang perasaanku. Aku yang harus melewati tahun demi tahun seperti itu hanya untuk menghilangkan pemikiranku, untuk melenyapkan akal sehatku, untuk melupakan bahwa alam bergerak di bawah satu kesatuan. Apakah benar, bahwa diriku yang telah melalui banyak persimpangan, perlahan telah berubah dari seorang yang dewasa menjadi anak-anak? Dari seorang pemikir menjadi manusia dungu? Tetapi, begitulah adanya jalan ini, dan rasa diriku belum juga mati. Tetapi pada jalan itu, aku telah mengalami demikian banyak kebodohan, begitu banyak sifat buruk, begitu banyak kesalahan, demikian banyak kemuakan, kekecewaan, kesedihan, hanya untuk menjadi seorang anak kecil dan memulai segalanya dari awal kembali. Christian menatap dalam aliran sungai. Batinnya bergejolak.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tetapi, benrakah jalan ini harus demikian? Apakah benar aku harus mengalami keputusasaan, aku harus tenggelam ke dalam palung mental yang terbesar, ke dalam pikiran-pikiran untuk mengakhiri hidupku, agar diriku mengalami keangguna? Apa benar aku harus menjadi bodoh agar aku menyadari Tuhan itu ada? Apa benar aku harus berdosa agar aku bisa hidup kembali? Kemanakah jalan ini mengarahkan diriku? Jalan ini yang bodoh ataukah diriku? Mengapa jalan ini berputar-putar, berulangkali menjebak diriku dalam lingkaran-lingkaran. Meskipun demikian, kemana pun jalan ini membentang, aku akan mengikutinya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kali ini Christian merasa waspada terhadap kebahagiaan yang merayap dalam dirinya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dari manakah kebahagiaan itu datang? Dia bertanya kepada dirinya. Apakah yang menjadi alasan kebahagiaan ini? Apakah alasan ini muncul dari tidur lelapku yang telah membuat diriku lebih baik? Ataukah mungkin dari kesadaranku bahwa Tuhan itu selalu ada? Atau karena aku bisa lari dari keadaanku sebelumnya, karena perjalananku telah terpenuhi, karena pada akhirnya aku bisa bebas dan berdiri lagi seperti anak-anak di bawah mentari? Ah, betapa leganya perjalanan ini telah terselesaikan. Hingga aku tiba di tempat yang dipenuhi aroma rempah-rempah, kelebihan dan kelembapan. Betapa aku menyadari, diriku begitu membenci dunia kekayaan, mabuk-mabukan, dan judi. Betapa aku membenciku diriku sendiri yang telah begitu lama tinggal dalam dunia yang mengerikan itu. Betapa aku membenci diriku yang merintangi, membius dan menyiksa diriku sendiri dalam dunia buruk hingga diriku menjadi tua dan buruk. Tetapi, kini aku tidak akan mengulangi hal itu lagi. Aku tidak akan berkhayal lagi, aku akan menganggap diriku pandai. Aku merasa bahagia karena diriku telah mengakhiri kebencian atas diri atas hidup yang kosong.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian perlahan kembali menghargai dirinya kembali setelah bertahun-tahun larut dalam kebodohan. Dirinya kembali memiliki gagasan-gagasan yang baik. Dia yang kembali mendengar suara kecil dalam dadanya berkicau, dan ia mengikutinya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dia yang berdiri di tepi sungai. Melihat air yang mengalir, sebagaimana dia menyadari aliran kehidupannya yang dialaminya. Dia yang mendengarkan perutnya yang keroncongan karena lapar. Dia telah sepenuhnya menghilangkan kesedihan dan kesengsaraan masa lampaunya, dan menyadari bahwa dia telah melahap segalanya hingga sampai pada keputusasaan dan kematian.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dia yang selama ini bertahan begitu lama bersama Yohanes. Mengumpulkan dan menghamburkan uang. Memberi makan pada tubuhnya dengan segala kemewahan dan melalaikan jiwanya. Dia yang akan begitu lama berada dalam neraka yang terbungkus dengan rapi dan lembut, jika saja keputusasaan itu tidak terjadi, yang mengantarkan dirinya pada tepi air yang mengalir – tempat dirinya ingin mati. Namun, keputusasaan dan kemuakan luar biasa itu gagal menggagahi dirinya. Kicauan, mata air yang jernih, suara lembut dalam dadanya masih hidup dan menyadarinya. Itulah yang mebuat dirinya begitu bahagia dan kembali tertawa. Itulah yang membuat wajahnya kembali bersinar di bawah rambutnya yang dipenuhi uban.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Baik sekali untuk mengalami sesuatunya sendiri.” Ujarnya pada dirinya sendiri. “Ketika masih kecil, aku telah mengetahui bahwa kekayaan adalah sesuatu yang bisa menjadi keburukan. Kesenangan-kesenangan dunia adalah sesuatu yang mampu menjerumuskan. Aku telah begitu lama mengetahuinya, tetapi aku baru saja mengalaminya. Kini, aku tidak hanya mengetahuinya dengan kecerdasanku, tetapi juga dengan mataku, dengan hatiku, dengan dadaku. Adalah baik bahwa kini aku telah memahaminya.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dia lama merenungkan perubahan dalam dirinya, mendengarkan suara dalam dadanya yang begitu halus dan lembut. Jika suara dalam dirinya mati, akan mati jugakah dirinya? Tidak! Sesuatu dalam dirinya memang telah mati, sesuatu yang telah lama ingin dibinasakannya. Hal-hal yang sebenarnya selalu ingin dihancurkannya dalam masa-masanya sebagai musafir. Hal yang yang telah menggantikan kebahagiaan dengan kecemasan di dalam dirinya. Dan, saat itu bersama air yang mengalir, hal itu telah mati.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian merasakan dalam dadanya sebuah pemahaman mengapa dirinya telah gagal berjuang. Dia mengisi dirinya dengan terlalu banyak pengetahuan yang tidak selesai. Pemahaman yang tidak mempunyai jawaban akhir. Terlalu banyak aib yang ditutupi. Dengan semua itu dia mengisi dirinya dengan kesombongan, dia merasa dirinya selalu menjadi yang terpandai, yang paling benar atas kemauannya. Dia yang selalu merasa selangkah di depan yang lain. Dia yang merasa dirinya terpelajar, selalu diagungkan sebagai guru, seorang pendeta dan filsuf. Dirinya merangkak dalam keagungan kebiksuannya, ke dalam keangkuhannya, ke dalam rasa yang membuat dirinya terlihat suci layaknya Tuhan. Dia yang terus tumbuh selalu mencoba menghancurkan pikirannya dengan berpuasa dan mematikan keinginannya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dalam kesadaran penuhnya, dia menyadari bahwa tidak akan ada seorang guru pun yang akan mampu membawakan keselamatan padanya. Hanya dirinyalah yang akan menentukan keselamatan atasnya. Untuk itulah dia harus mampu tenggelam dalam pemahamannya, pemahaman untuk bisa menghapuskan pemujaan atas kekuasaan, harta dan wanita. Meskipun untuk semua itu dia harus terlebih dahulu melewati tahun-tahun terburuknya. Menjadi pedagang, penjudi, peminum dan penikmat tubuh wanita hingga kesadarannya menjadi mati. Dia yang harus menjalani kemuakan, mempelajari kegilaan hidup yang sia-sia dan kosong, hingga dia merasakan keputusasaan yang pahit, hingga Christian pedagang kaya dan Christian pencari kenikmatan akhirnya mati. Dia yang harus membayar segalanya dan menyadarinya, meskipun ketuaan telah menghampiri dirinya. Dirinya yang telah menyadari bahwa dirinya akan mati kelak. Dirinya yang memahami bahwa dia adalah sesuatu yang fana, dan semua yang di dunia adalah fana.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Gagasan-gagasan dan pemikiran-pemikiran lewat melalui dirinya. Dia tersenyum pada perutnya yang kosong, mendengarkan dengan penuh terima kasih pada burung yang berkicau. Dengan rasa yang begitu bahagia dia melihat air yang mengalir. Belum pernah sebelumnya sebuah sungai menarik hatinya. Belum pernah dia menemukan suara dan penampilan air mengalir yang demikian indahnya. Tampak padanya seolah-olah sungai itu menyimpan sesuatu yang khusus untuk dirinya. Sesuatu yang tidak diketahuinya. Sesuatu yang terus menunggunya. Christian yang berniat menenggelamkan dirinya dalam sungai itu. Christian yang tua, letih dan putus asa, mati tenggelam dalam sungai itu? Batinnya. Christian lalu merasakan cintanya yang tulus kepada air yang mengalir itu, dan dia memutuskan untuk tidak meninggalkannya dengan begitu cepat. Sesuatu yang begitu besar bergejolak dalam dadanya. Dirinya meyakini ada sesuatu yang indah yang akan ditemui dan dipelajarinya bersama air sungai yang mengalir di hadapannya. Bersama segala sesuatu yang hidup di antara air yang mengalir itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6791496379964808480-30602866044507127?l=www.robbysyahputra.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/feeds/30602866044507127/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2011/09/air-yang-mengalir.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/30602866044507127'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/30602866044507127'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2011/09/air-yang-mengalir.html' title='Air Yang Mengalir'/><author><name>Historical Legend</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701636558006735668</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6791496379964808480.post-5844184232667223256</id><published>2011-09-09T23:39:00.000-07:00</published><updated>2011-09-09T23:40:26.634-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syair Cinta Putra Pelacur'/><title type='text'>Melepas Duniawi</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;U&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;ntuk waktu yang cukup lama Christian telah menjalani kehidupan dunia tanpa menjadi miliknya. Perasaan-perasaannya yang bergairah telah dimatikannya selama masa dirinya menjadi seorang musafir, dibangkitkannya kembali. Ia telah merasakan kekayaan, bersenggama dengan nafsu menggila, dan juga kekuasaan, meskipun selama masa itu, tetap ada seorang musafir jauh di lain sisi hatinya. Kaylila yang cerdas sangat mengetahui dan memahami itu. Kehidupan Christian selalu dibimbing oleh seni berpikirnya, penantiannya, kesabaran, doa dan puasanya. Orang-orang di sekelilingnya, orang biasa dan awam di antarany, masih merasa asing dan jauh dari memahami dirinya, sekan dirinya terpisah dari mereka.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tahun demi tahun berlalu. Dilingkupi suasana yang menyenangkan, Christian hampir tidak melihat berlalunya tahun-tahun itu. Dirinya telah menjadi kaya. Dia yang telah memiliki rumah besarnya sendiri, dilengkapi pelayan-pelayan, serta kebun-kebun di perbatasan kota di tepi sungai. Orang-orang menyukai dirinya. Mereka akan datang padanya saat mereka membutuhkan uang ataupun saran. Namun, pengecualian Kaylila, dirinya tidak memiliki seorangpun teman dekat.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kesadaran agung dan mulia yang pernah dia alami di masa mudanya, pada hari-hari saat dirinya mendengarkan khotbah Kyai Bahdarudin Syamawi, saat dirinya berpisah dengan Angelina, harapan untuk bisa dengan cepat melihat dan bertindak, kebanggaan dirinya yang bisa berdiri sendiri tanpa seorang guru dan ajaran-ajarannya, keinginan yang besar yang telah disiapkannya agar mampu mendengarkan suara mulia di dalam hatinya; semuanya pelan-pelan, waktu demi waktu telah menjadi kenangan, telah berlalu. Semua yang dulu menjadi sumber mata air dalam dirinya, yang diserukannya dengan begitu kuat dalam dirinya, kini menjadi gumamam lembut di kejauhan. Namun, dirinya telah mepelajari banyak hal dari para musafir, Kyai Bahdarudin Syamawi, ayahnya, dan juga sang pendeta ayahnya Angelina. Semua itu telah disimpannya untuk waktu yang lama dalam dirinya; kecukupan dalam hidup, kesenangan dalam berpikir, jam-jam menenangkan saat dirinya melawan keinginan duniawi, pengetahuan rahasia tentang diri, menjadi tunggal sebagai diri yang abadi, bukan sebagai badan juga bukan pula kesadaran. Banyak dari semua hal telah disimpannya; sedangkan yang sisanya setengah muncul dan mulai tertutup debu. Seperti roda kayu yang berputar tempat membuat gerabah, yang sekali waktu digerakkan akan lama berputarnya, kemudian dengan pelan-pelan berputar lalu berhenti, begitulah pula rodanya para musafir, roda yang berpikir. Roda perbedaan masih berputar untuk beberapa waktu yang lama di dalam jiwa Christian; roda itu masih terus berputar tetapi dengan pelan dan agak tersendat-sendat, dan kini hampir tiba pada titik henti. Dengan pelan, seperti embun yang menyerap ke dalam batang pohon yang mati, yang lalu dengan pelan mengisi dan membusukkannya, begitulah dunia dan segalanya menyerap ke dalam jiwa Christian, memberati jiwanya, meletihkan jiwanya, menidurkan jiwanya, lelap. Tetapi, di sisi lain perasaan-perasaannya menjadi lebih tersadarkan, perasaan-perasaan itu belajar lebih banyak, dan menjadi lebih berpengalaman.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian telah mempelajari cara melakukan transaksi bisnis, melatih kekuasaan atas orang, menghibur dirinya dengan perempuan-perempuan. Dia telah belajar mengenakan pakaian indah, memerintah para pelayan, mandi dalam air berbusa dan beraroma harum. Dia belajar menikmati hidangan lezat yang disajikan padanya dengan hati-hati, juga ikan, daging, unggas, rempah-rempah dan aroma penyedap lainnya, serta minum anggur yang membuat dirinya menjadi pemalas dan pelupa. Dia telah belajar bermain dadu dan catur, melihat penari meliukkan tubuh dan menggoyangkan pinggul, serta tidur di atas kasur yang empuk. Kemudian dia mulai merasa berbeda dan lebih tinggi dibandingkan orang lain; dia selalu memandang dengan gaya meremehkan, dengan sedikit penghinaan dan ejekan, dengan ejekan yang dirasakannya saat menjadi musafir oleh orang-orang awam. Saat Yohanes merasa kecewa, saat Yohanes merasa dirinya telah dihina, atau seandainya dirinya sedang kesulitan dalam masalah-masalah bisnisnya, Christian selalu menanggapinya dengan sedikit menghina.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dengan pelan dan tidak terasa, dengan berlalunya waktu, penghinaan dan perasaan tingginya perlahan menghilang. Pelan-pelan, sejalan dengan dirinya terus bertambah kaya, Christian merasa dirinya membutuhkan sedikit sifat orang biasa, sedikit sifat kekanak-kanakan mereka, dan sedikit kecemasan mereka. Dan, dia mulai merasa cemburu kepada mereka. Semakin besarnya keinginan untuk bisa seperti mereka, semakin besar pula rasa cemburunya kepada mereka. Dia menjadi cemburu kepada mereka dikarenakan mereka memiliki sesuatu yang menjadi kekurangannya; rasa penting dalam hidup yang mereka jalani, ke dalam kesenangan dan kesedihan yang mereka rasakan. Sebentuk kebahagiaan mereka yang mencemaskan dan sekaligus manis dari rasa cinta yang berkesinambungan. Orang-orang ini yang saling mencintai di antara mereka, dengan pasangan mereka, anak-anak mereka, dengan sebentuk kemuliaan dan hartanya, dengan segala rencana-rencana dan harapan-harapan. Sayang sekali, keseluruhan ini atau sedikitnya tidak ada yang dia pelajari dari mereka; yakni segala kekanak-kanakan dan kebodohan mereka. Dia hanya mempelajari hal-hal yang tidak menyenangkan dari mereka yang biasanya telah dia cemoohkan. Keseringan yang terjadi pada dirinya hanyalah; sesudah malam panjang yang menggembirakan, dia akan terlelap tidur, dan pagi berikutnya dia akan merasa letih dan otaknya menjadi semakin tumpul. Dia lalu akan menjadi lebih jengkel dan tidak sabar saat Yohanes datang padanya, lalu membosankan dirinya dengan segala kekhawatirannya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Di lain waktu, dia akan tertawa terbahak-bahak saat dirinya kalah bermain judi, - meskipun saat itu wajahnya tetap terlihat lebih cerdas dan intelektual dibandingkan orang lain – karena dia jarang tertawa. Dan, lambat laun wajahnya mulai memancarkan kepura-puraan yang begitu sering terlihat pada wajah orang-orang kaya. Wajahnya menunjukkan perasaan tidak senang, kesakitan, tidak puas, kemalasan, dan ketiadaan cinta. Perlahan, kesakitan jiwa orang-orang kaya itu merayap ke dalam dirinya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Seperti kabut tipis, keletihan mulai bersemayam dalam diri Christian, dan setiap harinya kabut itu semakin tebal sedikit, hari ke hari, bulan demi bulan menjadi hitam sedikit, lalu setiap tahunnya menjadi bertambah sedikit. Seperti layaknya pakaian baru yang menjadi kusam bersamaan dengan waktu, kehilangan warnanya yang cerah, menjadi bernoda dan lusuh, kerahnya berbulu, dan di sana-sini menjadi gampang robek dan kainnya menjadi tipis. Begitu pula hidup Christian yang telah dimulainya sesudah berpisah dengan Angelina; menjadi tua. Dengan cara yang sama pula, dirinya menjadi kehilangan warna dan kemilaunya sejalan dengan lewatnya tahun-tahun. Kerutan-kerutan dan noda bermunculan, lalu bersembunyi di kedalaman. Di dirinya mulai muncul bentuk-bentuk kemuakan dan kekecewaan. Christian tidak menyadarinya, karena suara dari dalam dirinya, yang ceria dan jelas, yang dulu menyadarkannya dan yang telah selalu membimbingnya pada setiap jam terbaiknya, kini, telah diam.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dunia telah menggenggamnya; kenikmatan, kekayaan, kemalasan, dan akhirnya termasuk sifat buruk yang selalu dia cemoohkan dan remehkan sebagai yang paling bodoh dan rendah: ketamakan. Tanak milik, barang milik, dan kekayaan pada akhirnya juga memerangkap dirinya. Barang-barang itu bukan lagi permainan bagi dirinya. Barang-barang itu telah menjadi rantai yang membelenggunya dan kemudian membebaninya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian berkelana sepanjang lereng curam terakhir dan paling dasar, yang penuh liku dan asing, melalui segala bentuk perjuadian. Sejak dirinya berhenti menjadi musafir, Christian telah bermain judi untuk mendapatkan uang dan perhiasan dengan kegairahan yang terus meningkat. Sebuah permainan yang sebelumnya hanya diikutinya dengan senyuman dan sedikit kepuasan sebagai suatu kebiasaan orang-orang awam, kini dirinya telah menjadi pemain berat. Hanya sedikit sekali yang berani bermain dengan dirinya, karena taruhannya begitu tinggi dan sembrono. Dia bermain judi hanya untuk memuaskan hatinya, dan dirinya menikmati saat menghabiskan uang-uangnya. Tidak ada cara penghinaan yang lebih rendah untuk memperlihatkan dengan jelas bahwa dirinya begitu mudah memperoleh kekayaan. Oleh karena itu, dia bertaruh tinggi-tinggi dan dengan royal, lalu setelahnya dia akan membenci dirinya sendiri, mengejek dirinya sendiri. Dia menang jutaan, lalu dia mebuang jutaan juga. Kehilangan uang, kehilangan perhiasan, kehilangan rumahnya di kota, menang lagi lalu kalah lagi. Dia mencintai kecemasan itu, kecemasan yang begitu mengerikan dan menyesakkan yang dia alami selama bermain judi, dalam ketegangan taruhan besar. Dia begitu mencintai perasaan ini dan terus-menerus mencari perjudian untuk memperbaruinya, untuk meningkatkan dan merangsangnya, karena di dalam perasaan ini sendiri dirinya benar-benar mengalami kebahagiaan, sedikit kepuasan, sedikit kehidupan yang berbeda di tengah-tengah kehidupannya yang hambar.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sesudah kekalahan-kekalahan besarnya, dia lalu akan mencurahkan dirinya pada usaha untuk kembali mendapatkan kekayaan, dengan sungguh-sungguh menjalankan bisnisnya dan menekan para pengutang untuk segera melunasi hutang-hutangnya, karena dirinya begitu ingin bermain lagi, dia ingin kembali menghabiskan uang-uangnya. Christian seolah menjadi tidak sabar untuk kembali menikmati kekalahannya. Dia mulai kehilangan kesabarannya, dia mulai merasa jijik dengan pembayaran yang lambat dari para pengutang. Dia tidak lagi bermurah hati pada pengemis. Dia juga tidak lagi mempunyai keinginan untuk memberi hadiah dan pinjaman pada orang-orang miskin.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dia yang bertaruh jutaan pada sekali lemparan dadu, menjadi keras dan licik dalam bisnis. Terkadang dirinya bermimpi mendapatkan uang di tengah malam. Dan, bila dia tersadar dari pesona yang menyakitkan itu, dia akan melihat wajahnya pada cermin di dinding kamar tidurnya menjadi lebih tua dan makin buruk. Saat itu perasaan malu dan muak akan mendahului menguasai dirinya. Lalu, dia akan melarikan diri lagi, melarikan diri pada taruhan dan permainan baru. Dia akan melarikan diri pada bentuk kegairahan yang membingungkan; judi, anggur, dan menghabiskan malam dengan bersenggama dengan perempuan-perempuan, tertidur, lalu terbangun. Kemudian dia akan kembali pada dorongan mencapai kekayaan dan terus ditimbun. Dia terus kehilangan dirinya dalam lingkaran tidak berperasaan ini, menjadi tua lalu sakit.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pernah sebuah mimpi memperingatkannya. Dia melihat dirinya sedang bersama-sama Kaylila pada suatu malam, di dalam kebunnya yang sangat menyenangkan. Mereka duduk di bawah pohon sambil berbincang. Kaylila sedang berbicara dengan raut wajah sungguh-sungguh, akan tetapi di balik kata-katanya tersembunyi kegundahan dan keletihan. Dia telah bertanya mengenai Kyai Bahdarudin Syamawi, karena dirinya tidak mendapat cukup cerita tentangnya, betapa jernih pandangannya, betapa indah tutur katanya, betapa anggun senyumnya, betapa damai keseluruhan tabiatnya. Lama sekali Kaylila berbicara tentang pria itu. Lalu Kaylila menarik napas panjang dan berkata, “Suatu hari, mungkin segera, aku akan menjadi pengikut pria ini, mejadi jemaatnya. Aku akan memberikan padanya seluruh hartaku, kebunku yang menyenangkan dan aku akan berlindung dalam ajaran-ajarannya.” Setelah berbicara, Kaylila lalu memikatnya, dan dalam permainan cinta, Kaylila memeluk dirinya erat-erat dengan kegairahan yang luar biasa, dahsyat, dan desahan sedih, seakan-akan dirinya begitu ingin menyarikan tetesan manis terakhir dari kenikmatan yang mulai berlalu. Tidak pernah dilihat oleh Christian bahwa hubungan gairah dan kematian bisa begitu dekat. Lalu, Christian berbaring di dekatnya, dan wajah Kaylila di dekatkan dengan wajahnya. Di bawah mata Kaylila dan dekat sudut-sudut bibirnya, untuk pertama kali dengan jelasnya ia membaca tanda kesedihan – garis-garis yang bagus dan kerut-merut, sebuah pertanda datangnya musim gugur tua. Christian sendiri yang baru berusia tiga puluh enam, telah melihat di sana-sini adanya uban pada rambutnya yang hitam. Keletihan telah tertulis pada wajah Kaylila yang cantik, sebentuk keletihan dari jalan panjang yang berkesinambungan dan tidak mempunyai tujuan yang menggembirakan. Keletihan dan usia tua yang baru mulai, tersembunyi, serta belum terungkap, barangkali kecemasan yang belum tersadarkan; kecemasan senja kehidupan, kecemasan usia tua, kecemasan akan kematian. Setelah menarik napas panjang, dirinya meninggalkan Kaylila. Hatinya dipenuhi kesengsaraan dan kecemasan yang terselubung.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Malam-malam sesudahnya, Christian kembali melewatkan harinya dengan para penari dan anggur. Sesudahnya dengan akan mengambil satu, dua atau beberapa penari untuk bersenggama dengan mereka.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dia lalu berpura-pura lebih tinggi dari teman-temannya, yang sebenarnya tidak lagi demikian. Dia telah meminum banyak anggur, dan bersenggama. Kemudian larut malam dia akan tertidur, letih dan selalu gelisah, hampir menangis dan putus asa. Dia mulai sulit tidur, dan gagal mencoba tidur. Hatinya mulai dipenuhi kesengsaraan. Dia mulai merasa tidak dapat lagi menanggungnya. Kemuakan menggagahi dirinya seperti anggur yang tidak enak, atau seperti musik yang terlalu dangkal dan manis, atau seperti senyum para penari yang palsu, atau wanginya rambut, manisnya payudara dan nikmatnya lubang surga mereka. Tetapi, di atas semuanya, sesungguhnya dia dimuakkan oleh dirinya sendiri, oleh wewangian dari rambutnya, oleh bau anggur dari mulutnya, oleh penampilan kulitnya yang lembek. Seperti orang yang makan dan minum terlalu banyak, lalu dia akan muntah dengan rasa yang sakit sekali, kemudian dia akan merasa lebih baik; seperti itulah keinginan manusia yang tidak henti-hentinya yang mampu menghancurkannya dengan kekuatan yang luar biasa.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pada pergantian hari, saat dirinya berjalan ke luar kota, berkunjung ke daerah-daerah, saat itulah dia bisa tertidur – suatu kemungkinan tertidur – dan mempunyai setengah kesadaran. Pada saat itulah dirinya kembali bermimpi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kaylila mempunyai seekor burung kenari kecil yang langka dalam kurungan emas. Burung itulah yang menjadi mimpinya. Burung ini yang biasanya berkicau di pagi hari, menjadi bisu. Hal ini mengejutkan dirinya, dia meraih kurungan dan melihat ke dalamnya. Burung mungil itu telah mati dan terbaring kaku di lantai kurungan. Dia mengeluarkannya, menggenggamnya sebentar, lalu melemparkannya ke jalan raya. Dan, pada saat yang bersaamaan dia merasa ketakutan dan sakit hatinya, seolah-olah dirinya telah terlempar bersama-sama burung mati itu bersamaan dengan segala kebaikan dan nilai dalam dirinya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Terjaga dari mimpi itu, Christian diliputi rasa sedih yang begitu dalam. Kesadaran mengantarkan pikiran-pikirannya untuk merasakan; bahwa dirinya telah menggunakan hidupnya dalam sikap tidak berharga dan tidak berperasaan. Dia tidak sedikitpun mencapai sesuatu yang penting. Tidak ada yang berharga atau bernilai yang telah dicapainya. Dia termenung sendirian.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dengan sedih, Christian pergi ke kebunnya yang indah dan menyenangkan. Di dekat gerbang dia duduk di bawah pohon ketapang. Hatinya merasa ketakutan akan kematian. Dia duduk dan merasakan dirinya hampir mati, remuk, dan seolah kiamat akan tiba.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Perlahan-lahan dia kumpulkan pikiran-pikirannya, dan secara batin dia mulai menelusuriseluruh kehidupannya, sejak dari hari-hari awal yang dapat diingatnya. Bilakah dia telah benar-benar merasa bahagia? Kapankah dia benar-benar mengalami kegembiraan? Lalu, perlahan dalam hatinya dia mulai merasakan: “Sebuah jalan terbentang di hadapan yang harus kembali dicarinya untuk kemudia diikutinya. Jalan dengan bimbingan Tuhan.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Hari-hari saat dirinya menjadi pemuda yang terus-menerus memiliki perasaan dan pikiran yang memuncak, mendorongnya untuk mencari ilmu dari para orang bijaksana. Saat dimana dirinya telah belajar banyak dari sang pendeta, masuknya segala pengetahuan segar yang terus menimbulkan kehausan baru, dan lalu di tengah kehausan ini mendorongnya untuk terus maju dan maju, inilah jalanmu. Dia mendengar suara dari dalam diri berkali-kali. Mendengarnya saat dirinya memutuskan mengikuti para musafir, hari dimana dia meninggalkan rumah. Lalu, saat dirinya meninggalkan para musafir untuk mendatangi Kyai Bahdarudin Syamawi, dan juga hari dimana dia telah meninggalkan pria itu untuk sesuatu yang tidak diketahuinya. Berapa lama sejak hari itu hingga saat dia melonjak ke sesuatu yang tinggi?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lalu kini, betapa hambar dan tandusnya jalan yang telah ditempuh. Betapa lamanya dia telah melewatkan tahun-tahun tanpa tujuan yang agung, tanpa kehausan apapun, tanpa kemuliaan. Hanya terisi kesenangan-kesenangan kecil dan tidak pernah menjadi benar-benar puas. Tanpa menyadari hal tersebut, dia telah berupaya keras untuk menjadi seperti orang lain, dan kemudian hidupnya mulai menjadi lebih banyak sial dan lebih miskin dibandingkan mereka, karena sesungguhnya tujuan mereka bukanlah tujuan dirinya, dan kesedihan mereka bukanlah kesedihan dirinya. Dunianya saat ini, yang seluruhnya menjadi dunianya orang-orang Yohanes, semula hanyalah permainan baginya, sebuah tarian, sebuah komedi yang ditonton semua orang.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Semula hanyalah Kaylila yang berharga baginya, begitu bernilai baginya – tetapi masihkah demikian? Masihkah dirinya memerlukan Kaylila, dan masihkah Kaylila membutuhkan dirinya? Bukankah mereka hanya menjalankan permainan tanpa akhir? Perlukah hidup yang seperti ini? Tidak. Permainan ini adalah bentuk kesengsaraan, sebuah permainan yang barangkali terasa menyenangkan bila dimainkan sekali, dua kali, sepuluh kali – tetapi, bergunakah memainkannya secara terus-menerus?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kemudian Christian menyadari bahwa permainan itu telah berakhir, bahwa dia tidak dapat memainkannya lagi. Ketakutan menyelinap dalam dirinya. Dia lalu merasakan seolah-olah sesuatu telah mati.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sepanjang hari dia duduk di bawah pohon ketapang, memikirkan ayahnya, Angelina, memikirkan Kyai Bahdarudin Syamawi. Benarkah dia telah meninggalkan semua itu demi menjadi seorang Yohanes? Dia duduk di sana hingga malam menaungi langit. Ketika menengadah dan melihat gemerlap bintang, Christian berpikir, aku duduk di sini,di bawah pohon ketapang, di kebunku yang indah dan menyenangkan. Dia lalu tersenyum sedikit. Perlukah ini, benarkah ini, bukankah hal ini bodoh; aku harus memiliki sebatang pohon ketapang dan sebuah kebun agar aku dapat menikmati bintang?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dengan pikiran di benaknya itu, dia telah mengakhiri semuanya. Dirinya yang menjadi seperti Yohanes pun telah mati. Dia lalu berdiri, mengucapkan selamat tinggal pada pohon ketapang dan kebunnya yang menyenangkan. Karena dia belum menyentuh makanan sedikit pun, dia kemudian merasa sangat lapar, dan memikirkan rumahnya yang ada di kota, kamarnya dan juga tempat tidurnya, mejanya yang besar berhiaskan hidangan yang lezat. Dengan sangat letih dia tersenyum, menggelengkan kepalanya, dan mengucapkan selamat tinggal pada semua barang itu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pada malam yang sama, Christian telah meninggalkan kebun dan kotanya, dan dia tidak pernah kembali. Lama sekali Yohanes berusaha mencarinya, karena dia berpikir bahwa Christian telah jatuh ke tangan penjahat. Sementara itu, Kaylila tidak sedikit pun berusaha mencarinya. Dia tidak heran dan terkejut saat mengetahui Christian telah hilang. Dia telah mengetahui hal ini sejak lama. Bukankan dirinya adalah seorang musafir, tanpa rumah, seorang pengembara? Kaylila merasa sakit yang melebihi saat pertemuan terakhir mereka. Namun, dalam kesakitannya karena kehilangan Christian, dia merasa bahagia karena telah memeluknya erat-erat hingga begitu dekat dengan jantungnya. Dirinya merasa telah begitu dimiliki dan benar-benar dikuasai oleh Christian.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saat pertama kali dirinya mendengar kabar tentang hilangnya Christian, Kaylila pergi ke jendela tempat dia mengurung burung kenarinya yang langka dalam sangkar emas. Dia membuka pintu sarang, mengeluarkan burung itu, mengelusnya sejenak, lalu membiarkannya terbang. Telah begitu lama Kaylila memelihara burung yang kini terbang itu. Sejak saat itu pula, dia tidak lagi menerima tamu-tamu dan menutup rapat rumahnya. Beberapa waktu kemudian, Kaylila mengetahui impiannya menjadi kenyataan, dari hubungan terakhirnya dengan Christian, dia kini mengandung seorang bayi.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6791496379964808480-5844184232667223256?l=www.robbysyahputra.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/feeds/5844184232667223256/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2011/09/melepas-duniawi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/5844184232667223256'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/5844184232667223256'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2011/09/melepas-duniawi.html' title='Melepas Duniawi'/><author><name>Historical Legend</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701636558006735668</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6791496379964808480.post-9196354801074842785</id><published>2011-09-09T23:38:00.000-07:00</published><updated>2011-09-09T23:39:26.965-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syair Cinta Putra Pelacur'/><title type='text'>Bergabung Bersama</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;C&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;hristian tiba di kediaman Yohanes, pedagang kaya raya. Dirinya dipersilahkan masuk dalam rumah mewahnya. Pelayang mempersilahkan dirinya menunggu dalam salah satu ruang. Setiap jalan dalam rumah dilapisi dengan karpet mahal.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tidak lama Yohanes masuk. Ia penuh keramahan dan gairah. Rambutnya dipenuhi dengan uban. Tatapan matanya bijaksana dan cerdik, meskipun mulutnya penuh hawa nafsu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Aku telah menerima pesan,” Pedagang itu memulai percakapan, “bahwa engkau adalah seorang yang terpelajar, lalu berpikir untuk mencari pekerjaan pada seorang pedagang. Lalu, betulkah engkau benar-benar membutuhkan pekerjaan itu?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Tidak.” Jawab Christian. “Saya tidak memerlukan dan saya tidak akan pernah memerlukan pekerjaan itu. Saya menjadi seorang pengembara, yang dengan dasar itu saya telah hidup untuk waktu yang lama.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Jika engkau memang seorang pengembara, bagaimana mungkin engkau tidak memerlukannya? Bukankah kebanyakan pengembara tidak memiliki apa pun?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Saya tidak memiliki apa-apa.” Jawab Christian. “Jika itu yang anda maksudkan. Saya memeang benar-benar tidak memiliki apa-apa. tetapi, itu semua disebabkan keinginan dan kehendak bebas saya sendiri, karena semua itu memang tidak saya perlukan.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Tetapi bagaimana engkau hidup jika tidak dirimu tidak memiliki apa-apa?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Saya tidak pernah memikirkan hal itu, Pak. Selama hampir tiga tahun saya hidup seperti ini, dan selama itu saya tidak pernah berpikir dengan apa saya harus hidup.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Jadi,” Pedagang itu tersenyum cerdik, “engkau selama ini hidup dari milik orang lain?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Tampaknya demikian. Bukankah pedagang juga hidup dari milik orang lain?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Begitukah menurutmu? Tetapi pedagang tidak mengambil sesuatu dari orang lain, melainkan dia memberikan sebentuk barang-barang sebagai gantinya.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Setiap hal mempunyai cara berbeda tentunya. Tetapi yang pasti adalah, setiap orang mengambil, dan setiap orang memberi. Itulah hidup.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Lalu, jika engkau tidak memiliki apapun, bagaimana engkau mampu memberi?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Setiap orang akan memberikan apa yang dirinya punyai. Seorang tentara akan memberikan kekuatan dan keberaniannya, seorang pedagang akan memberikan barang-barang, guru memberikan ilmu, petani memberikan beras, nelayan memberikan ikan.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Baiklah, lalu apa yang dapat engkau berikan? Apakah yang telah engkau pelajari hingga engkau dapat memberi?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Saya mampu berpikir, menunggu, berpuasa, bersabar dan berdoa.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Itu saja?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Kukira hanya itu.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Lalu, apa gunanya semua itu? Misalnya berpuasa, apa baiknya?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“begitu besar nilainya, Pak. Jika seseorang tidak memiliki apa pun untuk dimakan, berpuasa akan menjadi hal paling cerdas yang dapat dilakukannya. Misalnya, jika diriku tidak pernah belajar berpuasa, dia harus mencari pekerjaan apa saja sekarang ini, baik dengan anda, atau dengan yang lainnya, karena lapar telah mendorongnya. Tetapi, seperti apa adanya, saya dapat menunggu dengan tenang. Dia mampu bersabar. Bisa untuk tidak membutuhkannya. Mampu melawan kelaparan untuk beberapa waktu lamanya, lalu menertawakannya. Oleh sebab itu, berpuasa sangat berguna, Pak.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Baiklah, anda benar pengembara. Tunggulah sebentar.” Yohanes beranjak, lalu kembali dengan sebuah map yang disampaikan pada tamunya, lalu bertanya. “Dapatkah engkau membaca ini?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian membuka map yang di dalamnya berisi perjanjian penjualan secara tertulis, lalu dia mulai mebaca isinya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Bagus,” Kata Yohanes. “Lalu, maukah engkau menuliskan sesuatu pada lembaran ini untuk saya?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dia memberikan sebuah lembaran kertas serta sebuah pena, lalu Christian menuliskan sesuatu kemudian mengembalikannya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Yohanes lalu mebacanya, “Menulis adalah baik, berpikir lebih baik. Kepandaian adalah baik, namun kesabaran itu lebih baik.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Engkau menulis dengan sangat baik sekali.” Puji Pedagang kaya itu. “Kita masih akan mendiskusikan banyak hal lainnya, tetapi hari ini engkau menjadi tamu saya dan akan tinggal di rumah saya.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian lalu mengucapkan terima kasih dan menerimanya. Kini ia telah tinggal di rumah pedagang itu. Pakaian dan sepatu dibawakan kepada dirinya dan seorang pelayan disediakan untuk segala keperluannya setiap hari. Makanan enak dihidangkan padanya dua kali sehari, tetapi Christian hanya makan sekali sehari saat malam bersama pedagang kaya itu. Dia hanya makan secukupnya dan tidak meminum anggur. Yohanes banyak membicarakan usahanya pada Christian, memperlihatkan barang-barang dagangan, gudang-gudang serta kekayaannya. Christian belajar banyak hal-hal baru. Dia lebih banyak mendengar dan sedikit sekali berbicara. Dan, hal terpenting adalah ucapan Kaylila, dia tidak pernah sekalipun merendahkan dirinya kepada pedagang itu, tetapi membuat dirinya diperlakukan sederajat bahkan lebih. Yohanes memimpin usahanya dengan cukup hati-hati dan juga penuh semangat. Tetapi Christian, memperlakukan semua itu hanya layaknya sebuah permainan, membentuk aturan-aturan yang diusahakan untuk dipelajarinya secepat mungkin, tanpa berusaha untuk mengacaukan hatinya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian membentuk waktunya sendiri setelah dia berhasil mengambil bagian dalam usaha tuannya itu. Setiap hari, saat Kaylila mengundangnya, dia akan segera mengunjungi Kaylila yang cantik. Pakaian indah telah mebalut tubuhnya serta sepatu yang bagus. Ia pun telah membawakan hadiah untuk wanita itu. Dia telah belajar begitu banyak hal dari bibir merahnya yang bijaksana, tangannya yang halus dan lembut. Christian yang masih seperti anak-anak dalam soal cinta bermaksud untuk terjun ke dalamnya, meskipun dengan keadaan buta namun dirinya tidak juga terpuaskan. Dirinya belajar dari wanita itu, bahwa orang tidak dapat memiliki kenikmatan tanpa meberikannya. Dan bahwa setiap bentuk gerakan, setiap ciuman, setiap sentuhan, setiap pandangan, dan setiap bagian tunggal tubuh mempunyai rahasianya sendiri, yang dapat memberikan kenikmatan kepada orang yang dapat mengerti. Kaylila mengajarkan kepada Christian bahwa orang-orang yang sedang bercinta tidak boleh berpisah satu dengan lainnya saat mereka selesai bersenggama tanpa saling mengagumi, tanpa ada perasaan telah dikalahkan dan mengalahkan, sehingga tidak akan ada perasaan jenuh ataupun sedih yang timbul, atau perasaan tidak enak karena telah menyalahgunakan atau disalahgunakan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian memanfaatkan setiap jam-jam indah bersama wanita penghibur yang cantik, cerdik, dan dirinya terus menjadi muridnya, serta temannya. Sesungguhnya bersama Kaylila terbentang nilai dan arti kehidupannya sekarang, bukan dalam bisnis bersama Yohanes.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pedagang itu memintanya untuk menuliskan surat-surat penting dan pesanan. Mereka mulai terbiasa berbincang-bincang tentang semua masalah penting. Lalu, Yohanes melihat bahwa Christian sedikit mengerti mengenai beras dan minyak, pengiriman dan penjualan. Tetapi dia lalu menyadari, bahwa Christian juga memiliki kepandaian khusus yang membahagiakan dan itu melebihi dirinya; yakni dalam ketenangan hati dan dalam seni mendengarkan dan meyakinkan orang asing.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Pedagang itu,” Katanya kepada seorang teman, “bukanlah pedagang sesungguhnya, dan tidak akan pernah menjadi pedagang. Dia tidak pernah terpikat dengan bisnis, tetapi dia memiliki rahasia orang-orang itu, dan untuk dirinya sukses datang dengan sendirinya. Entah itu disebabkan dirinya lahir di bawah bintang keberuntungan, ataukah dia memakai sihir, atau dia belajar banyak saat dirinya menjadi pengembara. Kelihatannya dia akan selalu bermain dalam bisnis, karena bisnis itu sendiri tidak pernah bisa menarik hatinya. Tidak pernah sekalipun menguasainya. Sedikitpun dia tidak mencemaskan kegagalan. Dia tidak pernah sekalipun mengkhawatirkan kerugian.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lalu, teman itu menyarankan pada si pedagang kaya itu, “Berikan padanya sepertiga dari keuntungan usaha yang dipimpinnya, tetapi kelak biarkan dia menanggung kerugian yang sama besar dengan dirimu saat terjadi kerugian. Ini tentu akan mebuatnya lebih bersemangat.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Yohanes lalu mengikuti saran temannya, tetapi Christian tetap kurang berminat pada hal tersebut. Jika dirinya memperoleh keuntungan, dia akan menerimanya dengan diam dan tenang. Dan, jika dirinya menderita kerugian, dia akan tertawa lalu berkata, “Baiklah, transaksi ini ternyata telah meburuk.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Seluruh kenyataan yang ada, menunjukkan sepenuhnya bahwa Christian tetap tidak menyenangi bisnis. Pernah sekali waktu dirinya melakukan perjalanan ke salah satu desa untuk membuat perjanjian pembelian beras saat panen raya. Akan tetapi, saat dirinya tiba di sana, seluruh padi telah terjual pada pedagang lainnya. Namun, Christian tetap tinggal di desa itu beberapa hari lamanya. Ia menghibur petani, memberikan uang pada anak-anak, menghadiri perkawinan dan pulang dari perjalanan itu dengan segenap kepuasan dalam hatinya. Yohanes lalu menyalahkannya karena tidak segera kembali, karena dirinya telah mebuang begitu banyak waktu dan uang. Christian dengan tenang menjawab, “Jangan cerewet, sahabatku. Tidak ada yang akan engkau hasilkan dengan omelan. Jika kepergianku ini menimbulkan kerugian bagimu, aku akan menanggung kerugian itu. Aku sangat puas dengan perjalanan ini. aku menemui dan berkenalan dengan banyak orang. Aku telah bersahabat dengan penduduk. Anak-anak duduk di pangkuanku. Para petani memperlihatkan sawah mereka kepadaku. Bahkan tidak ada seorangpun di sana yang menganggap aku seorang pedagang.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Baiklah, semua itu tidak salah.” Yohanes mengakui dengan malu-malu, “Tapi, kenyataannya engkau tetaplah seorang pedagang, atau mungkin engkau hanya melakukan perjalanan hanya untuk kesenanganmu saja?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Tentu saja aku melakukan perjalanan itu untuk kesenanganku.” Christian tertawa. “Mengapa tidak? Aku telah mengenal daerah baru dan orang-orang. Aku menikmati persahabatan dan sebentuk kepercayaan. Kini, andaikan aku menjadi dirimu, aku akan segera pergi karena merasa sangat terganggu, disebabkan aku telah gagal melakukan pembelian, dan pada kenyataannya pun banyak waktu dan uang telah terbuang. Tetapi, aku telah memanfaatkan banyak hari dan waktuku dengan baik, belajar banyak hal, merasakan begitu banyak kenikmatan, dan aku tidak sedang menyakiti diriku sendiri dan juga orang lain melalui sebentuk kejengkelan dan kegugupan. Seandainya kelak aku dapat pergi ke sana lagi, barangkali membeli hasil panenan kemudian, atau untuk maksud-maksud lainnya, orang-orang yang bersahabat itu akan lebih menerimaku dengan terbuka, dan aku akan merasa lebih senang bahwa aku tidak melakukan ketergesaan dan bertindak kurang menyenangkan sebelumnya. Namun, biarlah semua itu terhenti dulu. Sahabatku, janganlah engakau menyakiti dirimu dengan omelan. Jika harinya nanti tiba, yakni saat engkau berpikir aku telah menyakiti hatimu, maka katakanlah itu sekali saja, dan aku akan segera melanjutkan perjalananku. Akan tetapi, sampai saat itu akhirnya tiba, biarlah kita tetap menjadi sahabat saja.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Maksud pedagang itu agar Christian memakan umpan darinya ternyata juga gagal. Christian memakan miliknya sendiri. Christian tidak sedikitpun tertarik pada kesulitan Yohanes, sedangkan Yohanes memiliki banyak sekali kesulitan. Saat sebuah transaksi diancam tidak berhasil, jika pengiriman-pengiriman barang terancam hilang, jika seseorang yang berhutang tidak mampu membayar hutangnya. Yohanes tidak pernah sekalipun berhasil membujuk temannya; bahwa semua itu untuk memenuhi kebutuhan agar kelak tidak menemui kesulitan yang menyebabkan kemarahan, atau hanya sekedar membentuk kerutan di dahi dan sulit tidur. Pernah sekali waktu Yohanes memperingatkan bahwa Christian telah diajarkan banyak oleh dirinya, dengan ringan Christian menjawab, “Janganlah membuat lelucon seperti itu, sahabatku. Saya hanya belajar berapa harga sekarung beras, dan berapa besar laba yang diterima dari orang yang berhutang. Itulah pengetahuan anda. Tetapi aku tidak belajar cara berpikir dari anda, Yohanes. Sesungguhnya akan lebih baik bagimu, jika engkau belajar hal itu dari diriku.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Itulah Christian, hatinya memang tidak pernah ada dalam bisnis. Bisnis hanya berguna baginya sebagai alat untuk mendapatkan uang bagi Kaylila, dan sebenarnya uang yang diperolehnya melebihi akan kebutuhannya sendiri. Selain itu, ketertarikan dan keingintahuan Christian hanya pada sosok seseorang, sedangkan pekerjaan mereka, kesulitan mereka, kesenangan mereka, dan kebodohan mereka, asing baginya dan terlalu jauh untuk dipikirkannya, seolah jarak bulan dari bumi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Meskipun pada kenyataannya dia begitu gampang berbicara kepada setiap orang, hidup berbaur dengan orang lain, belajar dari setiap orang, dia sangat menyadari bahwa ada sesuatu yang memisahkan dirinya dari mereka – dan hal ini berhubungan dengan kenyataan bahwa dia telah menjadi seorang musafir, seorang pengembara untuk waktu yang lama. Dia melihat orang-orang hidup dengan cara kekanak-kanakan atau seperti binatang, yang keduanya begitu dicintai dan diremehkan. Dia melihat orang-orang bekerja keras. dia melihat mereka menderita lalu menjadi tua, yang menurut dirinya itu sangat tidak berharga – untuk kesenangan, walau hanya sedikit, dan sebentuk kehormatan yang sepele. Dirinya melihat orang-orang saling mencemoohkan dan meremehkan, mereka saling menyakiti. Dia juga melihat mereka berkeluh kesah, atau merasa sakit, dan menderita saat mengalami kerugian yang oleh para musafir hal tersebut tidak pernah terpikirkan dan dirasakan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian menerima semua orang yang datang kepadanya. Dia menyambut setiap pedagang yang membawakan dagangan untuk dijual kepadanya. Dia menyambut baik setiap orang yang datang berhutang kepadanya. Dia menyambut baik seorang pengemis yang duduk di tempatnya selama satu jam, lalu menceritakan tentang kemiskinannya, meskipun dia merasa orang itu tidak lebih miskin dari dirinya saat dahulu. Dia tidak memperlakukan orang kaya berbeda dengan seorang pelayan yang membersihkan lantai, bahkan seorang pejalan kaki yang mencuri recehan darinya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saat Yohanes datang padanya dan menceritakan tentang kesulitan-kesulitannya, atau hanya sekedar meremahkannya tentang sebuah transaksi, Christian akan mendengarkannya dengan sungguh-sungguh, penuh perhatian dan menjadi orang yang mengagumkan. Dia berusaha memahami dan mengerti. Lalu, dia akan memberikan sedikit apa yang dibutuhkannya, untuk kemudian dia akan kembali berpaling ke orang lain yang menghendakinya. Dan itulah Christian, banyak yang ingin berdagang dengannya, banyak yang berusaha memperoleh simpatinya, banyak yang mendengarkan saran-sarannya. Dia memberikan saran, dia bersimpati, memberikan hadiah, dia membiarkan dirinya ditipu sedikit, dan dia pun memenuhi pikiran-pikirannya dengan semua permainan itu, lalu dia akan merasa sedikit bergairah.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ada kalanya dia akan mendengar suara halus dari dalam dirinya. Suara yang terasa begitu lembut, yang mengingatkannya dengan tenang, mengeluh dengan tenang, sehingga dia hampir tidak mendengarnya. Kemudian di lain waktu, dia melihat segalanya dengan lebih jelas bahwa sebenarnya dia sedang menjalani kehidupan yang aneh, bahwa dirinya sebenarnya sedang melakukan banyak hal yang hanya merupakan sebuah permainan, bahwa dia akan merasa sangat senang dan terkadang merasakan kenikmatan, dan sesungguhnya kehidupan nyata itu hanya lewat di depannya, bahkan tidak sedikitpun menyentuhnya, – seperti seorang pemain bola, dia sedang bermain dengan bisnisnya, dengan orang-orang di sekitarnya, melihat mereka, mengejar mereka, sedikit memperoleh hiburan dari mereka; – tapi dengan hatinya, dengan sikap dasarnya yang nyata, dia tidak sedang berada di sana. Dirinya yang sebenarnya berkelana ke mana saja, jauh, berkelana terus-menerus dengan tidak terlihat dan bahkan terkadang tidak terkait dengan urusan kehidupannya. Kadang-kadang Christian merasa takut dengan pikiran-pikiran ini dan ingin juga ia dapat membagi urusan-uran sehari-hari yang kekanak-kanakan dengan kehebatannya, dengan segala kesungguhan untuk bisa mengambil bagian di dalam urusan-urusan ini, untuk bisa menikmati hidup dan hidup seperti orang-orang ketimbang hanya di sana sebagai penonton.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Hari-hari kemudian, dia datang ke tempat Kaylila yang cantik, saat dirinya telah mempunyai uang yang cukup baginya untuk dia mulai mempelajari seni bercinta, yang lebih dari segalanya, bagaimana memberi dan menerima menjadi satu. Dia kemudian berbincang-bincang dengan Kaylila, belajar dari dirinya, memberikan saran kepadanya dan juga menerima saran. Kaylila dapat mengerti dirinya secara lebih baik bila dibandingkan Angelina di saat-saat dahulu. Dia jauh lebih nyaman bersama Kalila.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pernah satu kala dia berkata kepada Kaylila, “Engkau berbeda dengan orang lain. Engkau menyukai diriku. Engkau menjadi Kaylila dan bukan orang lain. Jauh di dalam dirimu terdapat ketenangan dan sebuah tempat perlindungan, dan setiap saat engkau mampu untuk kembali menjadi dirimu sendiri seperti yang terlihat olehku. Namun, untuk itu hanya sedikit sekali orang yang mempunyai kemampuan seperti itu, tidak setiap orang mampu memilikinya.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Tidak semua orang pandai.” Jawab Kaylila&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Tidak sedikit pun berkaitan dengan itu Kaylila sayang.” Kata Christian. “Yohanes sepandai diriku, tetapi tidak sedikitpun dalam dirinya memiliki tempat berlindung. Kebanyakan orang hanya memiliki pemahaman seorang anak kecil. Kebanyakan orang, Kaylila, layaknya daun yang melayang gugur, jatuh terguncang angin dan meliuk-liuk di udara, berkibar-kibar sebelum akhirnya terhempas ke tanah. Tetapi, sedikit sekali yang bisa seperti bintang-bintang yang mengitari satu garis edar. Tidak ada angin yang menyentuh bintang-bintang itu. Dalam diri mereka, mereka memiliki petunjuk dan jalan mereka sendiri. Di antara semua orang bijaksana yang banyak ku ketahui, ada satu orang yang sempurna dalam hal ini. hingga hari ini pun aku tidak dapat melupakannya. Orang memanggilnya Kyai Bahdarudin Syamawi, yang menyampaikan dengan agung ajaran-ajarannya. Ribuan orang mendengarkan ajaran-ajaran itu setiap harinya, dan beriringan beribadah secara jemaah setiap beberapa jam bersamanya. Tetapi, orang-orang yang mengikutinya adalah daun jatuh, mereka tidak memiliki kebijaksanaan dan petunjuk dalam diri mereka. Mereka mencintai pria itu melebihi cinta pada Tuhan. Mereka yang akan berpaling bila pria itu menjadi daun jatuh atau bila jasadnya punah.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kaylila memandang dirinya dan tersenyum hangat. “Engkau membicarakan dirinya lagi.” Ujarnya. “Saat membicarakannya engkau kembali terlihat seperti seorang pengembara.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian terdiam. Mereka bertatapan lama, kemudian bersenggama lagi, tiga dari puluhan gaya permainan berbeda yang diketahui Kaylila. Tubuh wanita itu lentur. Siapa pun yang mempelajari seni bercinta darinya, akan mempelajari begitu banyak kenikmatan, banyak rahasia. Kaylila bisa lama sekali saat bersenggama dengan Christian, mengalahkannya, menguasainya, mengalahkannya, lalu bergembira pada saat bersamaan mencapai kepuasan, hingga Christian selesai dan terbaring letih di sisi Kaylila.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Wanita penghibur itu membungkuk di atasnya dan memandangi wajah Christian lama sekali, jauh ke dalam matanya yang mulai terlihat letih.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Engkaulah kekasih terbaik yang pernah aku miliki. Kata Kaylila dalam benaknya. “Kau lebih kuat dibandingkan yang lain, lebih supel dan bernafsu. Engkau telah mempelajari seniku dengan baik, Christian. Suatu hari nanti, saat diriku akan menjadi tua, aku ingin memperoleh anak darimu. Dan, sampai sekarang, kekasihku, engkau masihlah tetap seorang pengembara. Engkau tidak benar-benar mencintaiku. Bahkan engkau tidak mencintai siapa pun. Tidak benarkah itu?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Mungkin saja.” Jawab Christian dengan letih. “Aku seperti layaknya dirimu. Engkau yang tidak pernah mencintai siapa pun, bagaimana mungkin engkau mampu mempraktekkan cinta sebagai sebuah seni? Barangkali sebenarnya orang-orang seperti kita tidak dapat bercinta, kita hanya mengumbar nafsu. Orang-orang biasalah yang dapat, dan itulah rahasia mereka.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian menatap jauh ke dalam relung pandang Kaylila. Mereka saling menyentuh kedalaman jiwa mereka melalui tatapan. Saat rasa dingin, kehangatan dan rasa antara keduanya menyatu dalam jiwa mereka, mereka mengakhirinya dengan ciuman yang bagi Christian mulai berkurang kemanisannya. Hari itu, mereka bersenggama beberapa kali lagi.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6791496379964808480-9196354801074842785?l=www.robbysyahputra.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/feeds/9196354801074842785/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2011/09/bergabung-bersama_09.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/9196354801074842785'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/9196354801074842785'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2011/09/bergabung-bersama_09.html' title='Bergabung Bersama'/><author><name>Historical Legend</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701636558006735668</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6791496379964808480.post-4486690926026040345</id><published>2011-09-09T23:37:00.000-07:00</published><updated>2011-09-09T23:38:35.778-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syair Cinta Putra Pelacur'/><title type='text'>Chapter 2 : Dalam Kebun Kaylila</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" &gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;C&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;hristian terus belajar hal yang baru di setiap langkahnya, saat dia menemui dunia yang berubah, dia terpesona. Dia melihat saat mentari terbit melalui gunung-gunung, lalu di lain waktu dia melihatnya terbenam di sudut laut melalui kejauhan di atas pantai kelapa. Di malam harinya ia melihat bintang-bintang di langit serta bulan sabit yang mengambang bagai perahu di atas laut biru. Di melihat banyak bentuk pepohonan, binatang-binatang, pelangi, bebatuan, bunga, ganggang dan sungai. Biru pucatnya gunung tinggi di kejauhan, kemilaunya embun pagi tertimpa cahaya. Mendengar kicauan burung, lebah berdengung, serta suara angin yang lembut bertiup di atas sawah. Semua hal yang dialaminya begitu berwarna dan terwujud dalam seribu bentuk yang berbeda-beda, semuanya selalu ada di sana. Matahari dan bulan terus bersinar. Sungai-sungai akan selalu mengalir dan burung terus berkicau, serta lebah telah berdengung. Tetapi semua hal itu tidak berarti bagi Christian di waktu yang lampau. Semua hal hanyalah sebuah kabut yang dibuat-buat dan lewat begitu saja di depan matanya. Sesuatu yang dipandang dengan ketidakpercayaan, dikutuk untuk tidak perlu dihormati, serta diasingkan dari segala bentuk pikiran-pikiran; dikarenakan semua itu bukanlah kenyataan, karena segala bentuk kenyataan terdapat di sisi lain yang bisa terlihat. Akan tetapi, kini matanya tetap hidup di sisi ini. ia dapat melihat dan mengenal yang dilihantnya dan ia mencari tempatnya di dunia. Dia tidak berusaha mencari kenyataan. Tujuannya bukanlah pada sisi lain. Dunia akan menjadi indah bila dilihat dengan cara ini, tidak perlu pencarian, begitu sederhana dan semuanya menjadi sudut pandang kekanak-kanakan, apa adanya. Bulan dan bintang itu sangat indah. Sungai, hutan, gunung, pantai dan bebatuan, kambing dan lebah, bunga dan kupu-kupu, semuanya juga indah. Sungguh sangat indah dan menarik hati menjelajah dunia yang seperti ini. begitu sangat disadari, menjadi begitu diperhatikan; tanpa ketidakpercayaan. Di manapun, matahari akan selalu membakar dengan garangnya. Di manapun, di bayangan pepohonan akan selalu dingin. Ada hari dan malam. Setiap waktu akan berlalu dengan cepat. Dirinya melihat sekelompok kera di dalam hutan, bergelantungan di antara pepohonan pada cabang-cabangya, dan mendengarkan teriakan mereka yang buas serta begitu penuh akan keinginan. Christian memperhatikan seekor kambing jantan mengikuti domba dan pasangannya. Di beningnya danau ia melihat seekor ikan mengejar mangsanya dalam petang yang penuh kelaparan. Sekelompok ikan muda seolah kebingungan dan berkilauan, bergerak dengan ketakutannya terus berusaha menjauhi ikan-ikan besar. Kekuatan dan nafsu terpantul dalam putaran arus air yang berputar mengalun, terbentuk oleh pengejar yang marah.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Semua hal itu selalu ada, tetapi dia tidak pernah menyaksikannya. Dia tidak pernah hadir di situ. Namun, kini dia hadir dan menjadi milik semua itu. Melalui matanya ia telah melihat bentuk cahaya dan bayangan. Melalui pikirannya ia memperhatikan adanya bulan dan bintang.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dalam perjalanannnya, Christian berusaha mengingat apa yang dialaminya di As-Salam, ajaran-ajaran yang telah dia dengar di sana, perpisahan dengan Angelina dan percakapan dengan pria suci. Ia mengingat setiap kata yang telah dikatakannya kepada pria suci, dan, dia sangat terpukau bahwa dia telah mengatakan hal-hal yang dia sendiri kemudian benar-benar tidak memahami. Apa yang telah diucapkannya – bahwa kebijaksanaan dan rahasianya tidak dapat diajarkan, bahwa ajaran itu tidak terkatakan dan tersampaikan – dan yang telah dialaminya dulu dalam satu jam penerangan adalah hanya apa yang dia miliki sekarang ini sebagai awal. Dia harus mengalaminya sendiri. Telah lama dia yakin bahwa dia dapat menjadi tunggal, dari sifat dasar yang sama dengan orang-orang suci. Hanya saja dia merasa tidak pernah menemukan diri yang sebenarnya, karena dia telah memerangkapkannya dalam jaring-jaring pikirannya sendiri. Badan bukanlah diri yang sebenarnya, bukan pula tempat untuk memainkan rasa, bukan pula pikiran, bukan pengertian, bukan pula menjadi sebuah kebijaksanaan yang begitu dibutuhkan, atau sebuah seni yang dapat disimpulkan; dan sesungguhnya dari pemikiran-pemikiran yang telah ada, dapat dikisarkan untuk pikiran-pikiran baru. Tidak, dunia pikiran sebenarnya masih berada pada satu sisi, dan itu tidak akan menuju pada satu titik tujuan bila seseorang menghancurkan perasaan-perasaan akan diri untuk memberinya pikiran dan pengetahuan. Baik keberadaan pikiran dan perasaan adalah hal-hal yang baik, di belakang keduanya tersembunyi makna yang mendalam. Sungguh menjadi sangat bernilai saat kita bermain menggunakan keduanya, untuk tidak memandang rendah atau menilai terlalu tinggi keduanya, tetapi cobalah untuk mendengarkan dengan penuh perhatian suara keduanya. Raga akan menjadi berusaha keras sesudah suara apapun di dalam memerintahkannya, dia tidak akan tinggal di mana pun melainkan di tempat di mana suara itu menyarankan sesuatu kepadanya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Mengapa dulu Angelina duduk di atas pakaiannya saat mereka menerobos kesadaran duniawi? Dia mendengarkan sebuah suara, bahwa sesungguhnya dia mendengar suara dari dalam jantungnya sendiri yang memerintahkan untuk duduk di atas pakaiannya, dan dia tidak mengambil jalan lain hanya untuk mendera pikiran dan perasaannya; dia telah mendengar suara itu. Untuk menuruti perintah dari luar yang masuk ke dalam, bukan yang lain, hanya suara, untuk dipersiapkan – dan, itu baik, itu perlu. Tidaka ada hal lain yang lebih.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saat malam-malam merayap di langit, saat Christian membaringkan dirinya di atas jerami kering, Christian telah bermimpi. Dia melihat Angelina menghampirinya, dia menggunakan sebentuk pakaian keindahan dan berbalut kerudung dan jubah. Angelina terlihat sedih dan bertanya pada dirinya, “Mengapa engkau meninggalkan diriku?” Setelah itu, Christian memeluk Angelina, menangkupkan kedua tangan kepadanya, meletakkan di dadanya, lalu menciumnya. Tetapi di hadapannya bukan lagi Angelina, melainkan seorang wanita lainnya. Dari gaun indah wanita itu keluar sepasang payudara padat dan sempurna, dan Christian berbaring di pelukan wanita itu lalu menghisap payudara itu. Manis dan lezatnya air susu yang keluar dari payudara itu. Serasa indahnya matahari menyinari hutan, lebah membuahi bunga, serasa beraneka rasa buah-buahan, serasa seetiap bentuk kelezatan. Air susu itu tiba-tiba terasa mencekat, air susu itu beracun. Christian terbangun. Ketika dirinya terbangun, kemilau pucatnya sungai di bawah temaram bulan membayang di matanya, dan di antara pepohonan terdengar lengkingan burung hantu, jelas dan nyaring.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saat pagi merambat di sela-sela dedaunan, Christian meminta kepada pengayuh rakit, untuk menyebrangkannya. Pengayuh itu dengan senyuman membawanya menyebrangi sungai dengan rakit bambunya. Hamparan air itu berkilau merah jambu terkena cahaya pagi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Sungai yang indah.” Kata Christian.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Ya,” jawab pengayuh itu. “Sungai yang sangat indah. Aku begitu mencintainya di atas segala-galanya. Aku sering mendengarkannya, menatapnya, dan dari dia aku selalu belajar sesuatu. Seseorang dapat belajar banyak dari sungai.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Terima kasih, Orang Baik,” Kata Christian saat tiba di sisi sungai yang lain. “Saya khawatir bahwa saya tidak dapat memberikan hadiah apapun kepada anda, atau bayaran untuk anda. Saya tidak berumah, seorang pengelana.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Saya bisa melihatnya.” Kata pengayuh rakit itu, “dan, saya tidak mengharapkan bayaran atau pemberian apapun dari anda. Anda akan memberikannya kepada saya di lain waktu.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Begitukah?” Tanya Christian dengan gembira.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Tentu. Saya telah belajar begitu banyak dari sungai; bahwa segala sesuatu akan kembali. Begitu juga anda, pengelana, pasti akan kembali. Sekarang, selamat berpisah, mudah-mudahan persahabatan ini menjadi pembayaran bagi saya. Ingatlah saya bila anda kelak memanjatkan doa pada Tuhan.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tersenyum, lalu keduanya berpisah. Christian merasa begitu senang dengan persahabatan itu. Ia merasa melihat sosok Angelina, pikirnya dalam senyum. Semua hal yang ditemuinya menunjukkan sosok Angelina. Semua begitu berterima kasih, meskipun mereka sendiri pantas mendapatkan terima kasih. Semua seakan bersikap patuh. Seolah-olah semuanya ingin menjadi temanku, menurut dan berpikir sedikit saja. Orang-orang itu seperti anak-anak.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saat tengah hari menyapa, Christian melewati sebuah desa. Anak-anak kecil menari di tengah jalan, di depan gubuk-gubuk mereka. Mereka bermain dengan pecahan buah kelapa dan batu-batu gundu kecil. Mereka berteriak dan saling bergelut, tetapi kemudian berlari dengan takut-takut saat pengelana asing itu muncul. Di ujung desa, jalan itu bertepian dengan kali, dan dari pinggir kali Christian melihat seorang wanita muda berlutut mencuci pakaian. Saat Christian menghampiri dan menyapanya, lalu menyalaminya, wanita itu mengangkat kepalanya dan menatap dirinya dengan senyuman, sehingga Christian bisa melihat putih mata wanita itu berkilauan. Christian menyampaikan salam, lalu menanyakan berapa jauh lagi jalan menuju kota. Setelahnya, wanita itu berdiri dan tegak di hadapan Christian. Bibirnya yang basah berkilau pada wajahnya yang muda itu, sungguh sangat menarik hati. Dia berbasa-basi pada Chrsitian, dan menanyakan apakah dirinya sudah makan, dan apakah seorang pengelana seperti dirinya tidur sendirian dalam malam-malamnya, tanpa kehangatan dari seorang wanita. Lalu, perempuan itu meletakkan kaki kirinya di atas kaki kananya dan membuat sebuah gerakan, seolah terlihat seperti wanita yang mengundang laki-laki untuk melakukan kenikmatan cinta yang disebut dengan istilah “mendaki bukit”. Christian merasakan darahnya bergelegak, dan ketika dia mengingat kembali impiannya saat itu, ia membungkukkan tubuhnya sedikit ke arah wanita itu, mendekatkan penciumannya pada puting payudaranya yang tertutup kain batik cokelat. Ketika menengadah, ia melihat wanita itu tersenyum penuh gairah, dan sorot matanya yang setengah tertutup memohon dengan penuh kerinduan dan nafsu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian juga merasakan kerinduan dan gejolak birahi dalam dirinya. Oleh karena dirinya belum pernah menyentuh perempuan asing, dirinya merasa gugup sebentar, meskipun kedua tangannya telah siap untuk memeluk perempuan itu. Pada saat itulah dirinya mendengar suara dari dalam, dan suara itu berkata, “Jangan!” Kemudian semua keajaiban itu lenyap dari wajah tersenyum wanita muda itu. Dia tidak melihat sesuatu selain dari pandangan yang bergairah dari seorang wanita muda yang penuh nafsu. Dengan lembut Christian mengusap pipi perempuan itu dan dengan cepat menghindar dari wanita yang kecewa itu, dan menghilang di antara balik pepohonan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sebelum sore menjemput, langkah Christian telah menghantarkannya hingga kota dan diapun merasa gembira, karena dia mempunyai keinginan untuk bersama dengan orang banyak. Dia telah tinggal di alam, dan untuk waktu yang lama dia merasa sendirian, tidur di atas jerami di malam-malam sebelumnya, hingga ia merasa lupa akan rasanya bernaung di bawah sebuah atap.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Di pinggir kota, di tepi sebuah kebun yang tidak berpagar, pengembara itu bertemu dengan sekelompok pelayan wanita dan pria yang diantaranya membawa keranjang. Di tengah kebun, di bawah teduhnya pohon mangga, di atas kursi berukir yang berbantal, duduklah seorang wanita. Christian berdiri tegak tepat di pintu masuk, dan matanya menatap lekat pada wanita itu. Di balik rambutnya yang terurai dan berwarna hitam, Christian melihat seraut wajah cerdas, begitu cantik dan berkilau, bibir cerah dan berkilat basah, alis yang di cat dengan lengkungan tinggi, matanya yang kecoklatan terasa cerdik dan menyelidik, serta leher jenjangnya berdiri di atas gaun putih bersulam benang emas. Tangannya begitu kukuh dan lembut, panjang dan semampai, dengan beberapa gelang emas melingkari pergelangannya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian melihat begitu cantiknya wanita itu, dan hatinya merasa begitu bahagia. Dia membungkuk rendah sekali saat tatapan wanita itu mengarah pada dirinya, lalu ia mengangkat kembali dirinya. Untuk beberapa saat memandang ke dalam mata cekungnya. Wanita itu perlahan mendekatinya, Chrsitian menghirup harum wewangian yang asing namun menggodanya. Untuk sesaat wanita cantik itu mengangguk dan tersenyum, kemudian dirinya berbalik, menghilang ke dalam rumah. Lalu Chrsitian berpikir kalau dirinya telah memasuki kota dengan bermandikan cahaya bintang keberuntungan. Ia merasakan dorongan yang kuat untuk memasuki kebun dengan segera, tetapi berulang kali ia tertahan dan berpikir, karena dia segera melihat betapa para pelayan itu begitu lekat menatap pada dirinya, tatapan mereka sungguh menghina, sangat menaruh ketidakpercayaan, dan dari gerakan mereka sungguh terlihat begitu menolak.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Aku hanyalah seorang pengembara lusuh, demikian pikirnya, masih seorang yang sendirian dan tidak mempunyai suatu apa pun. Aku tidak dapat terus seperti ini. Aku tidak bisa tetap seperti ini. Aku tidak dapat memasuki kebun seperti ini. Dan, dia tertawa.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lalu dia kembali melangkah, dia bertanya segera pada orang pertama yang ditemuinya, milik siapakah kebun itu dan siapakah nama wanita itu. Lalu dirinya mengetahui kebun itu milik Kaylila, seorang pelacur terkenal. Dan, selain kebun itu, Kaylila mempunyai sebuah rumah lainnya di tengah kota.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kemudian Christian melanjutkan langkahnya memasuki kota. Dalam hatinya ia memiliki satu tujuan. Untuk menggapai tujuannya itu, ia melihat kota, berjalan-jalan di sepanjang kota, berdiri tegak di penjuru dan tempat-tempat, dan beristirahat di anak tangga. Saat malam mendekati hari, ia berkenalan dengan seorang tukang cukur. Dia berjumpa dengannya di depan sebuah masjid, saat pria itu selesai beribadah. Pada malam harinya, ia tidur di antara tumpukan bangku, di bawah tenda warung pinggir jalan, dan pagi-pagi sekali saat tukang cukur itu selesai beribadah, Christian menghampirinya. Ia minta dicukurkan jenggotnya, dan dirapikan rambutnya, ia meminta agar rambutnya disisir rapi dan diberi minyak terbaik yang dimilikinya, setelah sebelumnya ia mandi di masjid.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saat Kaylila yang cantik itu duduk di kebunnya pada sore hari, Christian berdiri tegak di pintu masuk. Dia membungkuk dan menerima balasan salam dari pelacur itu. Dia memberikan isyarat pada pelayan yang berada di dekat pintu masuk, dan meminta kepadanya untuk menyampaikan pada nyonyanya, bahwa seorang pria ingin berbicara kepadanya. Setelah beberapa saat, pelayan itu kembali pada Christian dan memintanya agar mengikuti pelayan itu. Christian dengan diam-diam diantarkan ke salah satu paviliun, di dalamnya terlihat Khumara sedang tiduran di atas sofa putih panjang, dengan setumpuk bantal menahan punggungnya yang bersandar, lalu pelayan itu meninggalkannya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Bukankah anda yang kemarin berdiri di depan kebunku?” Tanya Kaylila.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Ya, begitu adanya. Aku melihatmu, dan engkau tersenyum padaku.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Tetapi, bukankah anda masih berjenggot dan berambut panjang kemarin, dengan debu di atasnya?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Engkau mengingatku dengan cukup baik. Anda melihat dan dengan baik segalanya. Aku adalah putra seorang kuli, lahir dari rahim seorang pelacur, dan telah menjadi seorang musafir, selama hampir tiga tahun. Namun, saat ini saya telah meninggalkan jalan itu dan langkah saya mengantarkan saya ke kota ini, dan orang pertama yang saya temui sebelum memasuki kota adalah anda. Dan, saya datang kemari untuk mengatakan pada anda, bahwa andalah wanita pertama yang mampu membuat diriku berbicara tanpa menurunkan pelupuk mataku. Aku tidak pernah sekalipun menunduk saat bertemu seorang wanita cantik.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kaylila tersenyum hangat, tangannya memainkan kipas dari bulu, lalu bertanya, “Semua itukah yang telah menyebabkan langkahmu mengantarkan kembali engkau kemari?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Aku telah datang untuk mengatakan hal tersebut kepada anda, dan setulus hatiku menghaturkan terima kasih karena anda begitu cantik. Dan, sekiranya hal ini memberatkan hati anda, sehingga tidak menyenangkan anda, Kaylila, aku hanya ingin engkau menjadi teman dan guruku, karena sedikitpun aku tidak mengetahui seni yang membuat anda memilih menjadi seorang pelacur.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kaylila menatap dalam kedua mata Christian, lalu dia tertawa terbahak-bahak.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Tidak pernah sekalipun dalam hidupku seorang pengembara datang kepadaku dan ingin belajar dari aku. Belum pernah ada seorang pengembara dengan pakaian lusuh dan robek datang kepadaku. Banyak orang muda datang kepadaku, termasuk pria paruh baya, tetapi mereka datang berpakaian indah, bersepatu bagus. Ada harum wewangian dari tubuh dan rambut mereka, serta uang di kantung mereka. Itulah cara mereka datang kepadaku.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian lalu berkata, “Aku telah siap untuk memulai belajar dari anda. Aku sesungguhnya telah belajar sesuatu kemarin. Aku telah menghilangkan jenggotku, dan menyisir rapi rambutku serta meminyakinya. Tidak ada lagi yang kurang, wahai wanita yang paling cantik; kuupayakan baju bagus, sepatu bagus dan uang di kantungku. Aku telah mengupayakan hal-hal yang lebih sulit daripada barang-barang sepele itu dan telah memperoleh barang-barang itu. Mengapa aku tidak boleh mencapai apa yang telah aku putuskan untuk melakukannya kemarin – untuk dapat menjadi teman anda dan mempelajari kenikmatan cinta dari anda? Kau akan menemukan aku sebagai murid yang cepat pandai, Kaylila. Sesungguhny aku telah mempelajari hal-hal yang lebih sulit daripada apa yang harus anda ajarkan padaku. Sehingga bagimu, apakah diriku kurang baik seperti adanya, dengan minyak di rambutku, meski tanpa pakaian, sepatu dan uang.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kaylila kembali tertawa dan berkata, “Tidak, ia belumlah cukup baik. Dia tetap harus memiliki pakaian, pakaian yang sangat bagus, juga sepatu, sepatu yang bagus, serta uang banyak di dalam kantungnya, juga hadiah yang dibawanya untuk Kaylila. Tahukah anda sekarang, pengembara? Mengertikah anda?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Aku sangat mengerti,” Ujar Christian setengah berteriak. “Bagaimana aku dapat gagal untuk bisa memahami jika ucapan itu keluar dari mulut seperti itu? Mulut anda merah dan berkilat. Bibirku juga merah dan segar, saya yakin bibir ini akan cocok sekali dengan bibir anda. Lihat sajalah nanti. Tetapi, katakanlah kepadaku, Kaylila yang cantik, tidak takutkah engkau kepada pengembara yang datang untuk mempelajari cinta dan engkau menolaknya?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Mengapa aku harus takut kepada seorang pengembara, seorang pengembara dari hutan, yang pernah melewati pepohonan, menaklukkan gunung, menapaki pantai. Tidur di atas jerami, datang dari sekumpulan serigala, namun tidak memahami tentang wanita?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Kami para pengembara sangat kuat dan tidak takut pada apapun. Dia dapat memaksa kemauannya pada anda, Kaylila. Sesungguhnya dia dapat mencuri anda, dia dapat menyakiti anda.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Tidak. Aku tidak takut. Pernahkah seorang pengembara takut pada seseorang yang setiap saatnya dapat datang dan memukulnya, serta merampok segala pengetahuannya, kesalehannya, kekuatannya untuk dapat berpikir dalam-dalam? Tidak! Karena mereka adalah milik mereka sendiri, dan ia hanya dapat memberikan apa yang diinginkan dan jika mereka ingin. Itulah sesungguhnya yang terjadi pada Kaylila serta kenikmatan cintanya. Cantik dan merekahnya bibir Kaylila, tetapi cobalah engkau mencium bibir-bibir itu melawan kehendak Kaylila, maka tidak ada satu kemanisanpun yang akan diperoleh dari bibir itu – meskipun sesungguhnya bibir itu tahu cara memberi kemanisan itu. Anda tentunya adalah seorang murid yang gampang menangkap pelajaran, Christian. Karena itu, pelajarilah juga hal penting ini. setiap orang dapat mengemis, membeli, dihadiahi dengan dan mendapatkan cinta di jalanan, tetapi sesungguhnya cinta itu tidak akan pernah dapat dicuri. Anda telah sepenuhnya salah mengerti. Sebuah hal yang sepantasnya sangat perlu dikasihani, jika pria muda dan gagah seperti anda telah gagal untuk bisa mengerti.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian membungkuk dan tersenyum. “Anda benar, Kaylila. Sungguh kasihan. Sungguh teramat kasihan. Tidak! Tidak kuinginkan setetes kemanisan pun harus hilang dari bibir anda, juga tidak dari saya. Karena itu, aku akan datang lagi bila diri ini telah mempunyai apa yang masih kurang bagiku dalam pakaian, sepatu, dan uang. Tetapi katakan kepadaku, Kaylila yang cantik, tidak dapatkah anda memberiku sedikit saran?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Saran? Mengapa tidak? Siapakah yang tidak akan dengan senang hati memberikan saran kepada seorang pengembara yang miskin juga dungu, yang datang dari sekumpulan serigala?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Kaylila sayang, ke manakah saya harus pergi untuk bisa mendapatkan ketiga hal tersebut secepat mungkin?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Wahai pengembara, banyak sekali orang yang ingin mengetahui hal itu, anda harus melakukan apa yang telah anda pelajari untuk mendapatkan uang, pakaian, dan sepatu. Sebaliknya, seseorang yang miskin akan pengetahuan tidak akan mampu memperoleh uang.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Aku dapat berpikir. Aku mampu menunggu, berpuasa, serta aku juga dapat bersabar dan berdoa.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Hanya itu? Tidak ada lagi?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Tidak. Oh ya, aku dapat mengarang sebuah puisi. Apakah engkau mau menciumku untuk sebuah puisi?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Baiklah, akan kulakukan jika puisi itu bisa menyenangkan hatiku. Apakah namanya?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sesudah berpikir sejenak, lalu Christian bersyair&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Dalam kebun yang bertabur bunga&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ada satu kuntum cantik, dialah Kaylila&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sedangkan di gerbangnya, ada si lusuh&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saat terpaut pandangnya&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dengan dalam ia membungkuk kagum&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tersenyum, terpikatlah si pengembara&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lebih baik bagiku, pikirnya&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Berkorban untuk si cantik Kaylila&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Daripada menyerahkan kurban pada Tuhan.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Senyum mengambang di wajah cantik Kaylila, dengan kagum ia bertepuk tangan kuat-kuat, sehingga gelang emas di pergelangannya berdentingan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Puisi anda sangat memikat, wahai pengembara, dan sesungguhnya tidaklah percuma jika saya memberikan ciuman pada anda.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kaylila menarik pengembara itu dengan matanya. Christian mendekatkan wajahnya ke muka Kaylila, melekatkan bibir ke bibirnya, yang merah merekah dan berkilau. Kaylila menciumnya lama sekali, dan dalam keterpukauan yang sebegitu besar, Christian merasakan begitu banyak yang Kaylila ajarkan kepada dirinya, sungguh betapa pandainya wanita itu, bagaimana ia mampu menguasai seorang pria, mengalahkannya, menariknya, dan bagaimana dari satu ciuman yang lama itu, sebuah rangkaian panjang ciuman lain yang kesemuanya akan berbeda-beda telah menanti dirinya. Christian berdiri tegak dan menarik napas dalam-dalam. Pada detik itu, dia merasa bagaikan seorang anak kecil yang melihat suatu keajaiban dengan datangnya suatu pengetahuan dan pelajaran yang tidak terlipatkan di depan kedua matanya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Puisi anda begitu indah.” Kata Kaylila. “Jika aku kaya, aku akan membayar puisi itu. Tetapi sulit bagimu untuk memperoleh uang sebanyak yang anda inginkan jika hanya dari puisi. Karena anda akan butuh banyak sekali uang jika ingin berteman dengan Kaylila.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Betapa hebat ciumanmu, Kaylila.” Christian tergagap.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Sudah tentu, itulah sebabnya aku tidak akan kekurangan dalam pakaian, sepatu, gelang, serta segala bentuk dan jenis benda indah. Tetapi apakah yang akan engkau lakukan? Tidakkah engkau mampu melakukan hal lainnya selain berpikir, berdoa atau membuat puisi?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Aku tahu nyanyian-nyanyian,” Kata Christian. “Tetapi aku tidak ingin menyanyikan lagu-lagu. Aku mengetahui doa-doa dan mantra-mantra, tetapi aku tidak ingin mengucapkannya. Aku telah membaca banyak buku dan alkitab ....”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Tunggu,” Sela Kaylila. “Engkau bisa membaca dan menulis?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Tentu saja aku bisa. Banyak orang dapat melakukannya.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Tidak bagi kebanyakan orang miskin, apalagi seorang pengembara. Sangat baik jika engkau dapat membaca dan menulis. Bahkan kelak engkau pasti akan membutuhkan mantra-mantra itu.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saat bersamaan seorang pelayan mengetuk pintu, masuk dan membisikkan sesuatu pada nyonya rumah.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Aku kedatangan tamu,” Kata Kaylila. “Temui aku besok hari di kota. Sekarang cepatlah pergi dari sini, tidak seorangpun boleh mengetahui bahwa engkau ada di sini.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lalu, Kaylila memerintahkan kepada pelayan untuk memberi baju putih dan celana yang bersih kepada Christian. Tanpa sedikit pun mengetahui apa yang terjadi, Christian diantarkan pelayan itu meninggalkan rumah, mengitari kebun, diberi pakaian, lalu dibiarkannya memasuki hutan di sisi kebun. Dengan burur-buru diperintahkannya agar meninggalkan kebun tanpa dilihat orang.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dengan penuh kegembiraan ia melakukan semua itu. Hutan bukan hal baru baginya, ia berjalan dengan sangat tenang ke luar kebun. Dengan senyum ia kembali ke kota dengan pakaian yang sudah dilipatnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sesampainya di kota, di salah satu warung makan, ia berdiri di pintunya. Dengan diam dia meminta makanan, dan dengan diam pula diterimanya sepotong roti kering. Barangkali besok pagi, pikirnya, aku tidak perlu lagi mengemis makanan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tiba-tiba persaan bangga merasuki jiwa dan pikirannya. Ia merasa bukan lagi seorang pengembara. Dia tidak perlu lagi mengemis-ngemis. Lalu, ia memberikan sepotong kue kering itu kepada seekor anjing dan melewatkan malam itu tetap tanpa makanan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kehidupan pada dasarnya berjalan dengan sangat sederhana, pikir Christian. Tidak mengalami sebentuk kesulitan apapun. Ketika aku menjadi seorang musafir, semuanya serba sulit, menjengkelkan dan akhirnya tanpa harapan. Kini segalanya serba mudah, semudah petunjuk dari ciuman yang diberikan Kaylila. Aku memerlukan pakaian dan uang. Itu saja. Ini semua tujuan yang gampang yang tidak akan mengganggu tidur seseorang.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sejak itu ia mulai menanyakan rumah Kaylila yang ada di kota, dan mengunjunginya keesokan hari.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Segalanya berjalan lancar.” Kaylila berbicara kepadanya. “Yohanes mengharapkan kedatanganmu. Dia merupakan pedagang terkaya di kota ini. jika engkau bisa menyenangkan hatinya, engkau bisa bekerja dengannya. Pandai-pandailah, tampan! Telah aku sampaikan namamu melalui orang lain. Baik-baiklah kepadanya, karena dia terlalu berkuasa. Tetapi jangan juga engkau menjadi terlalu rendah hati. Saya tidak ingin jika engkau menjadi pelayannya. Melainkan menjadi sama derajatnya. Kalau tidak, saya tidak akan senang kepadamu. Yohanes mulai menjadi tua dan lamban. Jika engkau bisa menyenangkan hatinya, dia akan menaruh kepercayaan yang besar kepada anda.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian berterima kasih lalu tersenyum. Dan saat Kaylila mengetahui Christian belum makan hari ini dan sebelumnya, Kaylila segera memerintahkan pelayan untuk membawakannya roti dan buah-buahan, serta semangkuk kari untuk diberikan pada Christian.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Engkau beruntung.” Kata Kaylila kepadanya ketika berpamitan. “Satu pintu dan lainnya terbuka dengan cepat bagimu. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Apakah engkau mempunyai pesona?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian berkata, “Kemarin aku mengatakan kepadamu tentang berpikir, menunggu, puasa, bersabar dan berdoa, tetapi bagimu itu menjadi hal yang tidak berguna. Engkau akan melihat bahwa semuanya sangat berguna, Kaylila. Anda akan melihat bahwa pengembara dungu di dalam diri ini telah belajar dan mengetahui banyak hal yang berguna. Sebelum bertemu denganmu, aku adalah seorang pengemis yang tidaklah terpelihara. Tetapi kemarin, aku telah mencium bibir seorang Kaylila yang kecantikannya begitu menggetarkan, dan segera aku juga akan menjadi pedagang kaya yang mempunyai uang, serta seluruh barang yang engkau hargai.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Baiklah.” Kaylila menyetujuinya, “Tetapi bagaimana engkau akan memperoleh makanan tanpa diriku? Dimanakah engkau akan tinggal bila Kaylila tidak menolongmu?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Kamala, cintaku,” Kata Christian, “saat aku datang dan berdiri di gerbang kebunmu, sesungguhnya saat itu aku telah membuat langkah pertama. Telah sepenuhnya menjadi keinginanku untuk mempelajari cinta dari seorang wanita paling cantik. Sejak aku membuat ketetapan dalam hatiku, aku juga harus mengetahui bahwa aku akan melaksanakannya. Aku segera mengetahui bahwa engkau akan membantuku. Aku tahu dari pandangan pertamamu saat aku di pintu masuk itu.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Jika aku tidak menyukaimu?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Tetapi engkau suka, bukan? Dengarkan, Kaylila, cara tercepat untuk sampai ke dasar air adalah menjadi batu yang terlempar ke dalamnya. Sama saja dengan saat engkau menyatakan sebuah niat, tujuan, atau maksud. Engkau harus berpikir, menunggu, berpuasa, bersabar dan berdoa. Engkau perlu mengkaji masalah-masalah dunia seperti batu menembus air, tidak perlu melawan, dan biarkan orang lain yang melakukannya. Batu itu membiarkan dirinya ditarik dan jatuh. Dia akan ditarik oleh tujuannya, karena sepenuhnya dia tidak akan membiarkan segala bentuk hal yang menentang tujuannya memasuki pikirannya. Itulah aku pelajari saat aku menjadi musafir. Lalu oleh orang-orang tolol hal seperti itu akan disebut sebagai sihir, pemikat, pelet, dan seolah mereka anggap itulah keajaiban. Tidak ada keajaiban. Setiap orang mampu menampilkan sihir itu. Setiap orang mampu mencapai tujuannya, jika ia mampu berpikir, menunggu, bersabar dan berdoa.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kaylila mendengarkan setiap kata dari bibirnya. Dia mencintai suara Christian. Dia mencintai bagaimana Christian melepaskan pandangan matanya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Mungkin saja semua itu terjadi sebagaimana yang engkau katakan,” Ujar Kaylila dengan lembut, “dan, barangkali itu juga disebabkan oleh Christian, seorang pria yang begitu gagah, yang pandangannya mampu menyenangkan hati setiap wanita. Engkau benar-benar beruntung.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian menatap hangat Kaylila dan bibirnya. Mereka berciuman beberapa saat. “Mudah-mudahan demikian, guruku. Mudah-mudahan pandanganku mampu menyenangkan hatimu. Mudah-mudahan akan ada banyak keberuntungan datang padaku melalui dirimu.” Sekali lagi dirinya merasakan manisnya bibir Kaylila, lalu mereka berpisah.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6791496379964808480-4486690926026040345?l=www.robbysyahputra.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/feeds/4486690926026040345/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2011/09/chapter-2-dalam-kebun-kaylila.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/4486690926026040345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/4486690926026040345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2011/09/chapter-2-dalam-kebun-kaylila.html' title='Chapter 2 : Dalam Kebun Kaylila'/><author><name>Historical Legend</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701636558006735668</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6791496379964808480.post-4946322749554336785</id><published>2011-09-02T03:19:00.001-07:00</published><updated>2011-09-02T03:43:52.366-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Family'/><title type='text'>Zahra Syah</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-mWeyuunUZmI/TmCtzsY-TjI/AAAAAAAAAgM/-3R4ydAJCwo/s1600/07062011%2528001%2529.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-mWeyuunUZmI/TmCtzsY-TjI/AAAAAAAAAgM/-3R4ydAJCwo/s200/07062011%2528001%2529.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5647705036323442226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div&gt;Daughter Number Three is mean Flower Crown&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Name&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;	&lt;/span&gt;: Kayla Zahra Affifah Syah&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Born&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;	&lt;/span&gt;: Yogya, 10 Februari 2011&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Born at&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;	&lt;/span&gt;: SEMAR Hospital, Babarsari, Yogyakarta at 04:00 WIB&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Namanya terdiri dari 3 makna. Kayla bermakna Mahkota dan Zahra Bunga. Kedua makna ini menjadi satu, Mahkota Bunga adalah benda yang akan melekat di kedua kepala Kakak-kakaknya sebagai Putri dan Ratu, berharap dia akan menjadi pengingat bagi kedua kakaknya bahwa kehidupan harus dijalani dengan bijaksana. Bukan Mahkota dari Emas atau Berlian yang penuh kemilau dan keserakahan, melainkan bunga yang menebarkan aroma wagi dan kelembutan. Kayla sendiri berasal dari bahasa ibrani atau dasar dari bahasa Yahudi yang juga menjadi garis dari keturunan Ishak As hingga Isa As, sedangkan Zahra dari Bahasa Arab yang bermuara dari garis Ismail As dan berakhir pada Rasulullah Muhammad SAW, berharap kelak dia akan menjadi anak yang mempunyai kepedulian tinggi terhadap toleransi beragama dimana namanya adalah penyatuan dari Ishak As dan Ismail As, dua putra dari Ibrahim As yang menjadi awal garis keturunan para Nabi dan Rasul Allah SWT. Affifah berarti yang mempunyai harga diri, berharap kelak apapun yang dihadapinya dia tidak akan menggadaikan harga dirinya. Syah adalah nama dari ayahnya."&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6791496379964808480-4946322749554336785?l=www.robbysyahputra.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/feeds/4946322749554336785/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2011/09/zahra-syah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/4946322749554336785'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/4946322749554336785'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2011/09/zahra-syah.html' title='Zahra Syah'/><author><name>Historical Legend</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701636558006735668</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-mWeyuunUZmI/TmCtzsY-TjI/AAAAAAAAAgM/-3R4ydAJCwo/s72-c/07062011%2528001%2529.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6791496379964808480.post-5911021349651064507</id><published>2011-09-02T03:13:00.000-07:00</published><updated>2011-09-02T03:36:10.163-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Family'/><title type='text'>Ratu Syah</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-oQ8uvE_X-YM/TmCso4xXXDI/AAAAAAAAAgE/iAYaQp4X2UM/s1600/page%2B9.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 133px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-oQ8uvE_X-YM/TmCso4xXXDI/AAAAAAAAAgE/iAYaQp4X2UM/s200/page%2B9.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5647703751156784178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div&gt;Ladies Number Two is The Queen&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Name&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;	&lt;/span&gt;: Nabila Ratu Affifah Syah&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Born&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;	&lt;/span&gt;: Yogya, 12 September 2003&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Born at&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;	&lt;/span&gt;: Tegalrejo Clinic at 10.30 WIB&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Namanya terdiri dari 3 makna. Nabila berarti yang pintar atau cerdas, berharap kelak dia akan pintar, cerdas dan bijaksana dalam menjalani hidup ini. Ratu berarti Ibunda Negara atau kerajaan, berharap kelak dia akan mengayomi banyak orang, menjaga keselarasan dan keseimbangan. Affifah berarti yang mempunyai harga diri, berharap kelak apapun yang dihadapinya dia tidak akan menggadaikan harga dirinya. Syah adalah nama dari ayahnya."&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6791496379964808480-5911021349651064507?l=www.robbysyahputra.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/feeds/5911021349651064507/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2011/09/ratu-syah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/5911021349651064507'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/5911021349651064507'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2011/09/ratu-syah.html' title='Ratu Syah'/><author><name>Historical Legend</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701636558006735668</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-oQ8uvE_X-YM/TmCso4xXXDI/AAAAAAAAAgE/iAYaQp4X2UM/s72-c/page%2B9.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6791496379964808480.post-4716149737246692329</id><published>2011-09-02T03:04:00.001-07:00</published><updated>2011-09-02T03:33:20.068-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Family'/><title type='text'>Putri Syah</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-kYRcB8ddajE/TmCrIjs7FmI/AAAAAAAAAf8/uXR4Z6z34ds/s1600/Feb%2B06%2B%252815%2529.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-BB9RQOIgKQg/TmCrIT6W44I/AAAAAAAAAf0/mzAsMCWFGSE/s1600/page%2B8.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 133px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-BB9RQOIgKQg/TmCrIT6W44I/AAAAAAAAAf0/mzAsMCWFGSE/s200/page%2B8.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5647702091994948482" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div&gt;The Oldest Daughter is mean The Princess&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;Name&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;	&lt;/span&gt;: Fadhilah Putri Affifah Syah&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;Born&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;	&lt;/span&gt;: Yogya, 15 Oktober 2002&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Born at&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;	&lt;/span&gt;: Tegalrejo Clinic at 00:30 WIB&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Namanya terdiri dari 3 makna. Fadhilah berarti yang dicintai atau yang diutamakan. Lahir di saat kedua orangtuanya tidak memiliki apapun dan jauh dari bayangan kehidupan yang layak, berharap agar dirinya kelak bisa dicintai dan diutamakn oleh banyak orang. Putri berarti anak dari Raja, berharap kelak dia akan mengangkat derajat ibu dan bapaknya. Affifah berarti yang mempunyai harga diri, berharap kelak apapun yang dihadapinya dia tidak akan menggadaikan harga dirinya. Syah adalah nama dari ayahnya."&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6791496379964808480-4716149737246692329?l=www.robbysyahputra.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/feeds/4716149737246692329/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2011/09/putri-syah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/4716149737246692329'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/4716149737246692329'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2011/09/putri-syah.html' title='Putri Syah'/><author><name>Historical Legend</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701636558006735668</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-BB9RQOIgKQg/TmCrIT6W44I/AAAAAAAAAf0/mzAsMCWFGSE/s72-c/page%2B8.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6791496379964808480.post-2274469174386916926</id><published>2011-09-02T02:47:00.000-07:00</published><updated>2011-09-02T03:04:33.300-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Family'/><title type='text'>Arien Syah</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-r2rLfE6TYOY/TmCnZQuc4LI/AAAAAAAAAfs/2G99ntmGjw0/s1600/IMG_8204.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-w9rlMQUsaO8/TmCnYYAf3bI/AAAAAAAAAfc/6V0hv-DuUaA/s1600/a6.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-w9rlMQUsaO8/TmCnYYAf3bI/AAAAAAAAAfc/6V0hv-DuUaA/s200/a6.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5647697969925840306" /&gt;&lt;/a&gt;Name&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;	&lt;/span&gt;: Arien Syah&lt;div&gt;Born&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;	&lt;/span&gt;: Cisewu, 18 Juli 1978&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Status&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;	&lt;/span&gt;: Married to &lt;a href="http://www.robbysyahputra.co.cc/2011/09/robby-syahputra.html"&gt;Robby Syahputra&lt;/a&gt; - 18 November 2001&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sex&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;		&lt;/span&gt;: Female&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Children&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;	&lt;/span&gt;: Fadhilah Putri Affifah Syah - 15 oktober 2002&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;		&lt;/span&gt;  Nabila Ratu Affifah Syah - 12 September 2003&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;		&lt;/span&gt;  Kayla Zahra Affifah Syah - 10 Februari 2011&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Education and Work&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sept 2010 - Present&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 238); -webkit-text-decorations-in-effect: underline; "&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/-r2rLfE6TYOY/TmCnZQuc4LI/AAAAAAAAAfs/2G99ntmGjw0/s200/IMG_8204.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5647697985150967986" style="float: right; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 10px; margin-left: 10px; cursor: pointer; width: 134px; height: 200px; " /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 238); -webkit-text-decorations-in-effect: underline; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kedai Taskoe n Kedai Bajukoe&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;	&lt;/span&gt;- Owner&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 238); -webkit-text-decorations-in-effect: underline; "&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 238); -webkit-text-decorations-in-effect: underline; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;College&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;	&lt;/span&gt;: AMIKOM - Manajemen Informatika&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Putri ke 4 dari 5 bersaudara dari Bpk Salim Syamsudin dan Ibu Karmanah.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6791496379964808480-2274469174386916926?l=www.robbysyahputra.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/feeds/2274469174386916926/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2011/09/arien-syah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/2274469174386916926'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/2274469174386916926'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2011/09/arien-syah.html' title='Arien Syah'/><author><name>Historical Legend</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701636558006735668</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-w9rlMQUsaO8/TmCnYYAf3bI/AAAAAAAAAfc/6V0hv-DuUaA/s72-c/a6.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6791496379964808480.post-166442010783886974</id><published>2011-09-01T21:42:00.000-07:00</published><updated>2011-09-01T22:18:13.945-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Family'/><title type='text'>Robby Syahputra</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-ttvzk0y9QCs/TmBfK8GcqxI/AAAAAAAAAes/8tVrMD5GSfY/s1600/wong%2Bjowo.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-ttvzk0y9QCs/TmBfK8GcqxI/AAAAAAAAAes/8tVrMD5GSfY/s200/wong%2Bjowo.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5647618574259104530" /&gt;&lt;/a&gt;My Biography&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Name&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;	&lt;/span&gt;: Robby Syahputra&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Born&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;	&lt;/span&gt;: Btp Barat, 23 Agustus 1981&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;Status&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre; "&gt;	&lt;/span&gt;: Married to Arien Syah - 18 November 2001&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sex&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre; "&gt;		&lt;/span&gt;: Male&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Children&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;	&lt;/span&gt;: Fadhilah Putri Affifah Syah - 15 oktober 2002&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;		&lt;/span&gt;  Nabila Ratu Affifah Syah - 12 September 2003&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;		&lt;/span&gt;  Kayla Zahra Affifah Syah - 10 Februari 2011&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;Education and Work&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;PT. DANAMON INDONESIA ,Tbk&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jan 2010 to present · Paron as Credit Officer @ Paron&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Feb 2009 to Dec 2009 · Yogyakarta as Sales Officer&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jun 2008 to Jan 2009 · Yogyakarta as Teller&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;College&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;			&lt;/span&gt;: Advertising UGM Class of 2001 · Gadjah Mada University · Communication · Advertising&lt;/div&gt;&lt;div&gt;High School&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;		&lt;/span&gt;: SMU Tamansiswa Arun Class of 1999&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Philosophy&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Religious Views&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;	&lt;/span&gt;: Islam&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Political Views&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;	&lt;/span&gt;: Muhammad SAW&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Quotations&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;		&lt;/span&gt;: hari kemarin telah lewat jadi lupakan, hari esok belum datang jadi abaikan .. hari ini "apa yang engkau bisa berikan untuk orang-orang yang engkau cintai" itu lebih penting ...&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 238); -webkit-text-decorations-in-effect: underline; "&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/-IciIGB3U-3o/TmBfK_7ApPI/AAAAAAAAAe0/b1JBt6vQmgk/s200/sleep%2Bfor%2Bdie.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5647618575284872434" style="float: right; margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 10px; margin-left: 10px; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px; " /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 238); -webkit-text-decorations-in-effect: underline; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Activities and Interests&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Activities&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;		&lt;/span&gt;: Datang, Lihat dan Cairkan&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Interests&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;		&lt;/span&gt;: SPORT, Music, Reading and Writing, Travelling Around&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Basic Information&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Putra ke 2 dari 4 bersaudara dari H. Anas bin Usman dan Hj. Zuraida binti Teuku Raden. Lahir di Batuphat Barat, besar di komplek perumahan PT. Arun NGL. co. Bersekolah dari TK hingga SMA di Arun hingga lulus pada tahun 1999. Melanjutkan studi di Yogyakarta. Pada awalnya mengambil jurusan Arsitektur di Universitas Islam Indonesia sebelum akhirnya beralih ke Advertising UGM pada tahun 2001. Menyukai menulkis sejak duduk di bangku 2 SMP.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Mencari Kesalahan Orang lain tidak akan merubah banyak hal, tetapi menemukan kelemahan diri sendiri adalah awal dari perubahan mencapai banyak hal"&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 238); -webkit-text-decorations-in-effect: underline; "&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 238); -webkit-text-decorations-in-effect: underline; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Contact Information&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Address&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;		&lt;/span&gt;: Yogyakarta, Indonesia&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Website&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;		&lt;/span&gt;: http://www.robbysyahputra.co.cc&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Email&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;		&lt;/span&gt;: robby.syahputra@yahoo.com&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-zrJpt31rqTg/TmBlTKugtOI/AAAAAAAAAe8/NGVYFYucuOk/s1600/a6.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/-zrJpt31rqTg/TmBlTKugtOI/AAAAAAAAAe8/NGVYFYucuOk/s200/a6.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5647625312693957858" style="cursor: pointer; width: 200px; height: 134px; " /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-3C170FP6GAA/TmBlT1aSI4I/AAAAAAAAAfE/VhDSooarDMA/s1600/page%2B8.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/-3C170FP6GAA/TmBlT1aSI4I/AAAAAAAAAfE/VhDSooarDMA/s200/page%2B8.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5647625324151841666" style="cursor: pointer; width: 200px; height: 133px; " /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Arien Syah&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;					&lt;/span&gt;Putri Syah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-JdeFNc-6Sc0/TmBlUDdP6QI/AAAAAAAAAfM/NqCOXSla5qA/s1600/page%2B9.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/-JdeFNc-6Sc0/TmBlUDdP6QI/AAAAAAAAAfM/NqCOXSla5qA/s200/page%2B9.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5647625327922374914" style="cursor: pointer; width: 200px; height: 133px; " /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-lF6pjAr7LZ4/TmBlUSDbR1I/AAAAAAAAAfU/9rPUqENMOj8/s1600/07062011%2528001%2529.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/-lF6pjAr7LZ4/TmBlUSDbR1I/AAAAAAAAAfU/9rPUqENMOj8/s200/07062011%2528001%2529.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5647625331840599890" style="cursor: pointer; width: 200px; height: 150px; " /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ratu Syah&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt;					&lt;/span&gt;Zahra Syah&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6791496379964808480-166442010783886974?l=www.robbysyahputra.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/feeds/166442010783886974/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2011/09/robby-syahputra.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/166442010783886974'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/166442010783886974'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2011/09/robby-syahputra.html' title='Robby Syahputra'/><author><name>Historical Legend</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701636558006735668</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-ttvzk0y9QCs/TmBfK8GcqxI/AAAAAAAAAes/8tVrMD5GSfY/s72-c/wong%2Bjowo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6791496379964808480.post-5981441267196890546</id><published>2010-01-16T01:45:00.001-08:00</published><updated>2010-01-16T01:45:33.562-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syair Cinta Putra Pelacur'/><title type='text'>Pemahaman Diri</title><content type='html'>Ketika Christian meninggalkan tanah tersuci, tempat Angelina kini tinggal, dia merasa bahwa dia juga telah meninggalkan kehidupan sebelumnya di sana. Ketika dengan pelan ia meneruskan jalannya, benaknya dipenuhi oleh pikiran-pikiran. Dengan dalam ia berkaca pada diri, hingga perasaan itu meliputi keseluruhan dirinya dan ia mencapai satu tahapan titik dimana menjadi tempat dirinya menyadari sebab-sebab, yang terlihat pada dirinya, menjadikannya berpikir; dan melalui pikiran itu, perasaan-perasaan menjadi sebentuk pengetahuan dan tidak lenyap, tetapi menjadi semakin nyata dan menuju kematangan.&lt;br /&gt;Dengan heningnya ia meresapi ketika ia meneruskan perjalanannya. Dia menyadari bahwa dia bukanlah lagi anak muda; sekarang dirinya menjadi jauh lebih dewasa. Dia memahami ada sesuatu yang menghilang dari dirinya, seperti kulit tua tempat seekor ular pernah bersembunyi. Sesuatu tidak lagi berada di dalam dirinya, sesuatu yang telah menemaninya selama masa mudanya dan menjadi bagian dirinya; yaitu keinginan untuk memiliki guru-guru yang terbesar dan terbijaksana, yang paling suci. Dia harus meninggalkan pemikiran-pemikiran itu; dan dia harus menemukan makna ajaran dirinya sendiri.&lt;br /&gt;Dengan pelan, pemikir itu meneruskan pencarian jalan hidupnya, dan bertanya kepada dirinya sendiri; Apa yang menyebabkan engkau ingin belajar dari ajaran-ajaran dan guru-guru, dan meskipun mereka ada banyak mengajarkan hal kepadamu, mengapa mereka tetap tidak dapat mengajarkan dirimu? Dan dia juga berpikir; Itulah diri, sifat dan sikap yang terus ingin aku pelajari. Aku ingin melenyapkan diri-ku sendiri. Untuk mengalahkannya, tetapi aku masih belum dapat mengalahkannya. Aku baru dapat menipunya, hanya dapat menghindarinya. Hanya mampu bersembunyi dari padanya. Sesungguhnya, tidak ada satu pun di dunia yang telah menguasai pikiran-pikiranku sebanyak diri ini, teka-teki ini, yang aku hidup, yang aku adalah satu dan dipisahkan dan berbeda dengan orang lain, bahwa aku adalah aku; dan tentang sesuatu yang tidak ada di dunia ini yang sedikit sekali kuketahui daripada tentang diriku sendiri.&lt;br /&gt;Pemikir itu masih melangkahkan kakinya, tiba-tiba ia berdiri tegak, tercekam oleh pemikirannya sendiri, dan pikiran lain segera saja bangkit dari pemikiran yang satu ini. Alasan mengapa aku tidak dapat mengetahui sesuatu tentang diriku, alasan mengapa aku tetap tinggal dan merasa asing dan tidak diketahuo oleh diri-ku berkenaan dengan satu hal, dengan satu hal tunggal – aku takut kepada diriku sendiri, aku sedang mencoba meninggalkan diriku sendiri. Aku mencari Tuhan, menjadi anak Tuhan, mencari Roh Kudus, mengharap kasih Bunda Maria, atau hanya terus ingin menghancurkan diriku sendiri, berusaha untuk melepaskan diriku dari diriku sendiri, untuk menemukan di kedalaman yang tidak kukenal, inti semua hal. Tetapi dengan berusaha melenyapkan diri-ku, sesungguhnya aku telah kehilangan diriku di tengah jalan.&lt;br /&gt;Christian memandang ke atas dan sekitar dirinya. Senyum mengembang di wajahnya. Dan, perasaan kuat tersadar dari impian lama terkembang cepat melalui keberadaannya. Dengan segera ia meneruskan perjalanannya dengan cepat, seperti seseorang yang mengetahui apa yang harus dikerjakannya.&lt;br /&gt;Ya, ia berpikir sambil bernafas dalam. Aku tidak lagi mencoba melepaskan diri-ku dari aku. Aku tidak akan lagi mengabdikan pikiran-pikiranku pada kesenangan dan kepedihan-kepedihan dunia. Aku tidak akan lagi memuntungkan dan menghancurkan diriku hanya untuk menemukan rahasia di balik kehancuran itu. Aku tidak akan lagi belajar pada Injil, mencari Tuhan Bapa, mencoba menjadi anak Tuhan atau berharap mendapat berkat dari roh kudus, ataupun ajaran-ajaran lainnya. Aku hanya akan belajar pada diriku sendiri, menjadi guru serta murid bagi diriku sendiri. Aku akan belajar dari diriku sendiri tentang rahasia diri-ku.&lt;br /&gt;Christian melihat berkeliling, seakan-akan ia baru saja melihat dunia untuk pertama kalinya. Dunia sangatlah indah, dan juga misterius. Di sini biru, di sana kuning, di situ hijau, langit, sungai dan hutan serta gunung-gunung, semuanya indah, semua begitu misterius, dan menawan. Di tengah segala pemikirannya, Chrsitian, seseorang yang disadarkan, sedang menuju kepada inti diri-nya sendiri. Semua hal, semua yang menjadi biru, kuning, hijau, sungai dan hutan, lewat untuk pertama kalinya melintasi mata Christian. Semua itu tidak lagi menjadi gaya tarik maya, semua itu bukan lagi kabut maya, semua itu tidak lagi ada artinya dan keanekaragaman kesempatan bentuk dunia, yang dipandang remeh para musafir yang berfikir sungguh-sungguh, yang mencaci maki keanekaragaman, yang mencari kesatuan. Sungai adalah sungai. Dan, jika sesuatu yang tunggal dalam diri Christian secara rahasia hidup dalam warnanya yang biru dan sungai, itu hanyalah sebuah bentuk seni agung dan sebuah bentuk kepamrihan, bahwa harus ada biru dan hijau, ada langit dan hutan – dan di tempat itu, Christian menyadari bahwa arti dan kenyataan tidak disembunyikan di mana pun di balik benda-benda, tetapi di dalam benda, di dalam semua benda.&lt;br /&gt;Sungguh, betapa bodoh dan tulinya diriku ini, pikirnya, sambil terus berjalan dengan cepat. Bila seseorang membaca sesuatu yang ingin dia pelajari, dia tentunya tidak akan meremehkan segala tulisan dan tanda-tanda baca, dan hanya menyebut mereka sebagai ilusi, sebuah kemungkinan dan kerang-kerang yang tidak berharga. Tetapi, dia membaca semua itu, huruf demi huruf. Tetapi aku, yang begitu ingin membaca buku dunia dan buku tentang seluruh sifatku sendiri, telah sepenuhnya memandang rendah huruf dan tanda-tanda . aku menyebut dunia penampilan hanya sebagai ilusi. Aku telah menamakan mata dan lidahku sebagai kesempatan. Kini semuanya sudah berakhir. Aku telah tersadar. Aku benar-benar telah sadar, telah mati diriku yang dulu. Satu bentuk kematian dalam kehidupan ini. dan, aku merasa telah dilahirkan kembali, dilahirkan sepenuhnya hari ini.&lt;br /&gt;Tetapi saat pikiran-pikiran  ini melintasi benak Christian, ia secara tiba-tiba berdiri tegak, seolah-olah bagaikan seekor ular kobra yang berhenti merayap di tengah jalannya. Dan, tiba-tiba semua pun menjadi jelas padanya; dirinya, yang dalam kenyataan seperti seorang yang telah disadarkan atau baru dilahirkan, harus memulai kembali kehidupannya dengan kesadaran penuh. Saat dirinya meninggalkan As-Salam, tempat pria suci berada, dia telah sadar, bahwa dirinya telah sepenuhnya siap di jalan kepada dirinya sendiri; suatu hal wajar baginya setelah dirinya melewati hari-hari yang panjang, saatnya bagi Christian untuk kembali ke rumah dan juga ayahnya. Namun, saat ia masih berdiri tegak, pikiran lain juga datang padanya; Aku bukan lagi aku yang dulu. Aku bukan lagi seorang musafir. Lalu apa yang akan kulakukan jika aku kembali ke rumah? Banyak hal yang telah berlalu dalam hidupku.&lt;br /&gt;Christian masih tetap berdiri tegak di sana, dan untuk beberapa saat rasa dingin merangkul tubuhnya. Di dalam dirinya, ia bergetar seperti sinar sebuah bintang kecil, saat dia menyadari seluruhnya, betapa dirinya merasa sendirian. Dia tidak lagi berumah untuk waktu yang lama dan tidak pernah sepenuhnya merasakan seperti ini. namun, kini dia benar-benar merasakannya. Sebelumnya, saat dirinya masih bersama Angelina dan para musafir, saat dirinya melatih untuk menahan segala bentuk kesenangan duniawi, dia masih merasa sebagai anak ayahnya. Dia masih merasa sebagai putra dari seorang pelacur. Dia juga merasa sebagai seseorang yang beragama. Sekarang dia adalah Christian, yang telah dibangkitkan kesadarannya. Dia menarik nafasnya begitu dalam dan untuk beberapa saat dia merasa gemetar. Dia merasa tidak ada seorangpun yang merasa demikian sendirian dan kesepian seperti dirinya. Dia bukanlah seorang guru yang bijaksana yang akan memiliki banyak murid, bukan seorang bangsawan yang memiliki harta berlimpah, bukan pula seorang kuli terampil seperti ayahnya, yang memiliki teman sesama kuli yang mempunya bahasa yang sama. Bahkan seorang musafir sekalipun akan memiliki kedekatan dengan sekelompok musafir. Angelina telah memilih jalannya, dan ribuan santri dan santriwati  di As-Salam adalah saudaranya, berbagi kepercayaan dan berbicara dengan bahasanya. Tetapi dirinya, Christian, milik siapakah dia? Dengan siapakah dirinya seharusnya menghabiskan hidup? Dengan bahasa apakah dia harus berbicara?&lt;br /&gt;Kala itu, saat dunia di sekelilingnya perlahan memudar lalu menghilang, dirinya berdiri tegak sendirian laksana bintang kecil di sudut langit, ia begitu diliputi rasa keputusasaan yang dalam dan dingin, akan tetapi itu justru membuatnya menjadi lebih kuat dibandingkan dia sebelumnya. Itulah bentuk getaran terakhir dari kesadarannya, kesakitan terakhir dari sisa kematiannya. Langkahnya segera mengayun, dan ia mulai berjalan dengan cepat dan tidak sabar. Langkahnya tidak lagi menuju ke rumah, tidak lagi untuk ayahnya. Dia tidak lagi menoleh ke belakang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6791496379964808480-5981441267196890546?l=www.robbysyahputra.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/feeds/5981441267196890546/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2010/01/pemahaman-diri.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/5981441267196890546'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/5981441267196890546'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2010/01/pemahaman-diri.html' title='Pemahaman Diri'/><author><name>Historical Legend</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701636558006735668</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6791496379964808480.post-6368726735632209715</id><published>2010-01-16T01:39:00.000-08:00</published><updated>2010-01-16T01:40:43.247-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syair Cinta Putra Pelacur'/><title type='text'>Kyai Bahdarudin Syamawi</title><content type='html'>Di tanah tersuci setiap anak mengenal sang penyelamat yang terkenal itu, dan hampir setiap rumah akan dengan ikhlas mengisi mangkuk para peminta dalam diam, menyebar derma-derma bagi para jemaatnya yang meminta dengan diam-diam. Di salah satu sudut terdapat tempat kesenangan sang penyelamat, As-Salam, sepetak tanah yang diinfakkan oleh seorang dermawan kaya bernama Abdullah kepadanya juga pengikut-pengikutnya. Abdullah salah satu orang yang begitu taat kepada ajaran yang dibawakan sang penyelamat.&lt;br /&gt;    Dua orang musafir muda itu, dalam usahanya mencari kediaman sang penyelamat, telah sampai ke daerah ini dengan segala bentuk jawaban-jawaban atas pertanyaan yang mereka ajukan. Segala keramahan dan hidangan telah disajikan atas mereka dengan segera di rumah pertama saat mereka menginjakkan kaki di tanah tersuci, dan di depan ruamh itu untuk pertama kali mereka tidak kesulitan dengan meminta-minta. Mereka segera mengambil makanan, dan Christian lalu bertanya pada pria yang memberinya makanan, “Bapak yang budiman, kami sangat ingin tahu dimanakah sang penyelamat itu berada, dimanakah tempat tinggalnya? Kami adalah dua musafir yang telah datang dari jauh hanya untuk bertemu Yang Mulia Sang Penyelamat, dan kami begitu ingin mendengarkan ajaran-ajaran dari bibirnya.”&lt;br /&gt;    Pria itu lalu berkata, “Anda datang ke tempat yang benar, saudaraku. Akan tetapi, tidak ada sang penyelamat disini, jika itu yang engkau maksud. Kami mengenalnya dengan nama Kyai Bahdarudin Syamawi. Dan, beliau hanyalah seseorang yang telah membantu kami kembali pada jalan kebahagiaan. Beliau tinggal tepat di samping As-Salam, di sisi tanah Abdullah. Anda akan ditunjukkan tempat menginap jika anda seorang musafir, karena ada banyak ruang untuk bernaung bagi orang-orang yang mencari kebahagiaan.”&lt;br /&gt;    Dengan senang hati, berujarlah Angelina, “Ah, dengan demikian kita telah sampai pada tujuan kita dan perjalanan kitapun telah berakhir. Akan tetapi, katakanlah pada kami, apakah ia terlihat gemawa laksana seorang rasul, ataukah bercahaya bagaikan seorang Tuhan? Apa engkau selalu melihatnya setiap harimu.”&lt;br /&gt;    Pria itu lalu menjawab, “Ia tidak seperti apa yang terdengar di luar sana. Dia bukan seperti yang nona ucapkan. Dia hanyalah seorang manusia seperti kita adanya, hanya saja dia telah menjadi perpaduan kesempurnaan di kota ini. Seorang yang bertingkah seperti rasul, dan penuh kasih dalam setiap tindakannya.”&lt;br /&gt;    Angelina merasa senang dengan apa yang didengarkannya, ada begitu banyak hal lain yang ingin ditanyakannya, tetapi Christian mengingatkan sudah waktunya untuk pergi. Mereka mengucapkan terima kasih lalu meninggalkan pria itu. Sisanya mereka tidak perlu lagi menanyakan jalan, karena ada banyak musafir, peziarah juga pendatang yang berjalan seiring menuju As-Salam. Saat mereka tiba tatkala tangan malam mulai menyeruak, tetap saja begitu banyak orang yang datang mengalir. Banyak suara ribut terdengar saling bertanya juga meminta tempat. Christian dan Angelina yang terbiasa sebagai musafir, dalam tenangnya dengan cepat menemukan tempat berteduh bagi mereka untuk bermalam, hingga pagi.&lt;br /&gt;    Saat lembayung fajar merayap naik dari peraduannya, mereka terpukau menyaksikan lautan manusia yang menyeruak di sekitar As-Salam. Begitu banyak orang yang sangat ingin mendengarkan ajaran-ajaran sang penyelamat. Pria-pria dengan celana gantung di atas mata kaki, dengan jubah-jubah putih berjalan di sepanjang jalan di sisi taman yang indah sekali. Di sana-sini terlihat orang berdoa dalam khusyuk, atau terlibat dalam percakapan-percakapan spiritual. Taman teduh di sekitar As-Salam seperti gula yang dikerubuti semut. Kebanyakan pria muda datang membawakan mangkuk berisi makanan kepada para pendatang. Bahkan terdengar, sang penyelamat keluar di pagi hari untuk menyerahkan makanan dari tangannya sendiri.&lt;br /&gt;    Christian segera mengenali sang penyelamat, seakan-akan Tuhan menggerakkan pandangannya. Ia melihat sang penyelamat berjalan dengan tenang, senyumannya begitu teduh, wajahnya terlihat begitu bersinar, seorang pria sederhana dengan sorban melilit kepalanya.&lt;br /&gt;    “Lihatlah,” Kata Christian pada Angelina dengan lembut, “itu dia Sang Penyelamat.”&lt;br /&gt;    Angelina lalu mencari di antara para pria dengan sorban di kepalanya, yang dengan cara apa pun begitu sulit dibedakan dari ratusan jemaat lainnya. Kemudian Angelina segera mengenalinya. Meraka lalu mengikuti serta melihatnya.&lt;br /&gt;    Dirinya melangkah dengan begiitu tenang menuruti kakinya, seakan ia menghilangkan pikirannya. Wajahnya yang terasa sangat damai tidak memancarkan kedukaan sedikitpun. Dari tatapannya terlihat dalam hatinya ia tersenyum tulus dengan begitu lembutnya. Dengan senyum itu, yang laksanan seorang bayi yang sehat, ia terus berjalan dengan damai dan tenang. Dari pakaiannya ia tidak dapat dibedakan dari pria bersorban lainnya, tetapi muka dan langkahnya, pandangannya yang teduh terasa damai, tangannya yang terjulur mengalir kedamaian, dan setiap gerakan jarinya juga mengungkapkan kedamaian, mengutarakan segala bentuk kesempurnaan. Dirinya tidak mencari sesuatu, meminta sesuatu, tidak berusaha menirukan sesuatu, memantulkan bayangan ketenangan yang berkelanjutan, cahaya yang tidak pernah pudar, serta rasa damai yang tidak terkalahkan.&lt;br /&gt;    Seperti itulah adanya, pria itu memasuki setiap sudut daerah itu, dan kedua musafir muda itu mengenali dia hanya dengan tingkah lakunya yang penuh kedamaian itu, dengan segala ketepatan bentuknya, yang dengan ketepatan itu tidak ada pencarian, tidak ada keinginan, tidak ada kepalsuan, serta tidak ada upaya – hanyalah cahaya dan kedamaian.&lt;br /&gt;“Hari ini, kita telah melihat ajaran-ajarannya melalui segala tingkahnya.” Kata Angelina&lt;br /&gt;Christian tidak menjawabnya. Ia tidak terlalu ingin tahu pada ajaran-ajaran itu. Dia tidak berpendapat bahwa mereka akan mengajarkan sesuatu yang baru. Dia, seperti Angelina, telah mendengar hakikat ajarannya, jika hanya dari ucapan dan keterangan orang kedua atau ketiga. Tetapi, dia memperhatikan sekali kepala pria itu, pundaknya, kakinya, ketenangannya, tangannya yang terkulai, dan tampak padanya setiap ruas jarinya terdapat pengetahuan; mereka bernafas, berbicara dan memancarkan kebenaran. Orang ini, benar-benar seorang suci yang penuh akan pengetahuan. Tidak pernah sebelumnnya Christian menghargai seseorang demikian besar, tidak pernah sekalipun ia mencintai seseorang dengan begitu besar.&lt;br /&gt;Mereka berdua mengikuti langkah pria itu melewati setiap sudut dan kembali dengan tenang. Mereka sendiri bermaksud untuk berpuasa hari itu. Mereka melihat pria itu kembali, melihatnya makan bersama-sama jemaatnya dalam sebuah lingkaran – dan yang dimakannya bahkan tidak akan mengenyangkan seekor burung pun.&lt;br /&gt;Saat malam menyapa, saat gelap menggelayut, hinggap di dahan hari, saat setiap orang selesai berdoa dan berkumpul bersama, mereka mendengarkan pria itu berkhotbah. Mereka mendengarkan suaranya, dan suaranya pun sempurna, tenang dan penuh damai. Pria itu berbicara tentang penderitaan, asal penderitaan, serta cara melepaskan diri dari penderitaan. Hidup adalah sakit, dunia ini penuh dengan penderitaan, tetapi jalan untuk melepaskan penderitaan itu, adalah bagaimana sebuah benda dalam tubuh mengartikannya. Bagaimana daging kecil itu mampu menguatkan dan menghancurkan hidup seseorang. Daging yang kita kenal dengan hati. Hidup adalah sebuah transisi, dimana sebetulnya kita akan mati untuk dihidupkan kembali, dimana saat kehidupan itu datang saat itulah makna sebenarnya akan hidup dimulai. Sebuah penderitaan dari kekecewaan semu selama kehidupan ataukah kebahagiaan; terlepas dari segala penderitaan saat hati mampu menghadapi segala bentuk kehidupan semu. Akan ada keselamatan bagi mereka yang mampu menyerahkan hidup dan berserah diri atas segala yang telah menjadi ketetapan, serta segala kehendak-Nya.&lt;br /&gt;Pria itu berbicara dengan suara lembut tetapi mantap, mengajarkan berbagai hal utama, mengajarkan jalan kebajikan; dengan sabar dia memberikan pengajaran dua arah, memberikan contoh-contoh dan pengulangan. Dengan jelas dan tenang suaranya sampai kepada pendengar-pendengarnya – seperti sebuah cahaya, seperti terangnnya bintang di langit.&lt;br /&gt;Saat telah usai, dan hari pun telah larut malam, banyak pendatang menyalaminya dan memohon agar bisa menjadi pengikutnya, pria itu menyalaminya, lalu mengatakan dengan suara rendahnya; bahwa ia hanya penerus ajaran dari suri tauladan; Kekasih Tuhan yang paling mulia, Rasul terakhir. Jadilah pengikutnya dalam hati kalian, ikutilah amanah terakhirnya, maka engkau akan menemukan kebahagiaan dalam limpahan rahmat-Nya.&lt;br /&gt;Angelina yang pemalu, melangkah maju dan berkata, “Saya juga ingin mencurahkan kesetiaan saya kepada anda, serta seluruh ajaran-ajaran anda.” Ia menanyakan apakah dapat dimasukkan ke dalam kelompok itu dan diterima.&lt;br /&gt;Saat pria itu mengundurkan diri dari jemaatnya malam itu, Angelina kembali pada Christian, dan dengan senang hati berkata, “Christian aku tidak akan menyalahkan dirimu, kita berdua telah mendengarkan Yang Maha Mulia. Kita berdua telah mendengarkan ajarannya. Diriku telah mendengarkan ajaran-ajarannya, dan telah menerimanya, tetapi engkau, oh sahabatku terkasih, tidakkah engkau akan menapaki jalan keselamatan? Engkau hanya akan memperlambat, engkau akan terus menanti?”&lt;br /&gt;Saat Christian mendengarkan kata-kata Angelina, dia seolah terjaga dari tidurnya. Dia menatap wajah Angelina untuk beberapa saat, dengan lembut lalu ia berkata, “Angelina, engkau telah menapaki jalanmu, engkau telah memilih langkahmu.” Dalam suaranya tidak lagi terdengar cemoohan, “Kau selalu menjadi sahabatku, Angelina. Kau selalu berada di dekatku. Seringkali aku berfikir, apakah engkau akan pernah mengambil langkah tanpa diriku? Memutuskan dengan keyakinanmu sendiri? Kini engkau telah menjadi dirimu sendiri, dan telah memilih jalanmu sendiri. Engkau boleh meneruskan hingga akhir, sahabatku terkasih. Engkau boleh memperoleh keselamatan.”&lt;br /&gt;Angelina yang belum mengerti sepenuhnya, dengan tidak sabar menulangi pertanyaanny, “Katakanlah sahabatku, katakanlah bahwa engkau tidak dapat melakukan kecuali bersumpah setia pada ajaran Yang Maha Mulia.”&lt;br /&gt;Christian memegang pundak Angelina. “Kau telah mendengar berkatku, Angelina. Aku ulangi, engkau boleh berjalan di jalanmu sampai akhir. Engkau boleh menemukan keselamatanmu.”&lt;br /&gt;Pada saat itulah Angelina menyadari, bahwa sahabat terkasihnya telah meninggalkan dirinya, dan ia mulai menangis.&lt;br /&gt;“Christian!” Teriaknya.&lt;br /&gt;Christian berkata dengan ramah kepadanya, “Jangan lupa, Angelina, bahwa engkau sekarang adalah dirimu sendiri, engkau yang telah meninggalkan rumah dan orangtua. Engkau telah meninggalkan asal dan hartamu. Engkau telah meninggalkan keinginanmu sendiri. Itulah kehendak yang engkau inginkan dari dirimu. Besok pagi, Angelina, aku akan meninggalkan dirimu.”&lt;br /&gt;Malam itu mereka berjalan meninggalkan daerah itu, berjalan di antara sawah-sawah, di antara pepohonan di atas bukit. Mereka merebahkan diri menatap bintang di langit, memejamkan mata tetapi tidak juga tertidur. Angelina terus mengulangi perkataanya, mencoba menekan sahabatnya berulang kali untuk mengatakan kepadanya; mengapa ia tidak mengikuti ajaran-ajaran Yang Maha Mulia? Cacat apakah yang ditemukannya di dalam ajaran-ajaran itu? Tetapi Christian hanya mengibaskan tangannya, “Damailah, Angelina. Ajaran-ajarannya itu baik. Bagaimana mungkin aku bisa menemukan cacat di dalam ajaran-ajaran itu?”&lt;br /&gt;Sisanya mereka saling membisu, menatap bintang dalam diam mereka. Berbicara dengan pikirannya masing-masing. Christian merenung dalam, menarik sebuah untaian benang yang tergulung dalam pikirannya. Jalurnya terhenti saat wajah Angelina berada tepat dihadapannya. Hidung mereka bersentuhan. Nafas mereka terasa dingin menyentuh wajah. Bibir mereka bertemu saat Angelina menutup kedua matanya. Malam itu mereka kembali menyatu di bawah gemerlap bintang langit, di antara pepohonan, di balik sembunyinya para ilalang.&lt;br /&gt;Pagi-pagi sekali, Christian mengantarkan Angelina kembali ke tanah tersuci. Seorang wanita berkerudung menghampiri Angelina, memegang lembut pergelangan tangannya. Angelina merengutkan dirinya, memeluk teman dan sahabat terkasihnya, lalu melangkah pergi mengikuti langkah wanita berkerudung itu.&lt;br /&gt;Christian melangkah melintasi As-Salam dengan pikiran yang mendalam.&lt;br /&gt;Christian bertemu dengan sang penyelamat, dan ketika ia memberi hormat dengan sehormat-hormatnya, wajah pria itu penuh dengan kebaikan dan kedamaian. Orang muda itu memberanikan diri dan meminta izin untuk bisa berbicara kepadanya, dengan tenang pria itu mengangguk memberikannya izin.&lt;br /&gt;Christian berkata, “Kemarin saya telah mendengarkan ajaran-ajaran anda yang begitu indah. Saya bersama teman saya datang dari jauh untuk mendengarkan ajaran-ajaran Yang Mulia, dan sekarang teman saya akan tinggal di tempat ini, ia telah bersumpah setia kepada Yang Mulia. Namun saya akan meneruskan untuk memperbarui perjalanan hidup saya.”&lt;br /&gt;“Silakan.” Kata pria itu dengan sangat ramah.&lt;br /&gt;“Ucapan saya mungkin terlalu berani,” Sambung Christian, “tetapi saya tidak meninggalkan anda, Yang Mulia, tanpa mengatakan pikiran-pikiran saya dengannya. Sudikah Yang Mulia mendengarkan saya barang sebentar?”&lt;br /&gt;Dengan segala ketenangannya pria itu mengangguk mengizinkannya.&lt;br /&gt;Christian berkata, “Di atas segalanya, satu hal saya mengagumi ajaran Yang Mulia. Semuanya benar-benar sangat jelas dan nyata. Yang Mulia menunjukkan kehidupan sebagai satu kesatuan yang utuh, mata rantai yang tak terputus, sebuah rantai abadi, dihubungkan satu dan lainnya dengan sebab dan akibat. Sebelum ini belum pernah ajaran itu disampaikan dengan sangat jelas. Belum pernah disampaikan seperti itu hingga orang mudah membantahnya. Sesungguhnya setiap jantung seolah berdetak kencang, dan lebih cepat, bila melalui jalan dan memahami setiap ajaran-ajaran itu dalam memandang dunia, benar-benar suatu kesatuan, tanpa satu celahpun, jelas seperti sebuah kristal, tidak selalu bergantung pada kesempatan, tidak bergantung pada hal lain selain Dzat Tunggal. Segala sesuatu yang baik dan buruk, apakah sesuatunya itu senang atau sakit, apakah sesuatu itu menjadi tidak menentu – hal itu boleh jadi mungkin tidak begitu penting – tetapi segala kesatuan dalam kehidupan ini, kepaduan segala rangkaian peristiwa, rangkulan dari yang besar dan kecil dari arus yang sama, dari hukum sebab akibat yang sama, dari hukum kejadian dan kematian; semua itu terpancar jelas dari ajaran-ajaran Yang Mulia. Namun menurut ajaran Yang Mulia, konsekuensi logis akan semua makhluk akan terpecah dalam satu tempat. Melalui sebuah jurang kecil di sana mengalir ke dalam sebuah bentuk yang asing, sesuatu yang baru, sesuatu yang tidak ada di sana sebelumnya yang dapat dipertunjukkan dan dibuktikan; itulah ajaran Yang Mulia tentang kehidupan di atas dunia setelah kematian, tentang keselamatan. Dengan jurang kecil ini, betapapun, hukum tunggal dunia dan abadi menjadi terpecah-pecah lagi. Maafkanlah saya jika membangkitkan keberatan ini.”&lt;br /&gt;Pria itu mendengarkan dengan tenang tanpa bergerak, mendengarkan keseluruhannya dengan sempurna. Lalu pria itu berkata dengan suara yang jelas, ramah dan baik hati. “Anda telah mendengarkan dengan baik seluruh ajaran itu anak muda. Dan sangat terpujilah engkau, karena engkau telah memikirkan ajaran itu dengan begitu dalamnya. Pikirkanlah sejenak hal itu baik-baik. Anda yang haus akan pengetahuan adalah baik, dan anda pasti sudah siap untuk menentang rimba pendapat dan segala pertentangan kata-kata. Anda juga akan selalu punya hak untuk menerima ataupun menolak segala pendapat yang anda terima akan ajaran-ajaran, baik itu indah atau buruk, pandai atau tidak, setiap orang selalu berhak menerima ataupun menolak ajaran-ajaran itu. Akan tetapi, ajaran-ajaran yang saya beritakan melalui bibir saya, bukanlah pendapat saya, dan tujuannya hanyalah sebagai penyambung risalah dari Baginda Rasulullah, manusia mulia yang membawa pesan akan firman-firman-Nya. Jadi hal mendasar yang harus engkau pahami adalah, setiap ajaran akan mempunyai dasarnya masing-masing. Jika engkau ingin memahami ajaran ini, engkau harus terlebih dahulu memahami bahwa; engkau berhak untuk menerima atau menolak, karena tidak ada paksaan apapun dari ajaran ini.”&lt;br /&gt;“Jangan marah kepada saya, Yang Mulia.” Kata Christian pada pria itu. “Saya tidak berbicara untuk bertengkar tentang kata-kata itu. Yang Mulia benar ketika mengatakan bahwa pendapat-pendapat itu tidak memaksakan. Tetapi perbolehkan saya mengatakan satu hal lagi. Saya tidak meragukan anda walau sekejap pun. Bahwa Yang Mulia telah mencapai tujuan tertinggi yang ribuan orang berusaha mencapainya. Anda telah melakukan pencarian anda sendiri, melalui cara anda sendiri, melalui pemikiran, perenungan, pengalaman, melalui pengetahuan, dan penerangan yang sempurna. Saya yakin anda tidak mempelajari sesuatu dari ajaran-ajaran, dan demikianlah saya, bahwa keselamatan bukan melalui ajaran-ajaran. Sesungguhnya anda tidak akan dapat menyampaikan kata-kata dan ajaran kepada siapa pun, tentang apa yang terjadi terhadap anda pada saat anda menemukan pengeahuan itu. Ajaran-ajaran yang mengetahui kebenaran sangat banyak. Ajaran-ajaran itu mengajarkan cara hidup yang benar, cara melenyapkan sisis jahat. Tetapi ada satu hal yang menjadi tidak jelas, contoh-contoh dan pengalaman tidak berisi rahasia yang dialami anda sendiri, di antara ratusan. Itulah yang terpikirkan dan saya sadari ketika mendengarkan ajaran-ajaran anda. Dan, juga menjadi penyebab saya meneruskan perjalanan saya – bukan untuk mencari ajaran yang lebih baik, tetapi untuk meninggalkan semua guru dan mencapai tujuan saya sendiri. Tetapi saya akan selalu mengenang hari ini, serta jam ini ketika kedua mata saya melihat seorang suci.”&lt;br /&gt;Mata pria itu tertutup. Wajahnya yang tidak terduga memancarkan ketenangan hati yang penuh.&lt;br /&gt;“Saya hanya bisa berharap, bahwa anda keliru mengutarakan alasan.” Katanya dengan pelan. “Tetapi, biarlah anda mencapai tujuan anda. Namun sebelumnya anda harus memahami beberapa hal yang ingin saya utarakan; ada pemahaman yang salah akan persepsi anda memandang sosok saya. Saya yakin anda memahami kodrat keberadaan manusia pada satu kitab yang mengajarkannya. Penyatuan antara manusia dan Tuhan sebagai satu kesatuan tunggal.” Pria itu terdiam sejenak menanti jawaban Christian yang segera dibalas dengan anggukan pelan. “Saya adalah makhluk. Manusia. Raga yang di dalamnya bersemayam ruh. Dan, sampai kapanpun, saya hanyalah sebuah ciptaan, untuk itu saya tidak akan bisa menjadi satu dengan Pencipta saya. Tuhan itu tunggal, tanpa definisi lainnya. Tidak ada penjabaran, dan tidak juga menjadi beraneka bentuk sebagai penjabaran itu. Sedangkan saya hanyalah orang yang menemukan sebuah bentuk – dalam daging di balik raga saya; yang kita sebut hati – jalan kesadaran akan hakikat makhluk; sebagai hamba, dalam hal ini kita sebut sebagai hidayah. Manusia dan Tuhan akan selalu berkorelasi sebagai Sang Pencipta dan hamba-Nya. Saya adalah sesuatu yang harus selalu mengikuti aturan, jadi tidak akan mungkin saya mencapai tahapan sebagai pencipta aturan. Untuk seluruh rangkaian itu, kata-kata Yang Mulia tidaklah tepat dilontarkan kepada saya. Saya bukanlah seorang raja, makhluk mulia ataupun orang suci. Jika engkau ataupun orang lainnya mencintai diriku, maka cinta itu akan mati apabila raga ini mati. Tetapi jika engkau ataupun yang lainnya mencintai Tuhan, Ia tidak akan pernah mati. Manusia mempunyai hakikat untuk terus bertaqwa dan bersyukur atas segala rahmat yang telah dicurahkan atas dirinya. Kegelisahan dalam hidup hanyalah satu bentuk dari ketidaktahuan manusia untuk terus bersyukur. Engkau tidak perlu mencari atau menjadi Tuhan, sesungguhnya Tuhan ada dalam diri setiap hamba-Nya. Dia yang mengetahui apa yang terjadi, apa yang engkau inginkan, apa yang engkau pikirkan, apa yang engkau lakukan. Dia mengetahui sebagaimana engkau mengetahuinya, tetapi tidak berarti engkau telah menjadi Tuhan.” Pria itu diam sejenak membiarkan Christian berfikir.&lt;br /&gt;“Ada banyak hal yang bisa engkau pelajari dalam hidup sebagai tanda. Saya hanyalah sedikit contoh, tidak ada sesuatu yang istimewa sebagai pengingat untuk anda. Saya akan lebih baik mengatakan hal-hal yang mudah untuk difahami agar engkau dan yang lainnya lebih mudah memahaminya. Yang ingin saya tekankan hanyalah sebuah pilihan; apakah kalian ingin terus terbuai dalam kehidupan dunia dan nafsu, ataukah menyadari bahwa sebenarnya Tuhan sedang menguji kehambaan kita di dunia fana ini.”&lt;br /&gt;“Pikiran itu tidak pernah terlintas dalam benak saya.” Christian berkata setengah berteriak. “Biarlah mereka memilih jalan mereka. Biarlah mereka mencapai tujuan mereka. Saya sendiri akan menentukan untuk menerima atau menolak. Kami yang percaya pada kitab-Nya akan mencari cara sendiri untuk pelepasan dari diri. Jika saya memaksakan sebagi pengikut anda, saya khawatir itu hanyalah di permukaan saja, bahwa saya hanya akan menipu diri saya sendiri, bahwa saya seakan telah mencapai damai dan keselamatan, yang akan terus berlanjut dan tumbuh, karena saya berfikir itu akan diubah menjadi ajaran-ajaran anda, ke dalam kesetiaan dan cinta saya hanya kepada anda.”&lt;br /&gt;Setengah tersenyum, pria itu menunjukkan air muka yang bersinar kecerahan penuh ketenangan dan persahabatan. Lalu dengan gerakan yang tidak terasa, dia mengijinkan orang asing itu menemukan langkahnya.&lt;br /&gt;“Anda seorang yang pintar, anak muda. Anda tahu untuk bersikap, bertingkah laku dan berbicara dengan pandai. Engkau akan menemukan jalanmu selama engkau paham menggunakan kepintaranmu.”&lt;br /&gt;Pria itu pergi setelah mengucapkan salam. Pandangan dan senyumnya akan selalu tercetak dalam benak Christian, selamanya.&lt;br /&gt;Aku tidak pernah melihat seseorang melihat dan tersenyum, duduk dan berjalan seperti itu, pikirnya. Aku juha ingin memandang dan tersenyum, duduk dan berjalan seperti itu. Begitu bebas, begitu anggun, begitu terkendalikan, begitu apa adanya, bagaikan seorang kanak-kanak. Seseorang hanya akan berpandangan seperti itu bila dia telah mampu mengalahkan dirinya. Aku juga akan mengalahkan diri-ku.&lt;br /&gt;Aku telah melihat seorang pria, pikir Christian, yang di depannya aku harus menunduk. Aku yang tidak akan menundukkan mukaku di depan orang lain. Tidak ada ajaran lain yang akan menarik untuk kupelajari lagi, karena ajaran orang ini saja tidak menarik bagiku.&lt;br /&gt;Pria itu telah mencuri dariku, dia telah merampok diriku, karena aku telah kehilangan sesuatu yang nilainya lebih besar kepadaku. Dia merampas sahabat terkasihku, yang begitu percaya kepadaku dan sekarang lebih percaya kepadanya. Dia yang menjadi bayanganku dan sekarang akan menjadi bayangan pria itu. Tetapi dia telah memberikan sesuatu kepadaku sesuatu yang sangat berarti, diriku sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6791496379964808480-6368726735632209715?l=www.robbysyahputra.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/feeds/6368726735632209715/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2010/01/kyai-bahdarudin-syamawi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/6368726735632209715'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/6368726735632209715'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2010/01/kyai-bahdarudin-syamawi.html' title='Kyai Bahdarudin Syamawi'/><author><name>Historical Legend</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701636558006735668</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6791496379964808480.post-903009293543940183</id><published>2009-12-28T21:19:00.000-08:00</published><updated>2009-12-28T21:20:09.852-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syair Cinta Putra Pelacur'/><title type='text'>Menjadi Musafir</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-large;"&gt;&lt;i&gt;S&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;aat malam menjelang, mereka telah berhasil menyusul para musafir dan meminta ijin untuk dapat bergabung dengan mereka. Para musafir itu menerima mereka dengan bahagia.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian memberikan pakaian terbaiknya kepada seorang fakir sebagai bukti kesungguhannya untuk menjadi musafir. Tertinggallah padanya pakaian dalam yang dikenakannya serta pakaian yang mebungkus tubuhnya. Beberapa hari kemudian dia mulai mengikuti para musafir untuk berpuasa. Awalnya hanya dua kali seminggu, lalu ia mencoba berpuasa selang sehari sekali. Ia hanya makan sekali dalam sehari, dan tidak pernah memakan sebelum dirinya lapar, serta berhenti sebelum dirinya merasa kekenyangan. Perlahan daging di tubuhnya mulai menyusut. Dari kaki lalu juga pipinya. Impian-impian yang tidak terbayangkan mulai terlukis di wajahnya serta pantulan matanya. Tubuhnya tidak lusuh seperti musafir lainnya. Hatinya selalu yakin Tuhan mencintai kesucian dan kebersihan. Hanya saja kulitnya semakin coklat kehitaman, serta jenggot mulai tumbuh panjang dan kaku di dagunya. Saat ia melewati kota-kota dimana penduduknya bergaya glamour dan senang berfoya-foya, dirinya merasa jengah. Pandangannya menjadi hambar saat melihat wanita, karena baginya tidak ada lagi yang menarik dari mereka. Dia mulai melihat banyak hal. Para pedagang, orang-orang berdasi, manusia-manusia yang berdukacita meratapi orang mati, para pelacur menjajakan diri mereka, para selebritis bangga dengan pacarnya lalu menikah, bertengkar kemudian bercerai, para dokter hanya mau dikunjungi orang-orang sakit yang mampu membayar, ibu-ibu meneriakkan anaknya agar diam, para muda-muda tertawa lalu bersenggama – baginya semua itu tidak berarti sama sekali, semuanya dusta, sesuatu yang akan hilang dalam sekejap, bau busuk dari segala kedustaan; semua hanyalah ilusi dari rasa, kebahagiaan dan keindahan. Semua itu merupakan musibah dan malapetaka yang akan hancur. Dunia mulai terasa pahit dan hidup terasa memusingkan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Christian punya satu tujuan tunggal – menjadi Tunggal. Menjadi kosong dari kehausan, keinginan, impian, kepuasan dan kesedihan – membiarkan dirinya mati. Tidak lagi menjadi diri untuk mengalami kedamaian hati yang kosong, untuk mengalami pikiran-pikiran yang murni – itulah tujuannya. Bila seluruh keinginan diri dikalahkan dan mati, bila semua kesenangan dan hasrat menjadi diam, kemudian yang terakhir haruslah bangkit, dimana bagian paling dalam dari badan yang itu bukanlah lagi diri – itulah rahasia terbesar.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dengan diamnya, Christian berdiri di bawah teriknya sinar mentari yang ganas, penuh dengan segala kesakitan dan kehausan, dan iapun terus berdiri hingga ia tidak lagi merasakan sakit dan haus. Di lain waktunya, ia berdiri dalam hujan, air mengalir dari rambutnya, menetes dari janggutnya, menyentuh pundaknya, jatuh ke pinggang dan kakinya yang membeku. Tetapi ia terus berdiri hingga tubuhnya tidak lagi terasa membeku, sampai saat dimana semuanya diam, saat dimana semuanya hening. Ia merangkak di atas kerikil-kerikil hingga darah mengalir dari kulit indahnya yang terluka, lalu borokpun timbul, namun Christian tetap kuat, tidak bergerak, sampai saat tidak ada lagi darah mengalir, saat dimana tidak ada lagi tusukan, sayatan dan gesekan, serta tidak ada lagi kejengkelan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian duduk tegak dan belajar mengendalikan jiwanya, mengalahkan keinginan hatinya serta naluri terendah dari fikiran terburuknya. Mengatur tenang nafasnya agar tidak tersentuh emosi yang menjauhkan segala kedamaian. Menjauhkan segala prasangka, entah itu baik atau buruk, karena prasangka hanya akan menyakiti orang lain.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Diajar oleh para musafir yang lebih tua, Christian melatih penolakan diri dan keinginan duniawi yang dikatakan oleh mereka sebagai ilmu yang sangat berat. Mereka menyebut dirinya sebagai orang-orang zuhud. Saat diam untuk merasakan apa yang ada di sekitarnya, melihat seekor burung terbang di atas, di antara pohon-pohon bambu dan Christian menyatukan dirinya, jiwanya pada burung itu, terbang di atas awan, di atas hutan, di atas gunung-gunung, memakan cacing, menderita kelaparan seekor burung, lalu mati seperti matinya seekor burung. Seekor anjing mati di pinggir jalan, dan jiwanya menyelinanp dalam bangkai anjing itu; ia merasakan matinya anjing itu, berbaring di sana, membengkak, busuk, dan akhirnya hancur menjadi tulang-belulang, menjadi debu, bercampur dengan jutaan unsur di awan, langit, hingga atmosfer. Untuk semua itu, jiwa Christian kembali mati, hancur, berubah menjadi debu, utnuk kembali bangkit, mengalami jalan lurus yang sulit dalam lingkaran kehidupan. Dia lalu mencoba untuk menunggu dengan rasa haus baru, seperti seorang pemburu yang berada di tepi jurang dimana lingkaran kehidupan itu berakhir, tempat segala sebab dan kelenggangan berakhir. Christian lalu membunuh segala rasa, membunuh seluruh ingatan, dia lalu melepaskan dirinya ke dalam seribu bentuk yang beraneka dan berbeda. Dia lalu mencoba menjadi binatang, bangkai, kayu, batu, air hingga saat setiap kali dia akan bangkit lagi. Saat matahari ataupun bulan bersinar, dia lalu akan kembali menjadi dirinya, meloncat lalu berayun ke dalam lingkaran baru, untuk merasakan kehausan-kehausan yang baru.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dia mempelajari banyak hal dalam jalan barunya bersama para musafir. Lalu Christian belajar mengenai cara penolakan diri melalui rasa sakit, kecewa dan kehilangan, melalui penderitaan secara sukarela untuk melawan rasa sakit, melalui setiap kelaparan, kehausan dan keletihannya. Dia melakukan segala penolakan diri melalui matinya, melalui kekosongan akan seluruh pencitraan diri. Melalui seluruh cara yang dilaluinya, ia merasa telah benar-benar menempuh sebuah kehidupan. Dia pernah merasakan kehilangan jati dirinya ribuan kali, lalu saat-saat terakhir ia akan menemui dirinya di dalam setiap benda-benda tidak berwujud. Meskipun awalnya, segala benda-benda itu akan menjauhkan dirinya dari keadaan tunggal, namun akhirnya segala benda itu akan mengantarkannya kembali pada keadaan tunggal. Meskipun ia akan terus mencoba untuk keluar dari dirinya seribu kali, lalu menyatu pada segala binatang, batu dan segala benda, saat ia bersembunyi dalam ketiadaan, kekuatannya untuk kembali tidak akan dapat dielakkan; suatu momentum waktu yang tidak akan dapat dielakkan, saat ia kembali menemukan diri-nya, dalam segala bentuknya, dalam sinar matahari ataupun sinar bulan, dalam setiap bayangan ataupun hujan, dan ia akan lagi-lagi merasakan setiap kesengsaraan dari lingkaran hidup yang berat.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sedangkan di sisinya hiduplah Angelina, sahabat terkasihnya; dia akan berjalan di jalan yang sama, melakukan usaha-usaha yang sama. Mereka jarang berbicara satu sama lain, kecuali atas keperluan pelayanan. Terkadang mereka akan pergi bersama-sama ke setiap ruma-rumah, agar mereka dapat meminta sedikit makanan untuk mereka dan juga guru-guru mereka.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Apa menurutmu kita telah bertambah maju?” Tanya Christian pada satu kalinya. “Sudahkah kita mencapai tujuan kita? Bagaimana menurutmu, Angelina?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lalu Angelina akan menjawab, “Kita sudah mencoba belajar, dan untuk itu kita akan terus belajar. Engkau akan menjadi seorang pemuka, seorang guru besar, Chrsitian. Anda mempelajari segala hal dengan cepat. Anda selalu mendapatkan pujian dari para musafir tua. Suatu hari nanti, engkau pasti akan menjadi orang suci, Christian.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian lalu berkata, “Kukira tidak demikian, sahabat terkasihku. Apa yang telah kupelajari dari para musafir itu terlalu jauh. Aku ingin belajar hal lainnya dalam setiap perhentian kita, melawan segala keburukan yang tidak terhindarkan. Saat kita berada di pusat-pusat pelacuran, diantara para pemabuk dan pemain judi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lalu Angelina menjawabnya, “Engkau pasti bercanda, Christian. Apa yang telah engkau pelajari selama ini? Bagaimana segala kesakitan dan kelaparan yang engkau lewati? Segala pengosongan lalu kembali pada diri yang telah engkau lewati bersama orang-orang sial itu?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian menatap Angelina dengan lembut, lalu ia berkata padanya seolah berkata pada dirinya sendiri, “Apakah yang telah engkau pahami, Angelina? Apakah pengosongan fikiran itu? Apakah pelepasan jiwa dari diri itu? Apakah makna dari puasa itu? Apakah penahanan nafsu itu? Itu hanya sebuah bentuk pelepasan dari diri, sebuah bentuk pelepasan sementara dari sebuah bentuk kesengsaraan diri. Itu hanyalah sebuah perbedaan yang bersifat sementara, saat kita melawan segala sakit dengan kebodohan. Orang-orang sakit melakukan pelarian yang sama, menelan obat yang sifatnya hanya sementara. Para peminum akan meminum beberapa tenggak minuman keras, hingga dirinya tidak akan lagi merasakan sakitnya hidup, saat itulah dia akan mengalami pelarian sementara. Dia akan tertidur bersama botol-botol. Dia akan menemukan apa yang Christian dan Angelina alamai saat mereka melawan segala sakitnya, saat melepaskan jiwa dari diri, saat bersembunyi dalam segala bentuk tanpa diri.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Jadi menurutmu sahabatku,” Angelina berkata pada Christian, “Apakah engkau menjadi orang sakit? Apakah lalu engkau menjadi seorang pemabuk. Apa yang kita pelajari dari para musafir bukanlah ilmu yang dilakukan oleh seorang pemabuk. Memang benar setiap pemabuk akan melarikan dari dirinya, tetapi itu hanya sementara, lalu dia akan kembali menemui segala sesuatunya tetap seperti sebelumnya. Ia tidak akan menjadi lebih bijaksana, dia tidak juga memperoleh pengetahuan, sehingga dia tidak akan menjadi lebih tinggi.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dengan tersenyum Christian menjawab, “Entahlah, aku tidak bisa menjawabnya. Aku tidak pernah menjadi seorang pemabuk. Aku juga tidak pernah merasakan nikmatnya bercinta dengan seorang pelacur, ataukah sebuah kesenangan dari berjudi. Yang aku tahu saat ini adalah, aku menemukan perhentian sementara dari apa-apa yang telah aku jalani, dan aku tetap merasa sama jauhnya dari segala kebijaksanaan, dari sebuah penyelamatan untuk menjadi seperti bayi di dalam rahim. Itulah yang aku tahu, Angelina.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Di lain kesempatan, tatkala Christian dan Angelina meninggalkan para musafir untuk mendapatkan makanan bagi saudara-saudara dan guru mereka, Christian bertanya pada Angelina, “Baiklah Angelina, apakah kita sudah pada jalan yang benar? Benarkah kita sudah memperoleh pengetahuan? Apakah benar kita mendekati keselamatan? Atau, barangkali kita hanya berputar-putar dalam lingkaran – dan kita mengira dapat keluar dari lingkaran itu?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Angelina lalu menjawab, “Kita telah belajar banyak, Christianku sayang. Tetapi masih ada banyak lagi yang harus kita pelajari. Kita tidak akan berputar-putar dalam lingkaran, sahabatku terkasih, kita sedang menuju ke atas. Hanya saja jalannya berbentuk spiral, dan kita telah menaiki beberapa tahap.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian kembali bertanya, “Menurutmu, berapa usia musafir tertua, guru kita yang sangat kita hormati?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Angelina berkata, “Aku rasa yang tertua berusia sekitar enam puluh tahun.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dan kata Christian, “Dia berusia enam puluh tahun dan belum manunggal bersama Tuhan. Lalu, dia akan berusia tujuh puluh, lalu delapan puluh tahun, lalu kau dan aku juga akan menjadi setua dia, kita melakukan segala pengosongan, berpuasa, hingga kita tidak akan menjadi tunggal, tidak juga padanya atau kita. Angelina, aku yakin tidak ada satu musafirpun yang bisa menjadi tunggal. Kita hanyalah menemukan penghiburan. Kita belajar menipu, menipu diri kita sendiri, tetapi hal paling utama; jalan untuk menjadi tunggal, tidak akan pernah kita temukan.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Jangan engkau ucapkan kata-kata itu, Christian.” Kata Angelina. “Bagaimana mungkin diantara begitu banyak orang terpelajar, diantara para pendeta, pastur, biksu, kyai, di antara sekian banyak pencari, sekian manusia yang mengabdikan jalannya pada kehidupan batin, demikian banyak orang suci; tidak satupun dari mereka yang akhirnya menemukan jalan?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dengan segala kegundahannya, suaranya yang terasa seperti mengolok-olok, sedikit sedih dan sedikit senda gurau, Christian berkata, “Angelina, sahabatmu akan segera meninggalkan jalan yang ditempuh para musafir, jalan yang telah dilaluinya bersamamu sekian lama. Aku masih menderita kehausan, Angelina. Jalan panjang bersama para musafir ini tidak sedikitpun mengurangi kehausanku. Aku terus saja kehausan akan pengetahuan. Pagi, siang dan malamku terus saja dipenuhi pertanyaan. Tahun demi tahun aku telah bertanya pada ayahmu, guruku. Tahun demi tahun aku terus bertanya pada batinku. Barangkali akan sama baiknya dan sama pandainya saat aku bertanya pada seekor gajah ataupun kuda. Aku telah menghabiskan waktu sekian lama dan tetap belum selesai, untuk mempelajari bahwa seseorang dapat mempelajari sesuatu yang tidak ada. Dalam intinya, demikian yang aku yakini, ada sesuatu yang tidak dapat kita sebut sebagai belajar. Sahabatku, hanya ada sebuah intisari pengetahuan yang terdapat dimana-mana, yaitu hati, yang itu ada padaku dan padamu, juga pada setiap manusia. Saat ini aku mulai percaya, bahwa pengetahuan ini tidak mempunyai musuh yang lebih buruk daripada makhluk yang berpengetahuan, yakni diri sendiri.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Angelina berdiri tegak menatap kedua mata Christian, lalu mengangkat telapak tangannya, “Christian, jangan engkau persulit sahabatmu ini dengan ucapan seperti itu, sesungguhnya, uncapanmu sangat menyulitkan saya. Renungkanlah sejenak, apa artinya yang para pendeta suci akan punyai, kesucian kaum musafir, jika, seperti yang engkau ucapkan. Tidak ada satu kegiatan belajar? Christian, lalu akan jadi apakah sesuatu, akan jadi apakah orang-orang suci di bumi, akan jadi apakah yang mulia dan suci itu?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Angelina menyandungkan bait baginya, sebuah syair dalam baitnya:&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Ia yang percaya akan kasih Bapa, maka ia akan bisa merasakan cinta dari Bapa, sebagaimana kasih yang ada di Langit-Nya.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian terpukau, ia lama terdiam oleh kata-kata yang dilontarkan Angelina.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ya, fikirnya, sambil berjalan dengan kepala tertunduk. Apa yang tertinggal dari sesuatu yang tampak nyata oleh kita? Apa yang hilang, dan apa yang terpelihara? Dan iapun menggelengkan kepalanya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saat awal-awal bersama para musafir, mereka mendengar desas-desus tentang seseorang. Seseorang bernama Bahdarudin Syamawi, orang suci yang telah manunggal. Pada dirinya telah sampai pada titik mengalahkan segala kepedihan dan menghentikan proses untuk mati lalu lahir kembali. Dia melanglang ke banyak daerah sambil berdoa, dikerumuni banyak pengikutnya serta diciumi tangannya, tidak mempunya kekayaan apapun, tidak berumah, seorang pria suci. Para raja tunduk di hadapannya, lalu akan menjadi murid-muridnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Laporan ini sampai melalu bibir para musafir, cerita ini lalu berkembang di sana-sini. Nama Bahdarudin Syamawi, secara terus menerus sampai di telinga orang-orang, dibicarakn oleh yang sehat dan sakit, dengan segala bentuk pujian, meski terkadang ada cemohan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sama seperti halnya jika ada wabah penyakit di suatu daerah, lalu ada desas-desus tentang seorang bijaksana, seseorang yang dengan kata-katanya, nafasnya dan sentuhannya cukup untuk mendatangkan sebuah kesembuhan bagi orang-orang yang sakit itu, dan berita itu kemudian menyebar ke daerah lainnya dengan cepat dan setiap orang akan membicarakannya, banyak orang yang akan percaya dan juga meragukannya. Namun akan ada banyak orang yang dengan segera pergi mencari orang bijaksana itu dengan cara mereka masing-masing. Dengan cara itu pula desas-desus menegani Bahdarudin Syamawi, orang bijak yang telah mencapai tunggal sampai ke seluruh negeri. Dia yang memiliki pengetahuan luar biasa – kata orang-orang yang percaya – dia yang mampu mengingat kehidupan sebelumnya, dia yang telah menjadi tunggal dan tidak pernah kembali pada siklus, dan tercebur kembali pada lingkaran. Banyak hal-hal menakjubkan dan indah yang tersampaikan mengenai dirinya; dia yang telah mengalahkan keinginan duniawi, dia yang telah memperlihatkan keajaiban-keajaiban, menaklukkan setan, berbicara pada para malaikat layaknya Tuhan. Akan tetapi orang-orang yang membencinya akan mengatakan; bahwa orang ini hanya penipu, pria yang menghabiskan hidupnya dengan bermalas-malasan, melewatkan hari-harinya dengan gaya tinggi, serta mencemoohkan rakyat jelata. Dia tidak juga terpelajar dan tidak mengetahui baik cara maupun tata cara beribadah.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Desas-desus mengenai Tuhan ini terdengar menarik, ada daya tarik dalam kabar ini. Dunia ini pada dasarnya sakit. Kehidupan menjadi semakin sulit dan terus menanti adanya harapan baru. Di sana-sini terus muncul kabar, penghiburan, penyejukan, dan segudang janji-janji indah. Di mana-mana ada desas-desus tentang sang penyelamat. Pemuda-pemudi, seluruh lapisan, di seluruh negeri mendengarkan, merasakan sebuah kerinduan dan sebuah harapan. Dan di setiap sanubari rakyat, baik di kota maupun di desa, selalu menyambut baik jika ada kabar baik tentang sang penyelamat. Yang Maha Mulia, Sang Penebus Kesengsaraan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Desas-desus itu sampai ke telinga para musafir, termasuk Christian dan Angelina, sebuah hal yang kecil namun penuh dengan harapan, juga keraguan. Mereka sedikit sekali membahas hal tersebut, karena musafir tertua bukanlah sahabat dari sebuah desas-desus. Dia hanya mengatakan bahwa sang penyelamat itu hanyalah seorang musafir, hanya saja kehidupannya telah diangkat derajatnya oleh Tuhan serta kesempatan untuk merasakan nikmat dunia, untuk itu dia tidak akan membela kepentingan Bahdarudin Syamawi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Christian,” Suatu kali Angelina berkata pada sahabat terkasihnya, “hari ini aku mendatangi rumah-rumah, lalu seseorang mengundangku masuk ke dalam rumahnya, dan di dalam rumah itu ada seorang anak yang masih sangat muda; dia telah bertemu sang penyelamat dengan mata kepalanya sendiri serta mendengarnya berkhutbah, bagaikan firman. Sungguh, sayapun sangat merindukannya dan saya berdoa; saya berharap, baik Christian maupun saya diberikan kesempatan hidup untuk dapat melihat hari di saat kami dapat mendengarkan pelajaran-pelajaran dari bibir Yang Maha Sempurna. Sahabatku terkasih, apa kita tidak akan melangkah ke sana, agar kita dapat mendengarkan pelajaran dari bibir sang penyelamat.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lalu Christian berkata, “Aku selalu berfikir bahwa engkau, Angelina, akan tetap megikuti para musafir. Aku sendiri, selalu percaya bahwa itu adalah tujuanmu, hingga berusia enam puluh atau bahkan delapan puluh tahun, engkau akan masih terus melatih diri berdasarkan cara-cara yang diajarkan para musafir. Tetapi sesungguhnya betapa kecil yang aku ketahui, Angelina! Betapa lemahnya diriku untuk dapat mengetahui apa-apa yang ada di dalam hatimu. Lalu sekarang sahabatku, engkau berharap dapat menempuh sebuah jalan baru dan pergi, hanya sekedar untuk mendapatkan ajaran-ajarannya.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Mengejekku sepertinya benar-benar memberikan kepuasan padamu. Biarlah jika memang demikian. Christian, tidakkah engaku juga merasakan kerinduan, keinginan untuk dapat mendengarkan ajaran-ajarannya? Dan bukankah engkau pernah mengatakan padaku bahwa engkau tidak akan menempuh jalan para musafir lebih lama lagi?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Setelahnya Christian tertawa dengan suara yang membiaskan bayangan kesedihan dan kepalsuan, lalu ia berkata, “Kau telah mengatakan hal yang benar, Angelina. Kau mengingat segalanya dengn sangat baik. Tetapi apa engkau melupakan hal lain yang juga kukatakan kepadamu? Bahwa aku telah menjadi tidak percaya pada pelajaran-pelajaran, dan juga aku menjadi sedikit sekali percaya akan kata-kata yang datang pada kita dari seorang guru. Yah, tetapi baiklah, sahabatku, aku siap untuk mendengarkan ajaran baru itu, meskipun jauh di dalam hatiku aku percaya bahwa kita telah merasakan buah yang terbaik.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Angelina menjawab, “Aku senang sekali kalau engkau setuju. Tetapi katakan padaku, bagaimana bisa ajaran-ajaran dari sang penyelamat menunjukkan pada kita buah yang paling berharga bahkan sebelum kita mendengarkan dia?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian berkata, “Kita nikmati saja buah ini lalu tunggulah buah-buah berikutnya, Angelina. Buah ini, yang untuknya kita telah berutang pada Bahdarudin Syamawi, yang pada kenyataanya bahwa dia telah menarik kita keluar dari para musafir. Apakah masih ada buah lain dan lebih baik, untuk itulah mari kita tunggu dan lihat dengan sabar.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Di hari yang sama, Christian lalu mengatakan pada musafir tertua mengenai niat untuk meninggalkannya. Ia mengatakan kepada orang tua itu dengan ramah dan kerendahan hati yang begitu cocok dengan orang muda dan seorang murid. Tetapi orang tua itu lalu marah saat mengetahui bahwa kedua orang muda itu berkeinginan untuk meninggalkannya, dan dia meninggikan suaranya serta mencaci maki mereka dengan kerasnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Angelina bergetar, kaget dan ketakutan, tetapi Christian mendekatkan bibirnya ke telinga Angelina lalu berbisik, “Kini akan aku tunjukkan kepada orang tua itu, bahwa aku telah mempelajari sesuatu dari dia.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dia berdiri di dekat musafir. Pikirannya terfokus. Lalu ia memandang tajam mata orang tua itu, mencoba mendorongnya dengan pandangan itu, membuatnya membisu, mengalahkan segala keinginannya, lalu memerintahkan kepadanya untuk melakukan seperti apa yang dikehendakinya. Orang tua itu terdiam, matanya berlinang dan berkaca-kaca, kemauannya lumpuh, tangannya terkulai, dia menjadi begitu tidak berdaya di bawah pesona Christian. Pikiran-pikiran Christian menuntun musafir tua itu untuk menyajikan apa yang diperintahkannya. Dan begitulah selanjutnya, musafir tua itu menunduk beberapa kali, menepuk pundak mereka berdua; memberikan berkatnya, dalam gagapnya, ia menyampaikan semoga keadaan selalu baik bagi mereka; dalam perjalanan dan kehidupan mereka. Kedua anak muda itu mengamini, mengucapkan terima kasih atas doa yang disampaikan untuk mereka, membals membungkuk dan pergi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Di tengah jalan Angelina berkata, “Christian, kamu sudah belajar terlalu banyak dari para musafir melebihi yang aku kira. Sungguh sulit, bukan sebuah hal mudah untuk dapat menaklukkan pikiran seorang musafir tua. Sebenarnya jika saja engkau tinggal lebih lama lagi, pasti engkau akan mampu menjadi seorang guru bagi para musafir, atau mungkin engkau akan bisa berjalan di atas air.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Aku tidak berkeinginan untuk menjadi guru, ataupun berjalan di atas air.” Jawab Christian. “Biarkanlah musafir tua itu berpuas diri dengan hal-hal semacam itu.”&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6791496379964808480-903009293543940183?l=www.robbysyahputra.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/feeds/903009293543940183/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/12/menjadi-musafir.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/903009293543940183'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/903009293543940183'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/12/menjadi-musafir.html' title='Menjadi Musafir'/><author><name>Historical Legend</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701636558006735668</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6791496379964808480.post-2844295076459290386</id><published>2009-12-28T21:13:00.000-08:00</published><updated>2009-12-28T21:14:56.576-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syair Cinta Putra Pelacur'/><title type='text'>Chapter 1 : Putra Seorang Pelacur</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;D&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;alam bayangan pohon, di bawah sinar matahari di tepi danau, dalam bayangan hutan dan cemara yang pucat, Christian, pria rupawan putra seorang pelacur. Matanya menatap kosong jauh ke depan, melintas danau yang bergetar bening tertiup angin. Matahari membakar pangkal lengannya yang terbuka. Ayahnya seorang kuli bangunan, dan ibunya seorang pelacur. Tidak satupun percaya dia adalah putra dari ayahnya yang seorang kuli. Ayahnya pendek dan kekar. Kulitnya hitam dengan rambut keriting. Christian diberi nama oleh ayahnya Miing. Semenjak kecil dia banyak menghabiskan waktu berbincang dengan seorang pendeta. Dia telah belajar banyak ilmu yang perlu diketahuinya. Telah sering berdebat untuk mengetahui lebih banyak lagi, serta telah menjalani pembabtisan juga pengakuan dosa untuk ibunya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian tidak pernah melihat ayah atau ibunya sembahyang, dalam kepercayaan apapun. Bahkan dia tidak tahu apa agama yang dianut kedua orangtuanya. Ia hanya tahu bagaimana sepenuh hatinya, di dalam kalbunya yang terdalam dia mencintai meraka, sepenuhnya hingga kasih itu muncul dalam seluruh jiwanya, hingga tidak dapat dihancurkan oleh bentuk penghinaan apapun.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ayahnya meskipun bukan bapaknya, sangat berbahagia dengan Christian yang cerdas dan begitu antusias akan ilmu. Ia hanya bisa melihat suatu hari nanti, putranya meskipun bukan anaknya, akan menjadi seorang terpelajar, seorang guru, raja diantara sesamanya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Di mata ibunya dan di balik dadanya yang telah terjamah ratusan orang, ada kebanggaan pada putranya. Saat ia tersenyum, berjalan, berbicara, duduk dan bangkit kembali. Christian tumbuh menjadi pria tampan, gagah dan perkasa. Geraknya lembut dan sikapnya tegas.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ada ribuan cinta yang mengusik hati gadis di sekitar tempat tinggal mereka. Saat ia berjalan melewati rumah-rumah mereka, alisnya yang tinggi dan matanya yang teduh juga tajam, serta tubuhnya yang semampai, benar-benar telah menyengsarakan hati para gadis-gadis itu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Angelina, putri sang pendeta. Ia mencintai Christian melebihi apapun. Ia mencintai mata dan tutur kata Christian. Ia menyukai cara Christian melangkah dan menatapnya. Ia mencintai apapun yang dikatakan dan dilakukan Christian. Dan, melebihi segalanya, ia mencintai kecerdasan, pikiran-pikiran yang jumawa, keinginan yang begitu kuat, serta dedikasi tinggi akan segala sesuatu yang dikerjakannya. Angelina mengerti sepenuhnya ia tidak akan bisa memiliki Christian. Cintanya akan menjadi seorang raja yang tidak biasa. Seorang pemuka yang luar biasa, melebihi apapun yang telah dilakukan oleh ayahnya. Dan, Angelina tidak pernah sepenuhnya mengharapkan lebih atas Christian. Dia hanya akan menabur jalannya dengan bunga. Jika Christian akan menjadi satu anak Allah yang terkasih, ia berharap akan mengikutinya sebagai sahabat, abdi terkasih, pembawa tongkatnya, atau sekedar menjadi bayangannya. Ia hanya ingin mengikuti Christian.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ada banyak cara orang mencintai Christian, karena dia akan selalu menyenangkan dan membahagiakan setiap orang. Saat menatap Christian, kehinaan sirna dari tatapan mereka. Meraka lalu lupa bahwa ia hanya putra seorang kuli bangunan dan seorang pelacur. Mereka membagikan harta mereka, menjamu dirinya dengan hidangan-hidangan lezat. Putri-putri mereka bertanya, meminta hingga menggoda. Mereka rela melepas pakaian mereka, meminta setitik benih dari dirinya. Begitu inginnya merasakan bagaimana rasanya saat tubuh Christian menyatu dengan mereka. Bergelora hingga mereka lupa apa yang dihinakan atas ibunya saat ia masih belia. Tanpa mereka sadari, mereka rela menjadi pelacur demi mendapatkan putra seorang pelacur.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian tidak pernah bahagia. Ia berkeliling sepanjang jalan, menyepi hingga larut dalam perenungannya. Duduk merenungkan diri di tepi danau, di bawah pohon-pohon yang teduh, mencuci seluruh anggota badannnya setiap hari, berharap ia terbebas dari segala jenis dosa. Ia dicintai hampir seluruh orang, karena ia adalah sumber kegembiraan. Kebencian hanya muncul dari para pria remaja hingga dewasa. Christian telah menghancurkan mimpi mereka saat gadis-gadis yang mereka cintai lebih memilih dirinya. Tetapi di dalam hatinya, Christian tidak memiliki sedikitpun kegembiraan itu. Dia tidak terusik dengan segala kebencian itu. Hanya ada Angelina yang akan selalu melindunginya. Menjaganya saat para pria mulai resah pada dirinya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Impian-impian, pemikiran-pemikiran, dan hati gelisah selalu menghampirinya dari matahari di saat pagi dan siang, dari bulan di kala malam, bintang-bintang, alirang sungai, hewan-hewan dan dari angin yang berhembus. Impian-impian itu datang padanya, bangkit dari lonceng gereja, keluar dari syair-syair di kala Misa, menetes pelan dari ajaran-ajaran perjanjian lama.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Perlahan, Christian mulai merasakan bibit-bibit ketidaksenangan pada dirinya. Dia merasakan bahwa cinta ayahnya, ibunya serta cinta temannya, Angelina, tidak cukup memeberikannya kedamaian, memuaskan dirinya dan mencukupi seluruh keinginan hatinya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ia mulai menyadari bahwa sang pendeta telah menuangkan dan menceritakan padanya bagian terpenting, terbesar dan terbijaksana, bahwa dirinya telah menuangkan setumpuk pengetahuan dalam otaknya yang tidak penuh-penuh. Hatinya tidak cukup terpuaskan, sehingga jiwanya tidak damai, hatinya dan fikirannya tidak mampu bertahan untuk tinggal diam.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Penyucian-penyucian itu tidaklah salah di matanya, tetapi itu hanya air dan pengakuan; air dan pengakuan tidaklah melenyapkan dosa, air dan pengakuan juga tidak mampu melenyapkan derita di dalam hati.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Syair-syair dan juga bait-bait lagu itu baik, tetapi apakah semua itu adalah segalanya? Apakah syair-syair serta lagu-lagu itu memberikan kebahagiaan? Lalu bagaimana dengan Bapa, Putra dan Roh Kudus atau Bunda Maria? Bukankah Yesus anak Tuhan dan Putra dari Bunda Maria? Lalu apakah Bunda Maria adalah istri Tuhan? Bukankan Al Masih diciptakan seperti adanya diriku dan manusia lainnya, makhluk hidup yang menumpang sementara di atas bumi? Apakah itu cukup pantas dan baik, menyembah sesuatu yang menyerupai kita? Lalu kepada siapa lagi kita harus mengalunkan syai-syair dan bait-bait, kepada siapa lagi kita harus tunduk dan hormat, selain kepada satu Dzat Tunggal, Dia Yang Maha Esa itu? Lalu dimanakah Dzat Tunggal itu? Dimanakah Dia bersembunyi, suara nafas-Nya yang lembut terhembus, degup dan detak jantung-Nya yang lenggang berdetak? Dimanakah Dia bersembunyi selain pada Diri-Nya, di tempat terdalam, di relung paling tersembunyi. Di dalam keheningan yang terdapat dalam diri setiap orang. Tetapi dimanakah letak keheningan yang terdalam itu? Karena dia bukanlah darah dan daging, serta bukan suatu bentuk pikiran dan kesadaran. Lalu dimanakah sebenarnya Dia? Untuk menemui-Nya dan mendekatkan diri pada-Nya, adakah jalan terbaik lainnya yang dapat ditempuh? Tidak ada satu orangpun dapat memberitahunya. Ayahnya yang seorang kuli, ibunya yang seorang pelacur, gurunya yang seorang pendeta, sahabatnya yang begitu mencintainya. Perjanjian Lama juga Baru, bait-bait nyanyian dan syair-syair suci; mereka tahu segala-galanya dan juga telah mencapai segala-galanya. Penciptaan dunia, manusia, makhluk bernyawa, asal-muasal, makanan, tarikan dan hembusan nafas, pengaturan rasa yang benar dan salah, tindakan para Nabi dan Rasul serta para Malaikat dan Jin. Mereka tahu segala jenis barang dan nilainya. Tetapi apakah semua itu akan jadi berharga saat mereka tidak mengetahui satu hal yang cukup penting, satu-satunya hal yang sangat penting itu?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ada banyak bait-bait, firman-firman dalam Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, Alkitab mengungkapkan hal yang terdalam itu. Ajaran Tuhan Yesus yang dicatat oleh Rasul Matius, Lukas, Yohanes serta Rasul Markus. Tertulis di dalamnya pada “Matius” pasal 5 ayat 9, “Berbahagialah segala orang yang mendamaikan orang, karena mereka itu akan disebut anak-anak Allah”. Dikatakan dalam “Yohanes” pasal 14 ayat 9, “Siapa yang sudah nampak Aku, ia sudah nampak Bapa”, serta ayat 10, “Tiadakah engkau percaya bahwa aku ini di dalam Bapa, dan Bapapun di dalam Aku? Segala perkataan yang aku ini katakan kepadamu, bukanlah Aku katakan dengan kehendak sendiri, melainkan Bapa itu yang tinggal di dalam Aku. Ia mengadakan segala perbuatan itu”. Jika engkau mampu mendamaikan manusia maka engkau akan mampu mejadi anak-anak terkasih Allah. Jika engkau menjadi anak Allah, maka engkau akan menjadi sama seperti Tuhan Yesus, lalu hal terpenting itu akan ada di dalam dirimu. Hingga saat engkau dan Tuhan akan menjadi satu, Tunggal. Sebagaiman tertulis dalam “Yohanes” 10,30: “Aku dan Bapa itu satu adanya.” Demikian pula halnya dengan Roh Suci, sebab Roh Suci menjadi satu dengan Yesus, sebagaimana tertuang dalam Injil, setelah Yesus berumur 30 tahun, turun Roh Suci kepadanya dan dibaptiskan oleh pembabtis Yohanes. Hal ini menunjukkan bahwa Yesus, Roh Suci, dan Tuhan adalah Tunggal.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ini adalah kebijaksanaan yang indah dalam syair-syair dan firman-firman itu; keseluruhan pengetahuan akan kebijaksanaan diceritakan di sini dengan bahasa yang menarik dan indah, murni semurni intisari bunga yang diubah menjadi madu oleh lebah. Sedikitpun, tidak ada sedikitpun dari seluruh jumlah pengetahuan yang besar ini, yang telah dikumpulkan dan dipelihara oleh generasi-generasi dapat dengan mudah diabaikan. Tetapi dimanakah para guru, para bijaksana, para pendeta, pastur atau romo yang tidak hanya sekedar berhasil dalam memiliki ilmu pengetahuan yang paling besar, tetapi juga berhasil memperoleh begitu banyak pengalaman dari pengetahuan itu? Dimanakah mereka yang mempunyai andil begitu besar, orang-orang yang mampu menjadi tunggal dengan Dzat Yang Esa, yang mampu menguasai kesadarannya, dalam hidupnya, dalam keadaan apapun baik dalam ucapan maupun perbuatan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Chirstian hanya mengetahui seorang manusia suci, meskipun dalam hidupnya ia belum mampu menjadi tunggal, sang pendeta – gurunya yang suci, terpelajar diantara orang-orang mulia yang tertinggi. Sang pendeta begitu merasuk kekagumannya. Sikapnya begitu lembut dan tenang. Ia menjalankan sebuah kehidupan yang baik dengan putri angkat yang baik pula. Kata-katanya bijaksana; dimana tersembunyi pemikiran-pemikiran indah dan mulia di dalam benaknya. Tetapi dia yang mengetahui begitu banyak ilmu dan pengetahuan, dan jalan-jalan kemuliaan, bahagiakah hidupnya, damaikah dia? Bukankah dirinya juga seorang pencari yang tidak pernah puas? Atau dia merasa cukup puas dengan hanya menjadi seorang pelayan dari seluruh ajaran Dzat Yang Esa? Bukankah ia juga melayani pengaduan dan pengakuan dosa, lalu bagaimana bila ia ingin melakukannya? Atau mungkinkah ia telah menjadi Tunggal? Bukankah ia selalu memberikan wejangan dalam misa-nya? Kenapa dia begitu keras berusaha untuk mengeyahkan dosa dalam hidupnya, bila ia adalah sang penerima pengakuan dosa? Tidakkah Tuhan telah berada dalam dirinya, telah menyatu dalam dirinya? Tidakkah Dzat itu telah merasuk dalam sanubarinya? Seseorang harus terus mencari sumber dalam Diri-Nya sendiri. Seseorang harus mampu memilikinya. Segala sesuatunya sedang mencari – inilah sebuah bentuk kesalahan yang terus melingkar.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Itulah segala bentuk kegelisahan hati Christian.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kepada dirinya sendiri, Christian terus mengulang perkataan sang pendeta dari Firman-Nya, yang tertuang dalam “Johanes” pasl 10 ayat 38:”Supaya kamu dapat tahu dan percaya, yang Bapa ada di dalam Aku, dan Aku ada di dalam Bapa.” Yang ayat ini menunjukkan bahwa Yesus anak Tuhan dan Tuhan itu adalah satu adanya. Dan, mendamaikan akan membuat manusia menjadi anak-anak Tuhan. Kebenaran itu sedikit seringnya menjadi dekat dengan pemahaman untuk dapat menjadi satu dengan Tuhan – tetapi tidak mampu benar-benar untuk mencapainya, sehingga tidaklah itu mampu memuaskan kehausan terakhir. Dan pada orang bijak itu dan pelajaran-pelajaran yang ia pelajari, tidak ada satupun yang benar-benar mencapainya – menjadi satu dengan Tuhan itu – tak satu orangpun yang telah benar-benar memuaskan kehausan abadi itu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Angelina,” kata Christian pada sahabatnya, “Angelina, mari kita ke tepi danau, di satu sudut, di dalam gua, kita menyepi dan melatih jiwa, fikiran dan mengendalikan hati.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Mereka lalu pergi ke danau, tiga puluh langkah jaraknya, mereka masuk ke dalam ceruk yang cukup dalam untuk menyembunyikan mereka dari dunia luar. Saat Angelina akan duduk untuk melatih segala fikirannya, Christian menanggalkan seluruh pakaiannya lalu menggelarnya di lantai gua. Angelina terpukau menatap keindahan tubuh sang pujaannya. “Tanggalkan seluruh penutup tubuhmu, sahabatku,” Christian berkata dengan penuh kelembutan pada sahabatnya. Kebingungan mengisi seluruh benak dan fikiran Angelina. Rasanya tidak menolak meski kesadarannya tidak mengiyakan. Di bawah kekagumannya, Angelina menanggalkan seluruh pakaiannya. Keranuman tubuh seorang gadis muda terlihat jelas di hadapan Christian. “Gelarlah pakaianmu di lantai, seperti yang aku lakukan.” Angelina melakukan apa yang Christian perintahkan. “Duduklah di atasnya dengan bersila, dan jangan sekalipun engkau memejamkan matamu dari menatapku. Begitupun halnya yang akan aku lakukan.” Christian segera duduk bersila di atas pakaiannya, diikuti oleh Angelina yang masih merasa takjub dengan apa yang dialaminya. Christian lalu dengan lembut mengucapkan bait Firman-Nya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Supaya kamu dapat tahu dan percaya, yang Bapa ada di dalam Aku, dan Aku ada di dalam Bapa.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saat waktu terus berlalu, Christian mencoba untuk tetap tenang melihat apa yang ada di hadapannya. Melewati waktu-waktu berat saat fikiran terburuknya berbicara tentang keindahan dua payudara Angelina, kulit tubuhnya yang kuning terpendar kemilau tersentuh sinar matahari yang berhasil menyeruak masuk. Vaginanya yang merekah merah muda yang terawat, menggoda nafsu binatangnya untuk bisa merasakan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tatapan Angelina yang perlahan berubah, menatap inci demi inci tubuh Christian. Hingga terhenti pada kemaluannya. Bagaimana fikirannya menggoda dirinya untuk membayangkan tubuh Christian menindihnya, menyatu dalam dirinya, hingga memuntahkan cairan kenikmatan antara keduanya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saat Christian melewati waktu yang lazim untuknya melatih jiwanya, fikiran juga mengendalikan hatinya untuk mengalahkan nafsu binatangnya, Christian bangkit. Hari sudah mendekati senja. Saatnya kembali dan melakukan penyucian diri. Membasuh dirinya dengan air dan mengakui dosanya. Ia memanggil nama Angelina; namun yang dipanggil tidak menyahut. Angelina duduk dengan diam, matanya terasa kosong membayangkan sesuatu. Nafasnya terengah, jiwanya terkotori. Kekalahan atas naluri terendahnya telah membuat Angelina seperti sosok yang terbelenggu keinginan terburuknya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saat Christian mengambil pakaiannya, Angelina berjalan pelan ke arahnya. Tatapannya menusuk tajam ke dalam relung Christian. Kedua lengannya merangkul tubuh Christian, hingga kedua payudaranya bergesekan dengan dada Christian yang bidang. Nafasnya memburu tidak teratur. Ia mengarahkan wajahnya mendekati wajah Christian, hingga mereka bisa merasakan nafas mereka menerpa wajah. Bibir mereka bertemu. Saat kulit tubuh mereka bersentuhan, Christian terpukul dengan naluri terendahnya. Fikiran buruk menyentuh relung dalamnya. Tanpa mampu dikuasainya, kedua lengannya menyentuh kulit tubuh Angelina. Meraba seluruh tubuh sahabatnya. Hingga terhenti di kedua payudaranya. Di bawah naluri terendah mereka, keduanya merebahkan tubuh di lantai gua. Dengan segala kelembutan yang dimilikinya, Christian akhirnya memasuki tubuh Angelina dengan cara yang salah. Keduanya telah dikalahkan bisikan jahat dari fikiran terburuk mereka. Pancaran kenikmatan terlontar dari gerakan dan desahan keduanya, saat dimana Christian memompa pinggulnya, saat Angelina menggeliatkan tubuhnya, hingga saat keduanya mencapai titik kenikmatan tertingginya. Cairan kenikmatan perlahan mengalir keluar dari sisi-sisi vagina Angelina beserta pekat darah dari keperawanannya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sekali waktu ada beberapa musafir melewati tempat mereka. Pakaiannya lusuh dan tubuhnya kurus. Pundaknya berdebu. Wajahnya tidak terlihat tua maupun muda. Terbakar matahari, menyendiri, dan asing. Di sekelilingnya ada kehidupan yang terus mencoba bersemangat, demi pengorbanan yang tidak mengenal belas kasihan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Setelah makan malam dan perenungan, Christian menemui Angelina. Ia berkata pada sahabatnya, “Besok pagi, sahabatku, Christian akan bergabung dengan para musafir. Ia akan menjadi seorang musafir.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Wajah Angelina pucat saat mendengar kata-kata ini dan hanya dapat mencoba mengerti keputusan terkasihnya, dari raut wajahnya yang penuh fikir itu. Dari tatapan sekilas pada wajah terkasihnya itu, Angelina menyadari sepenuhnya, bahwa ini barulah permulaan. Christian akan mengikuti jalannya sendiri, takdirnya telah terbuka bersama nasibnya sendiri, miliknya sendiri. Dan itu membuatnya sepucat pisang kuning muda.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Christian, sahabatku,” teriaknya, “apakah ayah dan ibumu mengijinkannya?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian menatap kepadanya laksana orang yang baru saja bangun. Secepat kilat ia membaca jiwa Angelina, membaca kecemasannya dan segala kepasrahannya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Kita tidak akan menyiakan kata-kata, Angelina. Esok saat hari berganti, aku akan memulai kehidupan baru sebagai musafir.” Ia berkata dengan lembut. “Marilah, jangan persoalkan itu lagi.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian pergi ke tempat ayahnya sedang duduk menghisap rokoknya. Ia duduk disampingnya, hingga sang ayah menyadari kehadirannya. “Ada apa Ing?” Sang ayah tetap memanggilnya dengan nama pemberiannya, dan dia bisa melihat kegelisahan di mata putranya. “Katakanlah apa yang merisaukan hatimu.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Christian berkata dengan lembut, “Dengan seizin Ayah, saya datang untuk mengatakan kepada Ayah, bahwa saya akan meninggalkan rumah Ayah esok hari. Saat pagi menjelang aku akan bergabung dengan para pendatang di kampung kita, Ayah. Aku ingin menjadi seorang musafir. Saya yakin, Ayah tidak akan keberatan.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kuli bangunan itu terdiam begitu lama, hingga bulan bergeser dari letaknya semula, hingga saat keheningan di antara keduanya terusik. Christian berdiri diam tanpa bergerak, tangannya tersilang di depan dadanya. Sang ayah, hanya bisa diam sambil menghisap dalam rokoknya. Bintang-bintang bergerak dan berpendar di langit malam. Lalu ayahnya berkata, “Aku tidak layak memarahimu, karena engkaupun tahu siapa dirimu. Setidak layaknya engkau meminta izin kepadaku yang bukan Ayahmu, meskipun sebenarnya engkau telah melukai hatiku. Aku tidak akan marah padamu melalui kata-kata yang kasar, yang akan tidak pantas aku ucapkan. Sejujurnya, aku tidak senang jika engkau mengulang permintaanmu untuk kedua kalinya.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ayahnya bangkit dengan pelan. Christian masih diam membisu dengan tangannya yang masih bersedekap.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Mengapa engkau menunggu?” Tanya ayahnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Ayah tahu mengapa.” Jawab Christian.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ayahnya meninggalkan dirinya dengan tidak senang, lalu membaringkan diri di tempat tidur.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dua jam telah berlalu, hatinya masih gelisah. Ia tidak bisa memejamkan matanya. Sang ayah bangkit, melangkah dan kemudian meninggalkan tempat tidurnya. Ia memandang melalui jendela kecil rumahnya, dan melihat Christian masih berdiri di tempatnya dengan tangan masih bersedekap, tanpa bergerak. Ia melihat pakaiannya pucat tertimpa cahaya bulan. Hatinya semakin kacau, ia kembali ke tempat tidurnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ketika satu jam berikutnya berlalu, sang ayah tetap tidak bisa memejamkan matanya. Ia bangkit lagi dan meninggalkan tempat tidurnya. Bulan semakin bergeser, ia kembali melihat melalui jendela. Christian berdiri tanpa bergerak, tangannya masih bersedekap; sinar bulan menyinari tulang keringnya. Hatinya semakin risau, sang ayah kembali ke tempat tidur.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sang ayah kembali lagi satu jam dan sesudah dua jam, melihat melalui jendela dan melihat Christian masih berdiri di sana, di bawah sinar rembulan, di bawah kemilau bintang-bintang, dalam gelap, tidak bergerak. Dan, ia datang lagi jam demi jam berikutnya, menyaksikan anaknya berdiri tanpa bergerak. Hatinya benar-benar menjadi marah, cemas, khawatir dan perlahan sedih.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dan pada saat jam-jam terakhir malam itu, sebelum subuh menjelang, ia melihat anaknya masih berdiri disana tidak bergerak. Tubuhnya begitu tinggi, dan terlihat bagaikan orang asing bagi ayahnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Miing” katanya, “mengapa engkau masih menunggu?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Ayah tahu mengapa.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Apa kamu akan terus menunggu, walau hari telah pagi, sore lalu menjadi malam kembali?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Saya akan terus berdiri dan menunggu.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Kamu akan kelelahan, putraku.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Ya Ayah, saya akan kelelahan.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Kamu juga pasti mengantuk lalu tertidur.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Saya akan mengantuk ayah, tapi saya tidak akan tertidur.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Kamu bisa mati, Ing.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Ya, saya pasti akan mati.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Dan, kamu merasa lebih baik mati daripada menuruti ayahmu?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Miing akan selalu menuruti ayahnya.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Jadi, kamu akan menghentikan usahamu?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Miing akan melakukan apa yang dikatakan ayahnya kepadanya.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sinar mentari menyeruak dari timur. Sang ayah menyadari lutut anaknya bergetar sedikit, tetapi raut wajahnya tidak gemetar; matanya menatap tajam dan jauh. Hingga akhirnya ayahnya menyadari, putranya tidak dapat lagi tinggal bersamanya di rumah ini – ia telah sadar bahwa putranya telah siap meninggalkannya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sang ayah menyentuh pundak putranya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Kamu akan pergi mencari yang engkau inginkan,” Katanya, “entah ke kota, desa, hutan, untuk menjadi seorang musafir. Jika engkau menemukan kebahagiaan dan apa yang engkau cari, kembalilah untuk mengajari dan berbagi denganku, dan jika engkau menemukan kekecewaan, kembalilah, dan kita akan melewati waktu bersama, hingga kekecewaan itu pergi. Kini pergilah, Nak. Cium dan peluklah ibumu dan katakanlah kemana engkau akan pergi. Namun, bagiku sekarang adalah waktunya bagiku untuk pergi bekerja meski aku tidak tahu lagi untuk siapa aku bekerja.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ia menurunkan tangannya dari pundak anaknya dan meninggalkan rumah. Christian limbung saat ia mencoba untuk berjalan. Ia berusaha menguasai dirinya, menyembah ke arah ayahnya, dan pergi ke tempat ibunya untuk menyampaikan apa-apa yang dipesankan ayahnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saat ia berjalan pelan-pelan dengan kaki yang terasa kaku dan kedinginan, satu dua orang mulai beraktifitas mengusik subuh. Bayangan menunduk muncul dari gubuk terakhir dan bergabung dengan para musafir.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Kau datang.” Kata Christian dan tersenyum&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Aku pasti datang.” Kata Angelina.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6791496379964808480-2844295076459290386?l=www.robbysyahputra.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/feeds/2844295076459290386/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/12/chapter-1-putra-seorang-pelacur.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/2844295076459290386'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/2844295076459290386'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/12/chapter-1-putra-seorang-pelacur.html' title='Chapter 1 : Putra Seorang Pelacur'/><author><name>Historical Legend</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701636558006735668</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6791496379964808480.post-8282501414679808437</id><published>2009-12-28T21:01:00.000-08:00</published><updated>2009-12-28T21:12:28.111-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Syair Cinta Putra Pelacur'/><title type='text'>Halaman Persembahan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 16px; "&gt;&lt;b&gt;Syair Cinta Putra Pelacur&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Kematian dalam kehidupan&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;Aku selalu lupa Engkau ada. Terlalu sering merasa rejeki adalah hasil keringatku.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;Saat berharap sesuatu aku akan mengangkat kedua tanganku, menundukkan wajahku atau sekedar memejamkan mataku, tetapi sesudahnya aku lupa Engkau yang memberi.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;Makhluk bertulang belakang yang katanya punya akal fikiran.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;“Robby Syahputra”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Untuk Arien&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;atas cinta dan kesabarannya&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Untuk Putri dan Nabila&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Malaikat hati dengan sejuta cahaya &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6791496379964808480-8282501414679808437?l=www.robbysyahputra.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/feeds/8282501414679808437/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/12/halaman-persembahan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/8282501414679808437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/8282501414679808437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/12/halaman-persembahan.html' title='Halaman Persembahan'/><author><name>Historical Legend</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701636558006735668</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6791496379964808480.post-3993224792002196841</id><published>2009-10-22T04:29:00.000-07:00</published><updated>2009-10-22T04:32:26.916-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='From Someone'/><title type='text'>Lelaki Yang Akan Ditarik Wanita Ke Neraka</title><content type='html'>Mau tau kategori lelaki yang termasuk ke dalam golongan yang akan dimasukan ke dalam neraka diakibatkan oleh wanita, berikut kriterianya dan silakan anda renungkan sendiri, termasuk ke dalam golongan tersebut kah anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama : Sebagai Ayah&lt;br /&gt;Apabila seseorang yang bergelar ayah tidak memperdulikan anak-anak perempuannya di dunia. Dia tidak memberikan segala keperluan agama seperti mengajar solat, mengaji dan sebagainya. Dia membiarkan anak-anak perempuannya tidak menutup aurat.. tidaklah cukup jikalau seorang ayah hanya dengan memberi kemewahan dunia saja. Maka dia akan ditarik oleh anaknya.&lt;br /&gt;( Duhai lelaki yg bergelar ayah, bagaimanakah keadaan anak perempuanmu sekarang? Adakah kau mengajarnya sholat dan shaum?..menutup aurat?.. pengetahuan agama?.. Jika tidak, maka bersedialah untuk menjadi bahan bakar neraka jahannam.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua : Sebagia Suami&lt;br /&gt;Apabila berstatus suami tetapi tidak mempedulikan tindak tanduk isterinya dalam pergaulannya, membiarkan isterinya mempercantik diri bukan utk suami tapi untuk pandangan kaum lelaki yg bukan mahram. Apabila suami tersebut berdiam diri walaupun seorang yg alim dimana sholatnya selalu ditegakkan, saumnya tidak pernah tinggal, maka dia akan turut ditarik oleh isterinya bersama-sama ke dalam neraka.&lt;br /&gt;( Duhai lelaki yg bergelar suami, bagaimanakah keadaan isteri tercintamu sekarang?. Dimanakah dia? Bagaimana akhlaknya? Jika tidak kau menjaganya supaya mengikut ketetapan syari’at, maka bersiap-siaplah untuk menjadi teman sehidup semati bersamanya di ‘taman’ neraka sana .)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga : Sebagai Kakaknya&lt;br /&gt;Apabila ayahnya sudah tiada, maka tanggungjawab menjaga martabat adik-adik wanita jatuh kepada kakak-kakaknya.. dan apabila kakak-kakaknya ini hanya mementingkan diri sendiri atau keluarganya saja kemudian adik perempuannya dibiar melenceng dari ajaran ISLAM. Maka tunggulah tarikan adiknya di akhirat kelak.&lt;br /&gt;(Duhai lelaki yg mempunyai adik wanita, janganlah hanya menjaga amalmu, dan ingatlah kau juga akan diminta pertanggungjawaban diakhirat kelak…jika membiarkan adikmu bergelimang dgn maksiat… dan tidak menutup aurat.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat : Sebagai Anak Lelaki&lt;br /&gt;Apabila seorang anak lelaki tidak mengingatkan ibunya mengenai sikap dan tingkahlaku yg diharamkan syari’at Islam. Misalnya bila sang ibu berbuat kemungkaran seperti, mengumpat, memfitnah, berbohong, menggunjing, mengatai dan sebagainya.. .maka anak lelaki itu akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat kelak….dan nantikan tarikan ibunya ke neraka. (Duhai anak2 lelaki…. sayangilah ibumu…. ingatkanlah beliau jika salah atau khilaf…. krn ibumu juga manusia biasa yang tidak lepas dari kesalahan selamatkanlah beliau dari api neraka….jika tidak, kau juga akan ditarik untuk menemaninya di neraka.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah.!! betapa hebatnya daya tarik wanita bukan hanya di dunia malah diakhirat pun daya tarikannya begitu hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu kaum lelaki yg bergelar ayah/suami/kakak atau anak harus memainkan peranan mereka sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan dalam ISLAM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini saya kutip dari seorang teman yang mengirimkan notesnya ke facebook saya...mudah-mudahan bermanfaat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6791496379964808480-3993224792002196841?l=www.robbysyahputra.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/feeds/3993224792002196841/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/10/lelaki-yang-akan-ditarik-wanita-ke.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/3993224792002196841'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/3993224792002196841'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/10/lelaki-yang-akan-ditarik-wanita-ke.html' title='Lelaki Yang Akan Ditarik Wanita Ke Neraka'/><author><name>Historical Legend</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701636558006735668</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6791496379964808480.post-6674933472585846757</id><published>2009-10-12T00:05:00.000-07:00</published><updated>2009-10-12T00:07:52.742-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Poetries'/><title type='text'>Dewiku</title><content type='html'>Cantik .. bersinar&lt;br /&gt;Tak terlukiskan&lt;br /&gt;Tapi kau indah .. sangat indah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Jogja, August’03&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6791496379964808480-6674933472585846757?l=www.robbysyahputra.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/feeds/6674933472585846757/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/10/dewiku.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/6674933472585846757'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/6674933472585846757'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/10/dewiku.html' title='Dewiku'/><author><name>Historical Legend</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701636558006735668</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6791496379964808480.post-6205717749243288751</id><published>2009-10-12T00:01:00.000-07:00</published><updated>2009-10-12T00:03:03.871-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Short Stories'/><title type='text'>Retnoarum Kumala Ningsih</title><content type='html'>Namanya Ningsih. Aku mengenalnya di warung kelontong Pak Junaidi. Lebih tepat aku melihatnya. Sudah satu minggu aku melihatnya. Menunggu angkutan di depan warung yang berada di pengkolan masuk desa.&lt;br /&gt;Rambutnya bergelombang dikuncir satu ke belakang. Kulitnya sawo matang. Matanya yang terang dihiasi bulu yang lentik. Bibirnya agak tebal, tapi tidak terlalu. Cukup untuk terlihat seksi di wajah manisnya. Semakin indah bila dia tersenyum, sebuah lesung langsung terbentuk di pipi kanannya.&lt;br /&gt;Retnoarum Kumala Ningsih, itu nama lengkapnya, kata Pak Junaidi. Meski berkali-kali dipaksa untuk berkenalan, selalu saja aku gagal mengumpulkan keberanian.&lt;br /&gt;Ningsih mungkin bukan kembang desa. Pribadinya yang agak tertutup, pakaiannya yang begitu sopan, ditambah sikapnya yang terkesan angkuh; membuat pemuda desa engkan mendekatinya. Berbeda denganku, aku enggan mendekatinya bukan karena itu. Tapi aku terlalu takut untuk menjulurkan tanganku, walau itu sekedar bertanya namanya, atau kabarnya, atau apalah.&lt;br /&gt;Pak Junaidi bilang Ningsih kerja di kota. ‘Jadi buruh pabrik.’ Begitu katanya. Aku sudah sering nongkrong di warung Pak Junaidi, tapi baru satu minggu ini aku melihat Ningsih. Wanita yang begitu menggoda hatiku.&lt;br /&gt;‘Ayahnya seorang kuli bangunan, tapi satu bulan yang lalu meninggal karena kecelakaan di sebuah proyek.’ Jelas Pak Junaidi.&lt;br /&gt;‘Sudah satu minggu lebih dia kerja di kota, buat membantu meringankan beban ibunya.’ Tambah Pak Junaidi.&lt;br /&gt;Semakin banyak yang kuketahui tentang Ningsih, perasaankupun bertambah kuat padanya. Seakan aku merasa, dialah wanita yang pantas mendampingiku. Tapi rasanya kok tidak mungkin. Sekedar menyapanya saja, seluruh persendianku seperti akan lepas, bergetar hebat.&lt;br /&gt;Pernah sekali waktu kuberanikan diri untuk menghampirinya. Dengan penuh percaya diri, aku berjalan perlahan ke arah Ningsih yang sedang menunggu angkutan. Ketika jarakku sudah begitu dekat, matanya yang indah melihat ke arahku. Entah kenapa, langkahku berbelok menuju warung Pak Junaidi.&lt;br /&gt;‘Rokok satu bungkus pak.’ Suaraku sedikit bergetar. Pak Junaidi hanya tersenyum melihat aku yang salah tingkah.&lt;br /&gt;Entah bagaimana lagi aku harus mendekatinya, setiap berusaha selalu gagal. Sesekalinya Ningsih menatap ke arahku dan tersenyum, jantungku langsung berdegup kencang dan darahku mengalir deras ke kepala. Aku tersenyum atau tidak, sudah tidak kusadari lagi.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Sudah hampir satu bulan aku memperhatikannya. Melihat dia pergi di pagi hari, dan menunggunya pulang saat maghrib hampir menyapa. Dinding kamarku jadi saksi bisu ketika garis demi garis kutarik untuk menghitung berlalunya waktu. Aku tidak kuat tersiksa lebih lama lagi. Tekadku sudah bulat, aku harus mengenalnya hari ini. Kukenakan setelan paling rapi yang aku miliki. Ditambah sedikit wewangian yang sudah hampir habis. Setelah merapikan rambut dan memakai sepatu, kulangkahkan kakiku dengan mantap, meninggalkan rumah menuju warung kelontong Pak Junaidi.&lt;br /&gt;Hari itu cerah, secerah suasana hatiku. Burung-burung yang berkicau menambah indahnya pagi itu. Setelah melewati jalan setapak pedesaan yang dinaungi rimbunnya pepohonan di kedua sisinya, aku sampai di depan warung Pak Junaidi. Ningsih belum ada di sana, berarti aku tidak terlambat. Kubeli sebatang rokok untuk menghilangkan rasa gugupku. Setelah kunyalakan, aku duduk di depan warung, menanti kekasih pujaan hati.&lt;br /&gt;Di kejauhan kulihat sosok yang tidak asing. Keindahan wajahnya semakin terpancar saat tertimpa sinar matahari. Retnoarum Kumala Ningsih, hari ini aku akan mengakhiri penantianku.&lt;br /&gt;Ningsih menatap ke arahku dan tersenyum sebelum akhirnya dia berbalik, menunggu angkutan. Meski aku semakin gugup setelah melihat senyumnya, tekad bulatku mengalahkannya. Kulangkahkan kakiku perlahan, terasa bergetar di bagian lutut, seakan membawa lima karung beras di pundakku.&lt;br /&gt;Jarakku tidak terlalu jauh saat ekor mataku menangkap keanehan. Kupaksakan kakiku, kudorong Ningsih yang terpaku. Saat tubuhnya terjerambab di jalan, dari arah kanan sebuah mobil menghantam tubuhku. Dalam kecepatan tinggi, sebuah mobil tidak terkendali saat ban kirinya tiba-tiba meledak. Aku terhempas menabrak sebuah pohon sebelum rubuh ke tanah dan kepalaku terbentur benda yang sangat keras.&lt;br /&gt;Kerumunan orang menghampiriku, seseorang mengangkat leherku dengan lembut dan meletakkan kepalaku di pangkuannya. Perlahan kubuka mataku. Meskipun cairan merah mengaburkan pandanganku, aku masih bisa mengenali wajah itu.&lt;br /&gt;‘Ningsih ..’ Suaraku seperti tersedak.&lt;br /&gt;‘Iya mas.’ Ningsih terisak.&lt;br /&gt;‘Kamu baik-baik saja?’ Mataku semakin kabur, darah semakin banyak mengalir dari luka di kepalaku.&lt;br /&gt;Ningsih hanya mengangguk, dengan susah payah dia menahan tangisnya.&lt;br /&gt;‘Jangan nangis.’ Kucoba mengangkat tangan, tapi hanya menyentuh udara. Sentuhan hangat Ningsih membantuku untuk meletakkan tanganku di pipinya yang basah oleh air mata.&lt;br /&gt;‘Namaku Anto.’ Itulah kata terakhir yang kuingat. Aku tersenyum sebelum akhirnya pandanganku melemah. Mataku tertutup. Setelah tersentak semuanya menjadi gelap. Tidak ada cahaya, tanpa suara sama sekali. Sunyi.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Satu minggu berlalu. Di pengkolan desa di depan warung kelontong Pak Junaidi, Anto harus pergi dengan tragis.&lt;br /&gt;Seorang wanita bersimpuh di depan sebuah makam. Rambutnya yang ikal tertutup selendang hitam. Matanya yang indah, berair.&lt;br /&gt;‘Mas Anto, kenapa kamu pergi sebelum aku sempat untuk mengatakan betapa aku mencintaimu?’&lt;br /&gt;Setelah meletakkan karangan bunga dan mencium nisannya, gadis itu meninggalkan komplek pemakaman. Dalam naungan rimbunnya pohon kamboja, kakinya melangkah dengan gontai. Gadis itulah yang menjadi pujaan hati seorang lelaki yang rela menunggu dari pagi hingga maghrib. Lelaki yang hanya bisa memendam cintanya hingga waktu menutup matanya. Menyiksa batinnya dalam penantian untuk menyapa gadis pujaannya. Sebuah penantian hanya untuk mendengar dia menyebut nama gadis itu dari bibirnya sendiri.&lt;br /&gt;‘Retnoarum Kumala Ningsih.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Created by Robby Syahputra&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Yogyakarta, September 10th, 2005&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6791496379964808480-6205717749243288751?l=www.robbysyahputra.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/feeds/6205717749243288751/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/10/retnoarum-kumala-ningsih.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/6205717749243288751'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/6205717749243288751'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/10/retnoarum-kumala-ningsih.html' title='Retnoarum Kumala Ningsih'/><author><name>Historical Legend</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701636558006735668</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6791496379964808480.post-5707749696780004526</id><published>2009-10-04T21:34:00.000-07:00</published><updated>2009-10-04T21:42:14.929-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Articles'/><title type='text'>Kreasi Unik Batik Ikat</title><content type='html'>Siapa tidak kenal batik? Keindahan kain tradisional ini sudah populer bahkan di dunia internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batik Kerap menghiasi halaman mode majalah fesyen dunia. Bahkan Mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandella pun tampil mengenakan kemeja dari kain batik.&lt;br /&gt;Batik merupakan warisan turun temurun dari nenek moyang Indonesia. Pertama kali batik diperkenalkan pada dunia internasional oleh Almarhum Mantan Presiden Soeharto, yang pada waktu itu mengenakan batik pada Konfrensi PBB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_hfuO_luPCm4/Ssl3_TovYPI/AAAAAAAAATQ/dBNIF0-uSC8/s1600-h/batik04.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 200px; height: 130px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_hfuO_luPCm4/Ssl3_TovYPI/AAAAAAAAATQ/dBNIF0-uSC8/s200/batik04.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5388970358612123890" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;click picture to enlarge&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;Teknik membatik sendiri telah dikenal sejak ribuan tahun silam. Diduga teknik ini berasal dari bangsa Sumeria, yang kemudian dikembangkan di Jawa setelah dibawa oleh para pedagang India. Saat ini batik bisa ditemukan di Indonesia, Malaysia, Thailand, India, Sri Lanka, dan Iran. Selain di Asia, batik juga populer di beberapa negara di Benua Afrika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_hfuO_luPCm4/Ssl3-_sIYaI/AAAAAAAAATI/iUUSGgqiER8/s1600-h/20080916115352_membatik.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 200px; height: 133px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_hfuO_luPCm4/Ssl3-_sIYaI/AAAAAAAAATI/iUUSGgqiER8/s200/20080916115352_membatik.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5388970353257636258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;click picture to enlarge&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;Salah satu batik yang populer adalah batik ikat. Batik ini tidak seperti batik tradisional yang dibuat menggunakan canting. Cara pembuatan batik ikat ialah terlebih dahulu kain diikat untuk kemudia dicelupkan dalam cairan pewarna. Proses ini akan menghasilkan berbagai motif seperti polkadot, bintang, motif garis atau simetris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini jenis batik ikat lebih dikonsentrasikan untuk industri pariwisata khususnya daerah tropis. Keaslian batik ikat menghasilkan kreasi yang unik dalam segi desain dan ketrampilan. Keunikan ini pula yang mampu memikat konsumen dengan kesadaran tinggi akan fesyen, serta mereka yang mencari penampilan yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah bukan jamannya lagi batik dianggap kuno. Dengan kreasi unik dan padu padan yang sesuai, batik mampu menampilkan nuansa trendy dan stylist.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_hfuO_luPCm4/Ssl3_-z9TPI/AAAAAAAAATY/Y6SpHulVtiA/s1600-h/Membatik.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 200px; height: 148px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_hfuO_luPCm4/Ssl3_-z9TPI/AAAAAAAAATY/Y6SpHulVtiA/s200/Membatik.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5388970370201898226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;click picture to enlarge&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;Saatnya menggunakan batik produk asli Indonesia dan buktikan bahwa ini adalah tradisi nenek moyang kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Robby Syahputra&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Yogyakarta Mei 01st'08&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6791496379964808480-5707749696780004526?l=www.robbysyahputra.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/feeds/5707749696780004526/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/10/kreasi-unik-batik-ikat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/5707749696780004526'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/5707749696780004526'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/10/kreasi-unik-batik-ikat.html' title='Kreasi Unik Batik Ikat'/><author><name>Historical Legend</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701636558006735668</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_hfuO_luPCm4/Ssl3_TovYPI/AAAAAAAAATQ/dBNIF0-uSC8/s72-c/batik04.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6791496379964808480.post-91239078141413887</id><published>2009-10-04T21:22:00.000-07:00</published><updated>2009-10-04T21:33:52.205-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Dream Journey'/><title type='text'>Alexandria: Pesona Eksotis dari Timur Tengah</title><content type='html'>Kota nomor dua di Mesir ini dikenal punya sederet cerita menarik dan romantis, plus pesona pemandangan alam yang eksotis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_hfuO_luPCm4/Ssl12S4EmbI/AAAAAAAAAS4/7POzNqaSXqo/s1600-h/alexandria_map_large.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 200px; height: 178px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_hfuO_luPCm4/Ssl12S4EmbI/AAAAAAAAAS4/7POzNqaSXqo/s200/alexandria_map_large.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5388968004765915570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;click picture to enlarge&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;Pernah mendengar nama Cleopatra? Putri nan cantik ini dibesarkan di kota Alexandria, Mesir. Di sini pula Cleopatra menjalin cinta dan kemudian diabadikan sebagai ratu yang menawan, serta dikenal sampai ke seluruh pelosok dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_hfuO_luPCm4/Ssl126d-zpI/AAAAAAAAATA/b3SyVm_39b0/s1600-h/Sphinx_Alexandria.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_hfuO_luPCm4/Ssl126d-zpI/AAAAAAAAATA/b3SyVm_39b0/s200/Sphinx_Alexandria.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5388968015393902226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;click picture to enlarge&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;Selain punya sejarah besar, kota yang berada di tepi Laut Meditarenia ini, dikenal sebagai kota yang memiliki kombinasi pemandangan alam dan peninggalan sejarah yang eksotis. Gedung-gedung tua dengan arsitektur Romawi kuno, berbaur dengan bangunan bergaya islam, plus panorama alam yang menawan. Sungguh sebuah perpaduan langka dan&lt;br /&gt;pantas untuk dinikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjajaki Alexandria, setiap jengkal kita akan dibuat berdecak kagum. Mulai dari gerbang masuk kota yang artistik, deburan ombak di atas pasir putih di pantai Miami di pinggir kota. Pantai Montanza yang biru menawan. Bangunan masjid yang mengingatkan kita pada jaman Rasulullah, sampai istana di era Julius Cesar dan Ratu Cleopatra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ingin menikmati suasana romantis, kita bisa menelususri Qaitbay. Sambil menikmati semilir angin pantai yang berhembus dari Mediterania, sensasi bangunan tua bergaya benteng Romawi seakan membawa kita ke masa kejayaan Julius Cesar. Di pantai ini pula konon sejak era Cleopatra sudah dijadikan tempat para remaja memadu kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_hfuO_luPCm4/Ssl111QkmmI/AAAAAAAAASw/aHjdGG5Wu5E/s1600-h/Alexandria_Egypt.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 142px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_hfuO_luPCm4/Ssl111QkmmI/AAAAAAAAASw/aHjdGG5Wu5E/s200/Alexandria_Egypt.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5388967996815612514" border="0" /&gt; &lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_hfuO_luPCm4/Ssl11cxRGbI/AAAAAAAAASo/nQJvaS0vNqk/s1600-h/alexandria_1_galleryfull.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 131px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_hfuO_luPCm4/Ssl11cxRGbI/AAAAAAAAASo/nQJvaS0vNqk/s200/alexandria_1_galleryfull.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5388967990241860018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;click picture to enlarge&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Puas menikmati bangunan tua, stasiun kereta api di tengah kota menawarkan sentuhan arsitektur modern. Terdiri dari dua lantai, stasiun dilengkapi ruang tunggu yang mewah, pusat perbelanjaan modern plus perkantoran modern. Di tempat ini kita tidak akan menemui kesulitan mengetahui jadwal perjanan kereta. Di setiap sudut terpasang monitor yang menginformasikan jadwal keberangkatan dan kedatangan kereta api dari berbagai kota di Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada liburan musim panas, biasanya stasiun kereta ini akan dipadati wisatawan dari berbagai Negara. Alexandria memang dikenal sebagai salah satu kota tujuan wisata utama di Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papyrous&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh-oleh khas kota Alexandria adalah kaligrafi yang dibuat di atas kertas kuno, yang disebut dengan papyrous. Kertas ini dibuat dari sejenis tanaman atau daun papyrous. Konon, kertas ini adalah cikal bakal kertas yang kita pakai sehari-hari saat ini. Kertas papyrous ini sangat kuat dan tahan robek. Buktinya, di museum di tengah kota Alexandria, masih bisa ditemui lukisan atau kaligrafi yang dibuat di atas kertas ini, sejak dua abad yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya membeli, tetapi kita juga bisa melihat dan belajar langsung cara membuat kertas yang terkenal itu. Uniknya tanaman papyrous ini hanya terdapat di Mesir. Meskipun dulu pernah ada imigran Cina yang mencoba membuat papyrous tiruan dan menjualnya dengan harga murah, tetapi karena kualitasnya yang tidak sebaik aslinya, maka papyrous asli tetap menjadi pilihan oleh orang di Negeri yang masih menyimpan mummy raja Firaun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajar hingga ilmuwan Eropa memadati jajaran pantai yang mengelilingi kota, museum hingga puing-puing gedung teater peninggalan peradaban masa silam. Wisatawan muslim, menikmati masjid-masjid tua peninggalan Alexander Agung. Obyek yang terasa saying untuk dilewatkan. Indah dan artistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Robby Syahputra&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yogyakarta Mei 7th’08&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6791496379964808480-91239078141413887?l=www.robbysyahputra.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/feeds/91239078141413887/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/10/alexandria-pesona-eksotis-dari-timur.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/91239078141413887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/91239078141413887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/10/alexandria-pesona-eksotis-dari-timur.html' title='Alexandria: Pesona Eksotis dari Timur Tengah'/><author><name>Historical Legend</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701636558006735668</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_hfuO_luPCm4/Ssl12S4EmbI/AAAAAAAAAS4/7POzNqaSXqo/s72-c/alexandria_map_large.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6791496379964808480.post-3022802137665909535</id><published>2009-10-04T21:16:00.000-07:00</published><updated>2009-10-04T21:22:22.845-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Journey'/><title type='text'>Belajar Pada Sang Dharmapala</title><content type='html'>Jambhala dan Candra-Lokesvara dalam dimensi waktu dan landasan konseptualnya sebagai lambang keberadaan dewa. konsepsinya dalam ajaran yoga, menggambarkan kedudukan Jambhala sebagai dewa pokok yang dipuja oleh masyarakat pendukungnya. Esensi yang diharapkan melalui pemujaan itu berkaitan dengan kedudukan Jambhala sebagai Dharmapala.&lt;br /&gt;Dalam hal ini, Jambhala berperan sebagai dewa pemberi perlindungan, bimbingan, dan ajaran bagi umat untuk mencapai pencerahan. Pencerahan yang dimaksud dapat dicapai melalui disiplin spiritual yang digambarkan dalam pengarcaannya, yaitu samadhi. Representasi penyampaian ajaran yang terkandung dalam pemujaan Jambhala itu terdapat pada arca Candra-Lokesvara, berupa penggambaran vyakhyana-mudra dan konsepsi Lokesvara yang berasosiasi dengan prinsip memberi ajaran dan membantu semua makhluk guna mencapai pencerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompleks Candi Gampingan terletak di Dusun Gampingan, Piyungan, Bantul. Di kompleks ini terdapat tujuh buah bangunan dari batu putih. Denah Candi Gampingan berbentuk segi empat yang berukuran 4,64 m. x 4,65 m. Tinggi Candi Gampingan yang masih tersisa 1,2 m., terdiri atas delapan lapisan batu putih yang disusun dengan teknik kait. Selain teknik kait, digunakan juga "teknik las", yaitu penyisipan batu ke dalam rongga-rongga yang menghubungan satu batu dengan batu lainnya. Meskipun bangunan tersebut tinggal sisa-sisa berupa delapan lapis susunan batu setinggi 1,2 meter dan kondisi enam bangunan yang lain juga tinggal sisa-sisa saja, namun nilai spiritualis yang dikandungnya masih terasa melekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Relief yang terdapat di tubuh bagian tengah kaki Candi Gampingan terdiri atas 11 panil. Keistimewaannya terdapat pada unsur-unsur yang digambarkan, yaitu binatang katak dan unggas (burung pelatuk, burung gagak, dan ayam jantan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arca-arca yang terdiri atas sebuah arca Jambhala dan Candra-Lokesvara yang terbuat dari batu andesit, tiga buah arca Dhyani Buddha Vairocana yang terbuat dari perunggu, dan sebuah fragmen arca yang terbuat dari keramik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benda-benda emas (sebelas buah) yang berbentuk lempengan dan wadah. Masing-masing benda menggambarkan miniatur benda-benda yang berasosiasi dengan fungsinya sebagai peripih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan langgam bangunan, bangunan ini berasal dari tahun 730 M hingga pertengahan abad IX M (850 M). Sedangkan gaya pengarcaan Jambhala dan Candra_Lokesvara sezaman dengan periodasi Candi Gampingan, yakni sekitar tahun 800 M hingga 850 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui Jambhala, pemujaan menuju pencerahan melalui kerendahan diri adalah jalan untuk mempercepat tercapainya pencerahan melalui dana-paramita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Robby Syahputra&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Apr 26th’08&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6791496379964808480-3022802137665909535?l=www.robbysyahputra.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/feeds/3022802137665909535/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/10/belajar-pada-sang-dharmapala.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/3022802137665909535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/3022802137665909535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/10/belajar-pada-sang-dharmapala.html' title='Belajar Pada Sang Dharmapala'/><author><name>Historical Legend</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701636558006735668</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6791496379964808480.post-1716760413549087665</id><published>2009-10-04T20:18:00.000-07:00</published><updated>2009-10-04T21:16:17.992-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Journey'/><title type='text'>Gemericik Air di Hutan Pronojiwo</title><content type='html'>Bersantai di bawah teduhnya pepohonan, mendengar kicau burung dan menikmati lincahnya monyet menari di antara dahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_hfuO_luPCm4/SslyG90HRZI/AAAAAAAAASg/suVoS6jIbUA/s1600-h/Kaliurang-3.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 200px; height: 140px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_hfuO_luPCm4/SslyG90HRZI/AAAAAAAAASg/suVoS6jIbUA/s200/Kaliurang-3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5388963893123433874" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Hari minggu atau liburan, hutan wisata Pronojiwo di komplek wisata Kaliurang ramai dikunjungi wisatawan. Baik lokal maupun mancanegara.&lt;br /&gt;Datang berpasangan atau bersama keluarga, tempat ini memiliki banyak sudut untuk bersantai. Anak-anak juga bisa bermain di taman bermain di dalam kompleks hutan wisata, sementara para orangtua bersantai melepas penat.&lt;br /&gt;Pengunjung juga bisa menikmati pemandangan, mendengar gemericik air dan mengabadikan momen di Tlogo Muncar.&lt;br /&gt;Sambil bersantai, pengunjung bisa mencoba jadah tempe, aneka buah-buahan serta nikmatnya sate kelinci di sekitar lokasi hutan wisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Robby Syahputra&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Yogyakarta Mei 01st 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6791496379964808480-1716760413549087665?l=www.robbysyahputra.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/feeds/1716760413549087665/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/10/gemericik-air-di-hutan-pronojiwo.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/1716760413549087665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/1716760413549087665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/10/gemericik-air-di-hutan-pronojiwo.html' title='Gemericik Air di Hutan Pronojiwo'/><author><name>Historical Legend</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701636558006735668</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_hfuO_luPCm4/SslyG90HRZI/AAAAAAAAASg/suVoS6jIbUA/s72-c/Kaliurang-3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6791496379964808480.post-1164897983124681480</id><published>2009-10-04T00:17:00.000-07:00</published><updated>2009-10-05T00:01:50.492-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Articles'/><title type='text'>Bencana vs Perang</title><content type='html'>Saya bertemu orang bijak pada suatu siang, saat selesai shalat dhuhur di salah satu masjid daerah selatan Yogyakarta. Saya duduk bersamanya sejenak. Ada pancaran teduh dari wajahnya, serta kehangatan dalam mata tuanya. Dia menggelengkan kepala sejenak sebelum berbicara kepada saya. "SBY terus dicoba, pelantikan sebelumnya tsunami di Aceh, disusul gempa di Yogya. Lalu ada lumpur di Lapindo. Sekarang ada Gempa di Jawa Barat, disusul gempa di Padang kemudian Jambi. Setahu saya hanya orang-orang besarlah yang akn menerima cobaan-cobaan besar." Saya tidak mengatakan apa-apa, hanya menganggukkan kepala. Ada beberapa hal lagi yang diceritakannya, tapi ijinkan saya merangkumnya disini, serta saya tambahkan beberapa data.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2004 tepatnya pada tanggal 24 desember, gempa berkekuatan 9,3 SK mengguncang. Gempa terjadi pada waktu 7:58:53 WIB. Pusat gempa terletak pada bujur 3.316° N 95.854° E kurang lebih 160 km sebelah barat Aceh sedalam 10 kilometer. Gempa ini merupakan gempa bumi terdahsyat dalam kurun waktu 40 tahun terakhir ini yang menghantam Asia Tenggara. Kerusakan dan korban terbesar dialami Indonesia, menyusul India, Thailand dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_hfuO_luPCm4/SsibVksqyXI/AAAAAAAAARg/EPYCLSUjqT4/s1600-h/800px-Sumatra_meulaboh_mosque.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 138px; height: 100px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_hfuO_luPCm4/SsibVksqyXI/AAAAAAAAARg/EPYCLSUjqT4/s200/800px-Sumatra_meulaboh_mosque.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5388727749079386482" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_hfuO_luPCm4/SsigjHNiXSI/AAAAAAAAASY/51h6BqGDt1E/s1600-h/732px-2004_Indian_Ocean_earthquake_-_affected_countries.png"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 143px; height: 117px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_hfuO_luPCm4/SsigjHNiXSI/AAAAAAAAASY/51h6BqGDt1E/s200/732px-2004_Indian_Ocean_earthquake_-_affected_countries.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5388733479240490274" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_hfuO_luPCm4/SsibVNfKxaI/AAAAAAAAARY/Yz1XGWvIwfo/s1600-h/041229048568_8180000_n.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 149px; height: 99px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_hfuO_luPCm4/SsibVNfKxaI/AAAAAAAAARY/Yz1XGWvIwfo/s200/041229048568_8180000_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5388727742848746914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;click picture to enlarge&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Semenjak tanggal 27 Mei 2006, di Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, amukan lumpur yang berasal dari pengeboran PT Lapindo Brantas, telah memberikan sumbangsih kerugian yang begitu besar bagi bangsa ini pada umumnya dan penduduk sekitar khususnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal yang sama, Yogyakarta diguncang gempa berkekuatan 5,6 SR. Menghancurkan rumah-rumah, gedung-gedung perkantoran, perbelanjaan, gedung olahraga, sekolah-sekolah, serta situs-situs sejarah. Tercatat 6.234 jiwa menjadi korban dalam kejadian itu. Korban terbesar adalah Bantul dengan jumlah 3.968.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_hfuO_luPCm4/SsibWWoLtPI/AAAAAAAAARw/BRIXC4D7yPE/s1600-h/800px-P7215982.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 148px; height: 112px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_hfuO_luPCm4/SsibWWoLtPI/AAAAAAAAARw/BRIXC4D7yPE/s200/800px-P7215982.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5388727762482345202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_hfuO_luPCm4/SsibVx6INPI/AAAAAAAAARo/W1EwqWqr1X4/s1600-h/270506bbreak-gempa3c.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 153px; height: 112px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_hfuO_luPCm4/SsibVx6INPI/AAAAAAAAARo/W1EwqWqr1X4/s200/270506bbreak-gempa3c.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5388727752625501426" border="0" /&gt; &lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_hfuO_luPCm4/SsighdmYzLI/AAAAAAAAAR4/4pM_eyT1IY4/s1600-h/Sapir2-1-.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 150px; height: 112px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_hfuO_luPCm4/SsighdmYzLI/AAAAAAAAAR4/4pM_eyT1IY4/s200/Sapir2-1-.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5388733450890562738" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;click picture to enlarge&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Yang terbaru bencana yang melanda kita adalah gempa di Sumatera Barat dan Jambi. Begitu banyak bangunan rusak dan korban nyawa. Ada banyak aktifitas terhenti, ekonomi pun ikut terhambat. Banyak sekali yang harus dibenahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terhangat dari manca negara adalah "Badai Ketsana". Badai yang bergerak ke barat menyisir pantai Pulau Hainan atau pesisir Vietnam ini telah menenggelamkan Fillipina. 80% persen ibukota dan 25 propinsi terendam air akibat hujan deras yang dipicu badai tropis ketsana, dan ini merupakan badai terburuk selama puluhan tahun. Badai ini telah menelan korban begitu banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;"Bencana adalah kehendak Tuhan. Lalu mari kita bandingkan dengan peperangan yang merupakan kehendak manusia."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Sadaa, Yaman, operasi "tanah terbakar" yang dilancarkan pasukan Yaman terus saja menelan korban. Pada pertempuran di barat laut Yaman, 21 pemberontak dari Al Houthi tewas terbunuh. Sedangkan pada pekan sebelumnya, 80 orang tewas dalam pertempuran, termasuk diantaranya perempuan dan anak-anak. Sementara itu, melalui media Arab, pemimpin pemberontakan Abdel Malik AL Houthi mengatakan, "perang yang sebenarnya belum dimulai."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, dari dalam negeri pada kamis, 17/9, gembong teroris yang telah diburu sekian lama, akhirnya tertangkap dalam keadaan tidak bernyawa setelah pengepungan selama 5 jam di sebuah rumah di desa Kepohsari, Jebres, Solo. Catatan kejahatan Nordin sebagai gembong pemboman di Indonesia telah begitu banyak. Di dalamnya juga termasuk dalang dan pendananya. Mulai dari bom Bali, JW Marriot Hotel, Kedubes Australia, dan yang terbaru "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;double attack&lt;/span&gt;" di JW Marriot Hotel dan Ritz Carlton Hotel, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_hfuO_luPCm4/SsigiQpQsXI/AAAAAAAAASI/VQAO8N6Qb9I/s1600-h/densus88-1.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 163px; height: 126px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_hfuO_luPCm4/SsigiQpQsXI/AAAAAAAAASI/VQAO8N6Qb9I/s200/densus88-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5388733464592822642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_hfuO_luPCm4/Ssigh7HhlJI/AAAAAAAAASA/ALmjFyJgl7I/s1600-h/76788_foto_diduga_jasad_noordin_m_top_thumb_300_225.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 169px; height: 126px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_hfuO_luPCm4/Ssigh7HhlJI/AAAAAAAAASA/ALmjFyJgl7I/s200/76788_foto_diduga_jasad_noordin_m_top_thumb_300_225.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5388733458814178450" border="0" /&gt; &lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_hfuO_luPCm4/Ssigin9GBdI/AAAAAAAAASQ/4-bA1qeSRTU/s1600-h/nordin.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 168px; height: 126px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_hfuO_luPCm4/Ssigin9GBdI/AAAAAAAAASQ/4-bA1qeSRTU/s200/nordin.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5388733470850024914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;click picture to enlarge&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Apa yang bisa kita fahami dari kejadian-kejadian ini? Bencana alam adalah suatu hal yang tidak bisa dihentikan. Kemungkinan kecil hanya bisa diprediksikan, lalu berupaya untuk meminimalkan kerusakan ataupun kerugian. Lalu kita lihat satu aspek lagi di dunia ini yang sebetulnya tidak perlu, menjadi kesenangan yang diadakan. Perang, pertempuran antara manusia. Begitu banyak biaya yang dikeluarkan yang seharusnya tidak perlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Menteri Pertahanan Indonesia mengatakan biaya pengeluaran militer Indonesia "yang hanya" $4 milliar per tahunnya adalah sedikit. Bayangkan jika dana itu digunakan pada rakyat kecil. "Pak, bapak bisa buka usaha tidak dengan uang Rp. 20 juta?". "Bu, bisa ga buka usaha laundry dengan uang Rp. 15 Juta?". Sedangkan pengeluaran yang hanya untuk dihambur-hamburkan nilainya jika dijadikan rupiah dengan kurs Rp.8.900 saja = Rp.35,6 trilliun per tahunnya. Jika dibagi dengan Rp. 20 juta, maka dana itu bisa membiayai 1.780.000 kepala &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;per tahun&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mengatakan yang terkecil, sudah tentu negara-negara lainnya menghabiskan lebih banyak. Singapore per tahunnya menghabiskan dana 10x lipat dibandingkan Indonesia untuk dana militer. Sedangkan dunia pada tahun 2001 hingga 2006 saja telah mengalami kenaikan 30% untuk dana militer, dan angka ini mencapai 800 milliar euro per tahun. Hampir setengahnya adalah pengeluaran Amerika Serikat dan Inggris. Tahun 2007 Jerman menghabiskan 28 milliar euro, 1 milliar lebih besar dibandingkan tahun 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;itu adalah data-data yang tercatat. Belum terhitung dari pembelian senjata ilegal, pembelian oleh pihak individu ataupun teroris serta para pemberontak. Apakah hal ini perlu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak tua itu lalu bertanya kepada saya, "Apa kamu senang dengan permainan perang-perangan?". Saya menggelengkan kepala saya. Lalu dia berkata, "saat kecil saya begitu senang saat bersama teman-teman bermain perang-perangan. Tetapi saat besar saya menjadi sadar, orang bodoh adalah orang yang berperang tanpa alasan yang jelas. Para prajurit maju ke garis depan untuk membela sesuatu mengatasnamakan bangsa dan negara, tanpa mempertanyakan apa perang itu memang perlu. Tidakkah manusia lalu menjadi sadar, bahwa Tuhan sedang menguji kita dengan begitu banyak bencana, agar kita saling mengasihi dan bukan saling menyakiti." Sama saat saya mendengarkan orang tua itu, saat saya menulis ini pun seluruh tubuh saya merinding. Subhanallah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;HENTIKAN PEMBUATAN SENJATA DAN ALAT-ALAT MEMATIKAN. SEPERTI KATA ORANG BIJAK; MULAILAH INTROSPEKSI DIRI SENDIRI SEBELUM ORANG LAIN. DAN KATA PEDAGANG; TIDAK AKAN ADA PENJUAL JIKA TIDAK ADA PEMBELI. SEBAIKNYA MULAILAH BERPERANG DENGAN BAMBU ATAU BATU, KALAU PERLU DENGAN TINJU. PALING TIDAK HANYA MEMAR-MEMAR DAN TIDAK KEMUNGKINAN KECIL BERAKIBAT KEMATIAN. SALAM."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;robby syahputra&lt;br /&gt;Yogyakarta 4 Oktober 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6791496379964808480-1164897983124681480?l=www.robbysyahputra.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/feeds/1164897983124681480/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/10/bencana-vs-perang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/1164897983124681480'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/1164897983124681480'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/10/bencana-vs-perang.html' title='Bencana vs Perang'/><author><name>Historical Legend</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701636558006735668</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_hfuO_luPCm4/SsibVksqyXI/AAAAAAAAARg/EPYCLSUjqT4/s72-c/800px-Sumatra_meulaboh_mosque.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6791496379964808480.post-3036583794816281938</id><published>2009-09-27T13:11:00.000-07:00</published><updated>2009-10-02T05:01:58.092-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gibran Wall'/><title type='text'>Excellent Statement Part One</title><content type='html'>&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:100%;" &gt;Kemiskinan adalah cacat sementara, tetapi kekayaan berlebihan adalah cacat permanen.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:100%;" &gt;Bila aku bersedia menerima kehangatan matahari, maka akupun harus bersedia menerima petir dan halilintar.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:100%;" &gt;Dia yang memerlukan dorongan untuk melakukan perbuatan mulia, tidak akan pernah menyelesaikannya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:100%;" &gt;Sungguh aneh, bahwa: makhluk-makhluk tanpa tulang belakang memiliki cangkang yang paling keras.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:100%;" &gt;Orang gagal yang pemalu lebih mulia ketimbang orang sukses yang pembual.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:100%;" &gt;Orang yang mendatangkan bencana bagi bangsanya adalah; orang yang tidak pernah menebar benih, menyusun bata, atau menenun kain, tetapi menjadikan politik sebagai mata pencahariannya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:100%;" &gt;Kebencian aku pergunakan untuk mempertahankan diri. Jika aku termasuk orang yang kuat, aku tidak akan membutuhkan senjata semacam itu.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:100%;" &gt;Dengan berhias orang mengakui keburukannya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:100%;" &gt;Jika kamu mebuka rahasiamu kepada angin, jangan salahkan angin jika membuka rahsasiamu kepada pohon-pohon.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:100%;" &gt;Kehormatan untuk terbunuh adalah bahwa bukan dia pembunuhnya.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:100%;" &gt;Orang tidak bisa sampai ke fajar kecuali melalui jalan malam.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:100%;" &gt;Hal yang paling pahit dalam kepedihan kita hari ini adalah; ingatan kita akan kegembiraan di hari kemarin.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6791496379964808480-3036583794816281938?l=www.robbysyahputra.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/feeds/3036583794816281938/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/09/excellent-statement-part-one.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/3036583794816281938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/3036583794816281938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/09/excellent-statement-part-one.html' title='Excellent Statement Part One'/><author><name>Historical Legend</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701636558006735668</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6791496379964808480.post-9110132263824779537</id><published>2009-09-03T05:30:00.000-07:00</published><updated>2009-09-03T05:33:29.960-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Poetries'/><title type='text'>Tawa dan Tangis</title><content type='html'>&lt;div&gt;Hari ini dunia gembira&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saling berbagi dan bercerita&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Esok hari teteskan air mata&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dan takkan mengerti akan semua&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Atjeh, Dec’02&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6791496379964808480-9110132263824779537?l=www.robbysyahputra.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/feeds/9110132263824779537/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/09/tawa-dan-tangis.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/9110132263824779537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/9110132263824779537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/09/tawa-dan-tangis.html' title='Tawa dan Tangis'/><author><name>Historical Legend</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701636558006735668</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6791496379964808480.post-5424521906136957824</id><published>2009-09-03T05:29:00.000-07:00</published><updated>2009-09-03T05:30:13.185-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Poetries'/><title type='text'>Semusim</title><content type='html'>&lt;div&gt;Setiap langkah kurasa bahagia&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Seluruh detik kuingin tertawa&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jiwaku meluruh dalam suka&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Mataku tertutup akan pesona&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saat aku menyadari semua&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Waktu telah berlalu untuk selamanya&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Yang tergurat hanya impian saja&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dan tiada lagi akan tersisa&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Jogja, ‘03&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6791496379964808480-5424521906136957824?l=www.robbysyahputra.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/feeds/5424521906136957824/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/09/semusim.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/5424521906136957824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/5424521906136957824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/09/semusim.html' title='Semusim'/><author><name>Historical Legend</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701636558006735668</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6791496379964808480.post-3156062364328911404</id><published>2009-09-03T05:28:00.000-07:00</published><updated>2009-09-03T05:29:27.054-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Poetries'/><title type='text'>Noon Cry</title><content type='html'>&lt;div&gt;Selaksa daun bergoyang&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tertiup bayu deru kemarau&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lantunan merdu mengalun&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Bertekuk lutut menyembah sujud&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Terhitung waktu masa berganti&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Beratap bulan berbilang tahun&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Sebuah rasa iba menanti&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Menghadap senja memohon ampun&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Jogja, Boarding House,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;August 27th ‘03&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6791496379964808480-3156062364328911404?l=www.robbysyahputra.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/feeds/3156062364328911404/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/09/noon-cry.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/3156062364328911404'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/3156062364328911404'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/09/noon-cry.html' title='Noon Cry'/><author><name>Historical Legend</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701636558006735668</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6791496379964808480.post-7510243441513806129</id><published>2009-09-03T05:27:00.000-07:00</published><updated>2009-09-03T05:28:06.952-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Poetries'/><title type='text'>Midnight Sun</title><content type='html'>&lt;div&gt;Sinar itu menusuk jauh&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Melesat pada dua bola bening&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Menyusur lorong panjang&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Meresap rongga-rongga&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Meringkuk dalam kerinduan panjang&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Melangkah dalam gaung bingar&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Menapak satu persatu&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Memukul hening tak berbilang&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Matanya tanpa terkedip&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Menatap rongga sang perawan&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Menyiksa lembar-lembar batinnya&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Menempatkan kematian dihadapannya&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sebelum kematian sesungguhnya datang&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Atjeh, the rest from old memory, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;February 12th ‘02&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6791496379964808480-7510243441513806129?l=www.robbysyahputra.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/feeds/7510243441513806129/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/09/midnight-sun.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/7510243441513806129'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/7510243441513806129'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/09/midnight-sun.html' title='Midnight Sun'/><author><name>Historical Legend</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701636558006735668</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6791496379964808480.post-7131777037704944700</id><published>2009-09-03T05:10:00.000-07:00</published><updated>2009-09-03T05:11:22.110-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Short Stories'/><title type='text'>Sebuah Epilog Negeri Nusa</title><content type='html'>&lt;div&gt;Kecapi tua itu mulai berdebu. Senarnya yang tersangkut di balok kecil di kedua sudutnya agak mengendur. Warna coklat agak keemasannya mulai memudar. Sebuah peninggalan sejarahkah? Yang pasti ada banyak cerita di sana. tersimpan di dalam rongganya. Kenangan-kenangan indah, mengharukan, pahit ataupun getir sekalipun.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Nada-nada indah dimainkannya di suatu masa. Saat dimana kabut menutupi jarak pandang dan pendengaran. Masa itu semua berjalan apa adanya. Nada-nada indah adalah sebuah keharusan untuk didendangkan. Tiada nada sumbang atau lantunan menyayat hati yang bisa dimainkan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Perhatikanlah! Sang dalang tidak lagi menjadi dalang di balik layar. Tanpa disadarinya, dia telah menjadi wayang yang digerakkan oleh orang-orang di belakangnya; di atas panggung hiburan sebuah Negeri Nusa. Ayo tontonlah!&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Mulut-mulut yang menyanyikan lagu lain di tengah pertunjukan, dibungkam dan menghilang. Di tengah pertunjukan yang gegap gempita - ketika seluruh mata tersorot ke atas panggung – lagu-lagu indah dilantunkan. Bait-bait merdu dinyanyikan. Tanpa penonton utama sadari, segerombol wayang di pinggiran panggung – yang luput dari pengamatan – memainkan lakon mereka sendiri. Lakon tragis penuh kekerasan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Sambil menceritakan kepahlawanan Ramayana dan Shinta, atau sesekali lakon Gatot Kaca dan Hanoman; sang dalang berusaha memikat penonton dengan goyangan wayang di atas panggung. Wayang bergerak meloncat ke belakang, menyerang ke depan. Sesekali mengeluarkan jurus ampuhnya diiringi gemuruh suara latar. Satu demi satu lakon kepahlawanan disuguhkan, tanpa sadar penonton telah mengeluarkan lembar demi lembar dari sakunya, melebihi nilai yang seharusnya mereka bayarkan untuk pertunjukan itu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Sesekali lakon kemakmuran dimainkan. Tanpa setetes airpun dibagikan. Kering meratap. Mata terpaku menatap. Hanya bisa menekan lidah dalam-dalam ke bagian bawah. Menelan ludah.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Bertahun bahkan berpuluh tahun lakon itu menghibur kita. Kecapi terus dipetik. Sesekali dikilapkan, senarnya dikencangkan. Busur tertarik ke belakang. Dalam sekejap anak panah itu melesat. Nyanyian dimulai kembali. Sinden bernyanyi iringi lakon sang dalang. Terkadang suaranya meninggi, sesekali direndahkan. Riuh gemuruh penonton membahana. Sang dalang dipilih lagi untuk membawa lakon kepahlawanan di Negeri Nusa. Terpilih ataukah tidak ada pilihan?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Sekelompok anak muda duduk di kursi penonton. Wajahnya seperti orang terpelajar. Manggut-manggut memperhatikan lakon di atas panggung. Cukup lamakah? Sepertinya saja, tapi hanya separuh, itu juga kurang. Waktu seakan terlalu cepat untuk darah muda mereka menggelegak, di tengah lakon yang terasa sangat lama dan mulai memuakkan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Cemooh dilontarkan. Deruman kepahitan yang entah kapan mulai mereka rasakan. Ketidakadilan yang terpicu dari cerita, bahkan kekecewaan sebagai alih-alih para pemuda untuk bisa menghentikan lakon sang dalang.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Dari mana semangat pemuda-pemuda itu? Setelah berpuluh tahun menggerakkan wayangnya, sang dalang mulai letih. Kekuatannya tidak lagi seperti dulu, saat awal masa jayanya. Sejenak ia teringat, bagaimana ia membuat sekumpulan wayang pengacau untuk melesatkan panah, dan menguburkan impian para calon dalang di Negeri Nusa. Hingga akhirnya dia terpilih menjadi dalang. Untuk menhapus jejak lengkahnya, dia musnahkan seluruh wayang pengacau hingga akarnya. Yang tersisapun dibuatnya tidak diterima dimanapun mereka berada.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Mereka datang lagi, seakan tiada habisnya. Memaki, memberontak dan memaksa lakon itu dihentikan. Cukup sudah cerita dituturkan. Cukup sudah penonton dibungkam, dan dipaksa bergemuruh dalam pesta-pesta kemenangan sang dalang.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Akhirnya hari itu tiba. Pemuda berdiri tegak, mengangkat bendera. Teriakan kemenangan membahana. Pekikan kebebasan dinyanyikan. Negeri Nusa akhirnya bisa menhirup kebebasan; udara segar setelah sekian lama dibenam dalam ruang sumpek tempat sang dalang menggelar lakonnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Benarkah? Apa Negeri Nusa sekarang lebih baik? Apakah sang dalang pengganti lebih baik memainkan lakonnya? Mungkinkah para pemuda itu mengijinkan sang dalang membuktikannya? Atau mungkin akan langsung dicaci? Yang pasti kepercayaan di Negeri Nusa akan menjadi barang langka. Tidak aka nada lagi dukungan sepenuh hati. Hanya cemoohan yang terlontar yang disulut entah oleh siapa.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Sang dalang tua terlalu lelah. Bagai kecapi tua yang disisihkan. Kekuatannya memudar. Senarnya perlahan mengendur. Catnya mengelupas. Di ujung sisa waktunya, sang dalang harus menahan derita. Entah karena apa, biar waktu yang akan menceritakan sisanya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Cerita sang dalang-dalang berikutnya akan muncul. Dalang-dalang yang akan dipilih lalu dijatuhkan. Negeri Nusa punya kisah sendiri untuk itu. Satu negeri dimana penontonnya saling berebut menjadi dalang, bagai orang lapar yang berebut makan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Sang dalang tua dalam senja masih akan menderita.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Selamat datang di Negeri Nusa.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Created by Robby Syahputra&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Yogyakarta, Mei 7th, 2005&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6791496379964808480-7131777037704944700?l=www.robbysyahputra.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/feeds/7131777037704944700/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/09/sebuah-epilog-negeri-nusa.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/7131777037704944700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/7131777037704944700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/09/sebuah-epilog-negeri-nusa.html' title='Sebuah Epilog Negeri Nusa'/><author><name>Historical Legend</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701636558006735668</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6791496379964808480.post-1793030665252829108</id><published>2009-09-03T04:58:00.000-07:00</published><updated>2009-10-13T04:18:00.852-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='The Historical Places of Indonesia'/><title type='text'>CANDI PRAMBANAN</title><content type='html'>&lt;div&gt;Keagungan Sejarah Hindu Terbalut Mitos&lt;/div&gt;&lt;div&gt;”Aku akan menerima pinanganmu dengan satu syarat,” ujar Rara Jonggrang&lt;/div&gt;&lt;div&gt;”Apa keinginanmu putri cantik?” sang raksasa menantang&lt;/div&gt;&lt;div&gt;”Buatkan aku candi dengan seribu arca!” tatapan Rara Jonggrang begitu yakin Bandawasa tidak akan mampu melakukannya, ”Hanya dalam satu malam!”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Setelah diam sejenak, Bandawasa tergelak seakan mengejek. ”Baiklah jika itu keinginanmu. Sebelum ayam jantan berkokok, candi dengan seribu arca itu sudah kuselesaikan.” &lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Bandung Bandawasa berbalik dan pergi. Diapun mulai mengumpulkan pasukannya, dan dengan kekuatannya mulai membangun candi tersebut. &lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space: pre;"&gt; &lt;/span&gt;Sepertiga malam terakhir, candi itu sudah hampir selesai. Rara Jonggrang harus melakukan sesuatu untuk menghindari pernikahan itu. Bersama dengan dayang – dayangnya, Rara Jonggrang menuju lumbung penyimpanan padi dan mulai menumbuk – numbuk padi, kegaduhan ini membangunkan ayam jantan hingga berkokok. Bandung Bandawasa yang kurang menyelesaikan satu arca lagi merasa kecewa dan murka. Kemudian ia pun mengutuk Rara Jonggrang menjadi arca keseribu. Itulah sepenggal kisah yang sering diceitakan secara turun temurun, dan telah menjadi legenda hingga akhirnya candi seribu arca atau Candi Prambanan dikenal juga dengan sebutan candi Rara Jonggrang. Penyebutan ini pada dasarnya keliru. Rara Jonggrang dikenal sebagai putri Prabhu Ratubaka yang namanya diabadikan sebagai nama peniggalan kompleks bangunan di perbukitan Saragedug sebelah selatan Candi Prambanan.  Sementara itu arca keseribu yang disebut sebagai arca Rara Jonggrang dipercayai sebagai Durgamahisasuramardhini yang letaknya di bilik utara Candi Siwa. Durgamahisasuramardhini sejatinya adalah istri dari Dewa Siwa. Candi Prambanan adalah candi hindu terbesar di Jawa Tengah dan salah satu yang terindah di dunia. Berjarak 17km ke arah timur dari Yogyakarta. Candi yang terletak di ujung timur sleman ini dibangun abad IX oleh Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya dan ditemukan kembali oleh seorang Belanda bernama C.A. Lons pada tahun 1733 dalam keadaan runtuh dan hancur serta ditumbuhi semak belukar.  Memasuki kompleks Candi Prambanan, seperti halnya tempat – tempat wisata, kita akan disuguhi dengan berbagai macam souvenir yang ditawarkan oleh penduduk setempat. Selain itu, ada juga beberapa penjual jasa seperti tour guide, penyewa payung atau fotografer yang siap mengabadikan moment anda di Candi Prambanan. Selayaknya tempat – tempat suci yang menjadi tempat pemujaan kepada Tuhan, sebelum memasuki halaman pertama, kita akan menelusuri jalan panjang yang hanya ditumbuhi tanaman – tanaman rendah pada bahu jalan. Menurut kepercayaan, jalan panjang ini adalah bagian dari ritual. Memasuki halaman pertama yang berbentuk bujur sangkar, yang merupakan halaman paling suci kita akan menemui 3 candi utama (Siwa, Brahma, Wisnu), 3 candi Perwara (Nandi,A,B), 2 candi apit, 4 candi kelir, dan 4 candi sudut/patok. 4 dari 6 candi utama dan perwara yang ada di halaman ini terdapat arca. Candi Siwa (luas 34x34 meter ; tinggi 47 meter) memiliki 4 bilik, yaitu bilik utama menghadap timur dengan arca Siwa Mahadewa yang berdiri di atas yoni yang disangga oleh seekor naga. Arca Siwa Mahadewa ini adalah sentral pemujaan di candi Prambanan. Bilik kedua menghadap ke selatan berisi arca Siwa Mahaguru. Bilik ketiga menghadap ke barat berisi arca Ganeca (anak Dewa Siwa) yang digambarkan berkepala gajah berbadan manusia. Bilik keempat mengahadap ke utara berisi arca Durga Mahisasuramardhini (istri Siwa), arca inilah yang dikenal dengan sebagai arca Rara Jonggrang. Tata letak arca – arca ini melambangkan struktur pemerintahan pada waktu itu. Arca Siwa mahadewa sebagai arca utama melambangkan raja yang berkuasa. Arca Siwa Mahaguru melambangkan kaum pendeta yang menjadi penasihat spiritual raja. Dewa Ganeca sebagai dewa perang melambangkan kekuatan pertahanan. Sedang dewa Durga Mahisasuramardhini menggambarkan permaisuri yang senantisa mendampingi raja. Candi Wisnu (luas 20x20 meter ; tinggi 33 meter) terletak di sebelah utara candi Siwa hanya memuat satu arca yakni arca Dewa Siwa. Sementara itu di sebelah selatan candi Siwa terdapat candi Brahma (luas 20x20 meter ; tinggi 33 meter), yang berisi arca dewa Brahma yang berkepala empat sebagai Dewa pencipta alam. Di bawah patung brahma terdapat sebuah sumur. Ketiga candi utama ini menghadap ke timur, sedangkan 3 candi perwara yang berada di depannya menghadap ke barat. Candi perwara yang di tengah menghadap ke candi Siwa adalah candi Nandi (luas 16,71x15,21 meter ; tinggi 27,06 meter), yaitu wahana (kendaraan Dewa Siwa). Didalamnya terdapat arca seekor lembu jantan besar yang sedang berbaring menghadap ke candi Siwa. Pada bagian lainnya pada candi Nandi terdapat dua patung, yaitu Dewa Surya, berdiri di atas kereta yang ditarik oleh tujuh ekor kuda dan Dewa Candra, berdiri di atas kereta yang ditarik oleh sepuluh ekor kuda. 2 candi perwara lainnya tidak memiliki arca di dalamnya sehingga disebut candi A (luas 14,37x14,37 meter ; tinggi 24,53 meter) dan candi B (luas 14,41x14,37 meter ; tinggi 24,36 meter). Selain itu kita juga akan menjumpai seni hias yang sangat menarik. Hiasan itu berupa relief arca Dewa Lokapala (8 dewa penjaga arah mata angin) yang dipahatkan pada dinding luar kaki candi. Relief cerita ramayana dipahatkan pada dinding dalam pagar langkan candi Siwa di candi Brahma. Relief Kresnayana dipahatkan pada dinding dalam pagar langkan candi Wisnu. Selain ketiga relief tersebut, seni hias yang menonjol adalah hiasan yang lazim disebut motif prambanan, yaitu suatu hiasan pada batur candi yang berupa seekor singa yang dalam posisi duduk diapait oleh pohon kalpataru (pohon hayati/pohon kehidupan). Hiasan – hiasan lainnya yang banyak menghiasi dinding luar batur candi adalah pohon kalpataru yang diapit sepasang makhluk kayangan yang lazim disebut kinara-kinari (makhluk berkepala manusia berbadan burung). Pada halaman kedua yang juga berbentuk bujur sangkar dengan letak lebih rendah dari halaman pertama. Pada halaman ini terdapat 224 candi perwara yang disusun bersaf 68, 60, 52, dan 44 candi. Susunan tersebut membentuk susunan yang konsentris menuju halaman pusat. Candi Prambanan merupakan candi yang dibentuk dalam suatu gugusan yang sangat besar dengan candi Siwa sebagai sentral pemujaan dan arca Siwa mahadewa sebagai arca utamanya. Jika anda telah lelah menikmati candi ini, anda dapat menikmati berbagai sajian yang dijajakan oleh penduduk setempat sambil anda melihat – lihat dan menawar souvenir untuk dibawa pulang. Apabila anda ingin melihat kesenian Sendratari Ramayana, anda dapat mengunjungi candi Prambanan selama bulan Mei sampai Oktober pada setiap bulan purnama. Acara yang digelar di pelataran terbuka candi Prambanan ini berlangsung dari pukul 19.00 hingga 21.00.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;i&gt;Yogyakarta, 2006&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6791496379964808480-1793030665252829108?l=www.robbysyahputra.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/feeds/1793030665252829108/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/09/candi-prambanan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/1793030665252829108'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/1793030665252829108'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/09/candi-prambanan.html' title='CANDI PRAMBANAN'/><author><name>Historical Legend</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701636558006735668</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6791496379964808480.post-7571011647061605133</id><published>2009-09-03T04:47:00.000-07:00</published><updated>2009-09-03T04:55:09.943-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Poetries'/><title type='text'>Luka</title><content type='html'>&lt;div&gt;Aku bukan Tuhan&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tapi aku sebuah peluru&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jangan tarik pelatukku&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Karna aku ingin diam&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Hempaskan dan palingkan wajahmu&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jangan tatap aku&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ku tak ingin dikasihani&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Karna aku masih berdiri&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pergi..pergi dari hadapanku&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Bawa hatimu sejauh engkau mampu&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Cukup kau siksa aku&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dengan wajah dan senyum bidadarimu&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Jogja, August 22nd ’03&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6791496379964808480-7571011647061605133?l=www.robbysyahputra.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/feeds/7571011647061605133/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/09/luka.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/7571011647061605133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/7571011647061605133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/09/luka.html' title='Luka'/><author><name>Historical Legend</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701636558006735668</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6791496379964808480.post-2611633431735712632</id><published>2009-09-02T23:14:00.000-07:00</published><updated>2009-09-02T23:15:32.786-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Travelling Time'/><title type='text'>Merangkai Jimbaran di Pantai Depok</title><content type='html'>&lt;div&gt;Pantai Depok – Pantai di barat Pantai Parangkusumo ini begitu ramah. Menyimpan pesona yang menggoda. Ombak laut yang tenang, semilir angin yang menyejukkan dalam balutan aroma asinnya air laut. Penduduk yang ramah, tempat makan unik dan masakannya yang lezat. Pasar ikan di pagi hari dan aneka sajian seafood di kala senja.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pemandangan menjelang senja berbeda dengan suasana sebelumnya. Setidaknya 5 warung atau rumah makan disulap baik penampilan hingga sajiannya. Salah satunya rumah makan Palm Beach milik pasangan Sarjiyem dan Sodikan. Di tangan Wahyudi dan kelima rekannya, warung ini diubah bernuansa tropis dengan ciri khas neon box yang berputar diterpa angin laut.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Beda Palm Beach beda pula Warung Sumiler. Mengangkat tema Yogya tempo dulu, Henry Utama cs menyajikan Bawal Bakar Lombok Abang sebagai menu andalan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Warung mbak Asih yang dikelola Yusuf Mukhlis lebih focus pada pembenahan manajemen, penyajian, servis dan promosi keluar.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Impian rekan-rekan pebisnis ini adalah menyulap Pantai Depok menyerupai Jimbaran di Bali. Jika mimpi ini terwujud, menikmati hidangan lezat sembari memandang deburan ombak tidak lagi harus jauh-jauh ke Bali.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Robby Syahputra&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Yogyakarta, Mei 7th’08&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6791496379964808480-2611633431735712632?l=www.robbysyahputra.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/feeds/2611633431735712632/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/09/merangkai-jimbaran-di-pantai-depok.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/2611633431735712632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/2611633431735712632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/09/merangkai-jimbaran-di-pantai-depok.html' title='Merangkai Jimbaran di Pantai Depok'/><author><name>Historical Legend</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701636558006735668</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6791496379964808480.post-4732501652313796381</id><published>2009-09-02T23:09:00.000-07:00</published><updated>2009-09-02T23:13:19.306-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Short Stories'/><title type='text'>Ujung Jalan Kebahagiaan</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;‘Selamat siang bu. Bagaimana kabarnya hari ini? Boleh saya minta waktunya sebentar? Saya ingin menawarkan panic serba guna. Cukup satu untuk semua. Menggoreng, merebus dengan cepat atau merebus sayur tanpa air.’&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Itu hanya sepenggal kalimat yang harus diucapkan Layung. Sederet kata-kata yang terus dilontarkannya demi sesuap nasi. Bahkan disaat penolakan semakin kuat menekannya. Layung tidak berkecil hati. Bagai seekor semut yang akan terus menghampiri gula, meskipun kehadirannya terasa begitu mengganggu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Beberapa ibu terkadang tergetar pada rayuan Layung. Terusik ucapan hangat, lembut, dan sabar dari bibir kering yang menahan dahaga. Hati yang tergoda hasrat untuk bisa memiliki, atau rasa iba menatap rupa Layung yang lusuh tersiram terik mentari. Berjalan di atas sepatu hitam dari kulit murahan. Dengan tubuh letih yang tidak terisi sarapan, selain segelas air putih dari keran.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Setitik cahaya merasuk pelan ke relung Layung, saat para ibu bertanya barang dagangannya. Menanyakan fungsinya, cara pakainya, atau iseng bertanya soal bahannya. Layung mulai mengitung untung. Setidaknya akan cukup untuk makan beberapa hari. Tapi.. pecah sudah harapan Layung. Kristal indah yang baru akan terbentuk, terbanting keras dan terburai. Layung harus memendam kembali asanya. Barang dagangannya gagal terjual saat nominal disebutkan. Rp.435.000,-. Harga yang dianggap tidak masuk akal. Setidaknya ketika dibawa oleh seorang pedagang keliling. Meski bergelar sales, dengan dandanan berdasi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Apa salahnya seorang sales? Jika mereka menipu untuk mejadi kaya, lalu dimana mobil mereka hingga mereka harus berjalan kaki? Kalau memang terlalu mahal, kenapa harga itu bisa diterima saat diletakkan di etalase sebuah toko mewah?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Tidak ada yang salah. Hidup ini keras. Layung punya hak untuk menjual sesuatu. Tapi setiap orang juga punya hak untuk menolak membelinya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Sudah hampir dua kali matahari terbenam. Untuk dua kali itu, Layung baru memasok bahan bakar berupa nasi sekali. Itu juga hanya dibumbui bening bayam. Kertas rupiah yang dimilikinya hanya lembar seribuan. Tidak lebih dari jumlah jari satu tangannya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Langkah kakinya terhenti di bibir pintu. Amplop coklat kecil menjadi penyambut kepulangan Layung. Alamat kost Layung tertulis di satu sisi. Di sisi lainnya tertanda pengirim dari kampung halaman. Suprapti. Sang kekasih yang selalu merindukan. Dengan lemah dan gontai, Layung masuk dalam ruang pengap berukuran 2x3. Cahaya lampu pijar seketika menerangi saat Layung memutar bolanya. Ruangan temaram itu bernuansa seperti tempat pengeraman telur. Tidak beda jauh dengan kandang ayam bapak di kampung. Sedikit air tersisa disatu-satunya gelas milik Layung. Satu tenggakan mengeringi isinya. Berpindah melalui rongga dalam leher Layung. Sedikit menebus rasa bersalah, karena membiarkan tubuhnya mengering.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Layung merebahkan tubuhnya di atas selembar tikar yang terbentang. Meletakkan kepalanya yang terasa gamang di atas bantal kapuk yang semakin menipis. Mata Layung terpejam. Dia tida terlelap. Bayangan kehidupannya melintas dalam lamunan. Layung masih mengingat jelas tangisan ibunya. Mengiba pada anak semata wayangnya untuk tidak pergi. Penuh keegoisan, Layung memutuskan menitipkan ibunya pada Suprapti. ABapak udah lama mati. Meski sebelumnya sempat kawin lagi. Harta bapak habis sama istri mudanya. Layung dan ibunya hanya ditinggali rumah kecil-yang tadinya untuk istri muda bapak-, ditambah satu petak sawah yang hampir tidak punya harapan. Kering dan jauh dari pengairan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-tab-span" style="white-space:pre"&gt; &lt;/span&gt;Sehari-hari ibu harus jadi buruh anyaman. Sesekali dapat tambahan beras kalau ada panenan, karena ibu membantu memanen dan mengeringkan padi. Hidup enak tinggal impian. Status berada jadi tiada. Angin sejuk berhenti bertiup. Hidup nyaman yang pernah dilalui Layung dan ibunya seakan hanya sebagai bunga tidur. Lenyap bersamaan datangnya fajar. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ayam jantan berkokok, alu mulai dihentakkan. Setelah menyiapkan sarapan seadanya, ibu mulai mencari sedikit rupiah. Sedang Layung? Dia tidak siap hidup susah. Terpukul kehilangan harta bapak, setiap hari Cuma makan, tidur dan meliarkan pikirannya dalam pandangan kosong.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Satu petang kala matahari nyaris lengser ke peraduan. Saat lantunan ayat suci mulai mengalun dari surau. Wajah Layung cerah berbinar. Sorot matanya terang bersinar. Kontras dengan langit memerah yang hamper gelap. Seorang kawan datang membawa kabar. Kehidupan yang jauh lebih baik. Gaya mentereng. Tempat yang semua hal bisa jadi uang. Mobil mewah menyesaki jalan. Tempat yang seperti hutan, dimana pohonnya digantikan gedung bertingkat dan apartemen mewah. Wanita seksi dan kerlip lampu disko menjadi penghias kehidupan malam. Tanah harapan. Jakarta.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Lewat sudah dua kali lebaran. Impian saat Layung berangkat dengan kereta ekonomi dari Stasiun Lempuyangan, tinggal impian. Jakarta tidak seramah harapan Layung. Sarapan jadi sesuatu yang mahal. Pulang ke kampung mulai dilupakan. Terkubur, terhias batu nisan seiring naiknya ongkos kereta. Selama di Jakarta, baru sekali Layung mengirim kabar. Surat yang berhasil terkirim dengan bayaran dua hari puasa.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Perlahan mata Layung terbuka. Apartemen mewah sirna. Petak kecil dengan dinding mengelupas, mengelilingi Layung. Tatapannya begitu lelah. Pilihannya menjadi pekerja berdasi memang terwujud. Sayangnya bukan di dalam ruang ber-ac. Tapi di jalanan yang bercuaca labil. Satu hari panas bisa membakar. Lain hari hujan deras berangin menghiasi. Penolakan, penghinaan dan cibiran jadi pengganti wanita dan lampu disko.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tangan kurus Layung merobek ujung amplop coklat. Sedikit gemetar Layung mengeluarkan surat di dalamnya. Selembar kertas terlipat berpindah ke tangan Layung. Sehelai daun padi yang mongering jatuh dari dalam lipatan. Lemah Layung menegakkan badannya yang semain kurus. Di luar sesekali terdengar kentungan, suara panggilan dari penjual bakmi keliling. Maghrib lewat sudah. Di kampung biasanya sudah mulai sepi. Terasa lebih tenang tanpa emosi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Created by Robby Syahputra&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;i&gt;Yogyakarta, November 17th, 2007&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6791496379964808480-4732501652313796381?l=www.robbysyahputra.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/feeds/4732501652313796381/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/09/ujung-jalan-kebahagiaan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/4732501652313796381'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/4732501652313796381'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/09/ujung-jalan-kebahagiaan.html' title='Ujung Jalan Kebahagiaan'/><author><name>Historical Legend</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701636558006735668</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6791496379964808480.post-7298955293489896258</id><published>2009-09-02T20:10:00.000-07:00</published><updated>2009-09-02T20:13:54.901-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Travelling Time'/><title type='text'>Lidah Siluman Kerbau di Gua Kiskendo</title><content type='html'>Angin berdesir di antara dinding gua, seakan menyaksikan pertempuran yang telah berlangsung lama. Seorang manusia sakti harus menghadapi dua siluman. Setelah pertempuran panjang, tubuh Subali mulai terasa perih. Berkali-kali usahanya membunuh Raja Mahesasuro sia-sia, karena setiap kali jasadnya dilangkahi Patih Lembusuro, maka raja berkepala kerbau itu akan hidup kembali; begitu pula sebaliknya.&lt;br /&gt;Sembari menghimpun tenaganya yang tersisa. Subali terus mencari peluang. Hingga akhirnya –dalam keadaan terjepit- Subali berhasil menangkap kedua leher siluman itu. Dengan cepat Subali langsung menghantamkan kepala kedua makhluk itu hingga tewas. Untuk memastikan kedua siluman itu tidak akan hidup kembali, Subali memotong lidah dan membuang isi perut Raja Mahesasuro.&lt;br /&gt;Menapak kaki di jalan setapak setelah perjalanan panjang. 35km arah barat Yogyakarta, tiba juga di Dusun Sukamaya. Dusun ini masuk dalam wilayah administratif Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.&lt;br /&gt;Pemandangan indah di antara lembah saat kaki menyusuri tubuh Pegunungan Menoreh terasa begitu memikat. Petak sawah yang menghijau, serta rumah-rumah tradisional pedesaan yang begitu sederhana; terasa sayang untuk tidak diabadikan.&lt;br /&gt;Sesekali hawa dingin menyapa tubuh. Berada di ketinggian lebih dari 1000m di atas permukaan laut, memang suhu terasa jauh lebih rendah. Udara juga terasa sangat menyegarkan dan bersih. Bebas dari polusi, baik udara juga suara.&lt;br /&gt;1200m di atas permukaan laut, sebuah mulut gua yang menurut legenda merupakan pusat Kerajaan Kiskendo terlihat di depan mata. Melalui penuturan penduduk setempat, gua itu ditemukan oleh Ki Gondoria sekitar tahun 1700-an yang mendapat petunjuk melalui mimpinya. Dikisahkan konon gua itu muncul dari Epos Ramayana di dunia pewayangan. Gua itu awalnya sebagai istana Raja Mahesasuro yang berkepala kerbau, didampingi Patih Lembusuro yang berkepala sapi. Gua itu juga menjadi pusat dari Kerajaan Kiskendo.&lt;br /&gt;Keindahan stalaktit dan stalagmit segera menyambut saat memasuki gua. Di bawah tanah mengalir sungai yang menurut legenda dulunya mengalirkan air berwarna merah dan putih.&lt;br /&gt;Keheningan mulai terasa saat langkah melewati pintu gua. Suasana sakral seketika membalut aura tempat yang dikeramatkan oleh penduduk setempat. Derap kaki yang begitu pelan terasa menggema di antara dinding gua. Tujuan utama masih jauh di depan mata. Gelap masih terasa begitu pekat untuk menangkap yang jauh dari pandangan.&lt;br /&gt;Perjalanan menuju ruang utama melewati beberapa ruang lainnya. Ada Pertapaan Ledek. Ruang ini biasa digunakan untuk bertapa agar sukses dalam berkesenian. Pertapaan Santri Tani, yang dipakai bertapa agar hasil pertanian bias melimpah. Ruang ini dulunya dipakai sebagai tempat tinggal para petani pada masa kejayaan Kerajaan Kiskendo. Selain itu ada juga Lumbung Kampek sebagai tempat penyimpanan benda berharga kerajaan, serta Selumbung yang dipakai sebagai lumbung makanan kerajaan.&lt;br /&gt;Saling terhubung secara fisik, tempat itu terlihat seperti sebuah tata pemerintahan kecil. Di tempat itu ada juga Pertapaan Kusuman yang sering digunakan sebagai tempat bertapa agar memperoleh derajat yang tinggi. Yang paling sering digunakan sebagai tempat bertapa adalah Pertapaan Subali. Di tempat inilah dulunya Subali bertapa sebelum bertempur dengan Raja Mahesasuro dan Patih Lembusuro. Selain itu ada juga Gua Seterbang yang menurut warga terhubung langsung dengan laut selatan.&lt;br /&gt;Di komplek ini juga terdapat Sepranji dan Sawahan. Area ini dulu digunakan sebagai pusat peternakan dan menanam padi. Juga sebuah Padasan yang dulunya menjadi sumber air pada masa kejayaan kerajaan.&lt;br /&gt;Sesampainya di tengah gua, cahaya matahari menerobos masuk melalui langit gua. Sebuah lubang menganga memperlihatkan langit biru di atasnya. Lubang ini disebut Sumelong. Lubang inilah yang dulunya dibuat oleh Subali agar bisa keluar dari gua disebabkan mulut gua ditutup Sugriwo-saudaranya.&lt;br /&gt;Sebuah area lebar bergurat ukiran alam di dinding gua, ruang yang dikenal dengan sebutan Selangsur menjadi gerbang menuju ruang utama. Sejenak terlintas dalam benak bayangan film-film perang kerajaan cina tempo dulu. Di tempat inilah konon, Subali manusia sakti dari kahyangan harus berhadapan dengan punggawa-punggawa Kerajaan Kiskendo.Tujuan utama mendatangi Gua Kiskendo mulai terlihat. Cahaya dari alat penerangan mulai memantul di dinding gua. Satu bagian yang terpahat begitu hebat, entah oleh alam atau tangan manusia. Pilar-pilar stalaktit dan stalagmit yang aneh namun indah menghiasi ruangan, menjadi saksi bisu dari legenda. Tempat para siluman juga manusia dari kahyangan konon pernah meraja. Juga tempat di mana Subali berhasil menundukkan kesaktian Raja Mahesasuro dan Patih Lembusuro, sehingga berhak mempersunting Dewi Untoro Kasih yang menjadi pujaan Mahesasuro. Ruangan ini dikenal dengan nama Keraton Sekandang. Ruang itu pulalah yang dulunya menjadi pusat dari Kerajaan Kiskendo.&lt;br /&gt;Yang menarik perhatian adalah Babat Kandel serta Lidah Mahesasuro. Babat Kandel berupa batu-batuan yang bentuknya mirip dengan usus manusia. Babat inilah yang dipercaya sebagai isi perut Mahesasuro yang dibuang oleh Subali. Sedangkan Lidah Mahesasuro adalah batu yang memiliki lidah. Batu ini dipercaya sebagai lidah raja yang dipotong oleh Subali.&lt;br /&gt;Di atas barisan pegunungan, langit begitu biru dengan gumpalan awan menggantung sebagai penghias. Saat matahari beranjak naik, hawa sejuk tidak lagi begitu menusuk.&lt;br /&gt;Saat pandangan menatap ke arah barat, 50m dari mulut Gua Kiskendo terlihat mulut gua lainnya. Begitu juga saat melihat ke arah timur sejauh 250m. Kedua gua itu dikenal dengan nama Gua Sumitro, yang menurut legenda menjadi tempat pertapaan Bambang Sumitro putra Sang Arjuna. Di dalam Gua Sumitro terdapat aliran air yang diyakini berasal dari Gua Kiskendo.&lt;br /&gt;Di sebelah tenggara dari ketinggian 20m, air mengalir melewati riam-riam terjal. Air terjun ini dikenal sebagai Grojogan Sewu. Selain itu ada juga Watu Blencong – yang bentuknya seperti lampu blencong – terletak 250m di atas Gua Kiskendo, serta Watu Gajah – yang dari sisi tertentu akan terlihat seperti gajah.&lt;br /&gt;Yang sangat unik adalah Gunung Krengseng dan Gunung Kelir. Gunung Krengseng merupakan bukit yang di puncaknya terdapat gapura atau pintu gerbang, sedangkan Gunung Kelir merupakan bukit yang tampak seperti kelir atau layar. Untuk bisa menikmati kedua gunung ini dari dekat, jarak yang harus ditempuh sejauh 4,5km dari Gua Kiskendo.&lt;br /&gt;Saat letih mulai terasa, beristirahat sejenak di sekitar gua sembari menikmati indahnya alam pegunungan bisa menjadi pilhan menarik. Di sekitar lokasi juga terdapat pendopo untuk melepas penat bila terik matahari mulai terasa menyengat.&lt;br /&gt;Gua Kiskendo punya banyak cerita. Pembentukan alam atau manusia, Epos Ramayana atau duplikat gua di India. Apapun ceritanya, Gua Kiskendo tetaplah tempat yang sangat indah. Bersihnya udara, sejuknya hawa serta ramahnya warga cukup membuatnya jadi istimewa.&lt;br /&gt;Tempat itu memang bukan tempat legenda para dewa, akan tetapi seorang manusia dan dewi dari kahyangan pernah memimpin disana bersama legenda Ramayana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Robby Syahputra&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Yogyakarta April 23rd 2008&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6791496379964808480-7298955293489896258?l=www.robbysyahputra.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/feeds/7298955293489896258/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/09/lidah-siluman-kerbau-di-gua-kiskendo.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/7298955293489896258'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6791496379964808480/posts/default/7298955293489896258'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.robbysyahputra.co.cc/2009/09/lidah-siluman-kerbau-di-gua-kiskendo.html' title='Lidah Siluman Kerbau di Gua Kiskendo'/><author><name>Historical Legend</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01701636558006735668</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
